
Senyuman Candra nengembang melihat seorang wanita paruh baya yang sedang fokus menyulam di sofa kesayangannya. Menyadari kehadirannya, wanita itu mengalihkan pandangan sambil memperbaiki letak kaca matanya.
"Sudah malam, kenapa masih menyulam?" tanya Candra menghampiri. Pria itu lalu menekuk kedua kalinya agar lebih rendah, lalu menyalami tangan kanan Omanya itu.
"Kamu kan tahu sendiri hobi Oma itu menyulam, setiap hari Oma selalu habiskan waktu di sini agar tidak bosan," sahut Omanya sambil mengusap kepalanya lembut, "Jam berapa kamu sampai?"
"Barusan."
"Lalu dimana dia? Kamu kesini pasti mau mengenalkan dia pada Oma, kan?" Dia di sini sudah pasti istri kedua Candra.
"Dia ketiduran di perjalanan, aku tidak tega membangunkannya, apalagi kan dia sedang hamil jadi sepertinya kelelahan di jalan."
Omanya mengangguk mengerti, "Oma gak nyangka kamu se perhatian itu pada dia, apa kamu memang jatuh cinta kedua kalinya pada perempuan selain Livia?" tanyanya dengan tatapan dalam