
Subuh itu Rania terlihat sudah berdandan rapih dan cantik. Bukan akan pergi, tapi akan menyambut kedatangan Neneknya. Katanya akan sampai beberapa menit lagi, Rania pun memutuskan menunggu di depan gerbang. Padahal subuh itu angin sangat dingin, tapi tidak Rania hiraukan sanking terlalu bersemangat.
Tin!
Suara klakson mobil mengagetkan nya, saat menoleh terlihat beberapa yang turun. Tetapi yang paling menarik perhatian adalah Neneknya, Rania pun langsung mendekat dan menghambur memeluknya. Keduanya tidak bisa menahan rasa haru sampai menangis, merasa senang akhirnya bisa bertemu lagi.
"Nenek hiks, aku kangen banget sama Nenek," ucap Rania di sela isakannya.
"Iya nak, Nenek juga kangen banget sama kamu." Neneknya lalu meregangkan pelukan sambil merangkum wajahnya, "Kamu semakin cantik dan berisi ya, apa kamu bahagia?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, Rania hanya bisa tersenyum saja karena tidak tahu sendiri dengan perasaannya apakah Ia bahagia atau tidak. Rania lalu menoleh pada dua orang, mereka adalah tetangganya di desa yang mengajak Neneknya untuk menebeng.
"Neng Rania, bagaimana kabar kamu?" tanya si Ibu setelah Rania menyalami tangannya.
"Baik Bu, Ibu sama Bapak gimana?" tanya Rania balik.
"Kami baik," jawab mereka serentak.
"Wah Ibu gak nyangka kamu tinggal di rumah besar dan mewah begini, kamu benar-benar beruntung Rania bisa menikah dengan Candra," puji si Ibu sambil melirik rumahnya dengan tatapan berbinar.
"Candra juga beruntung, Rania ini kan cantik dan baik," sahut suaminya yang tidak ingin menyinggung perasaan perempuan muda itu.
"Hehe iya, Sama-sama beruntung lah."
Rania tersenyum tipis, "Ibu sama Bapak mau masuk dulu?" tawarnya berbaik hati. Tidak enak juga membiarkan mereka di luar, setidaknya singgah sebentar sebagai tanda hormat.
"Sebenarnya kami ingin, tapi jadwal operasi tinggal sebentar lagi dan kami harus tiba di sana secepatnya."
"Begitu ya, semoga operasinya lancar ya Pak," ucap Rania.
"Iya aamiin, makasih."
"Saya juga makasih banget sudah ajakin Nenek kesini, kami sudah lama tidak bertemu dan baru sekarang lagi, rasanya sangat senang." Rania bahkan tadi tidak berhenti menangis sanking terlalu senang.
"Sama-sama neng Rania, Nek Ima ini kan tetangga kami yang baik, jadi harus saling tolong menolong." Pasangan itu pun pamit pergi, mereka memang sangat ramah dan baik di desa.
Rania lalu mendekati Neneknya, "Ayo Nek kita masuk, aku bawain tasnya ya?"
"Ih jangan, kamu kan lagi hamil gak boleh bawa yang berat-berat," tolak Neneknya cepat.
__ADS_1
"Huft ya sudah."
Neneknya lalu menatap ke depan, "Ya Tuhan Rania, kamu beneran di istana ini?"
"Haha istana?"
"Iya, ini bukan rumah lagi. Terlalu besar dan mewah, Nenek sampai gak bisa kata-kata sanking terlalu bagusnya. "
Melihat reaksi Neneknya yang sangat berbinar dan gerpukau begitu, membuat Rania jadi merasa nostalgia sendiri karena reaksinya pun dulu begitu. Maklum saja mereka kan hanya orang biasa yang tinggal di rumah kayu, mendadak menjadi orang kaya itu sama sekali tidak pernah terpikirkan.
"Ayo masuk Nek," ucap Rania sambil membukakan pintu utama.
"Ya ampun bagus sekali rumahnya, wangi juga."
Neneknya tadi akan duduk di bawah karena katanya takut mengotori sofa yang terlihat mahal itu, tapi Rania tolak dan menyuruhnya duduk di atas. Neneknya terlalu berlebihan, membuat Rania jadi tidak tega sendiri. Rania lalu ke dapur untuk membawakan air minum.
"Minum dulu Nek, pasti capek banget ya diperjalanan?" tanya Rania sambil duduk di sebelahnya.
"Iya capek, Nenek juga sempat mabuk. Tapi melihat kamu yang terlihat sehat dan tinggal di rumah sebagus ini, buat Nenek jadi agak baikkan." Neneknya lalu mengusap perutnya, "Sekarang sudah berapa bulan?"
"Sudah lima bulan, perutnya udah mulai membesar. Aku juga makin nambah berat badan, pipi aku jadi tembem," keluh Rania sambil memegang pipinya.
"Iya Nek."
"Lalu dimana suami kamu? Nenek belum lihat dia."
"Kayanya dia masih tidur."
"Ya sudah deh gak papa, Nenek juga gak mau ganggu."
Masalahnya Candra tidak tidur di kamarnya, masa saja Rania ke atas dan dengan selancangnya masuk ke kamar Candra dan Livia untuk membangunkan karena ada Neneknya. Rania tidak seberani itu, Ia juga merasa segan.
"Nenek mau lama kan di sini?" tanya Rania penuh harap.
"Enggak, Nenek akan ikut pulang lagi sama Pak Ando," jawab Neneknya.
Rania mengerucutkan bibir, "Memangnya kapan mereka pulang lagi?"
"Katanya lima hari lagi, Pak Ando harus ngeringin dulu bekas operasi dan istirahat di rumah anaknya."
__ADS_1
"Lima hari ya, lumayan lah." Selama itu, Rania janji akan memanfaatkan waktu dengan baik bersama Neneknya ini, kalau bisa ingin sekali Ia ajak jalan-jalan juga keliling Jakarta.
"Ayo Nek aku anter ke kamar Nenek, Nenek pasti capek butuh istirahat," ajak Rania.
"Nenek gak papa kok." Walaupun wajahnya agak pucat, tapi Neneknya berdalih baik-baik saja dan efek mabuk lama di perjalanan.
Semalam Rania juga sudah membicarakan ini dengan Candra, pria itu juga membolehkan Neneknya tidur di kamar tamu yang kebetulan tidak jauh dari kamarnya. Rania sebenarnya agak malu mengajak Neneknya ke rumah ini, takut mengganggu Candra maupun Livia yang pemilik asli, tapi Ia juga senang Neneknya datang kesini.
"Nanti kita sarapan bareng ya, sekitar jam setengah tujuhan," ucap Rania pada Neneknya.
"Iya sayang, Nenek juga pengen santai dulu sebentar hilangin mabuk."
"Apa Nenek butuh obat?"
"Boleh deh kalau ada, biar rasa pusingnya juga hilang."
"Ya sudah sebentar, aku bawain obat dulu ya." Rania pun beranjak keluar kamar mencari kotak obat. Tetapi dari tangga terlihat seseorang yang turun, itu Candra.
"Kamu selalu rajin ya pagi-pagi." Itulah sapaan pertama yang Candra katakan pada istri keduanya.
"Mas, Nenek sudah datang."
"Oh ya? Lalu dimana sekarang?"
"Katanya dia ingin istirahat sebentar di kamar tamu, pusing efek mabuk perjalanan," jawab Rania.
"Ya sudah kita temui Nenek dulu, aku harus menyapa dia."
"Iya sekalian aku juga mau ambilin obat untuk Nenek."
Rasanya Candra gugup sekali akan bertemu Nenek Ima, mungkin karena ini di rumahnya dan khawatir banyak rahasianya yang terbongkar oleh wanita paruh baya itu. Tetapi dari pada gugup, Candra harus bisa bersikap tenang agar tidak terlihat mencurigakan.
"Ayo Mas," ajak Rania yang sudah membawa obatnya dan segelas air mineral.
"Iya."
"Kak Livia sudah bangun?" tanya Rania.
"Belum, dia selalu bangun lebih siang. Tidak tahu apa hari ini akan kerja atau tidak." Sepertinya nanti Candra sebelum berangkat ke kantor harus mengobrol dulu dengan Livia, memperingati istrinya itu untuk tidak bersikap ceroboh.
__ADS_1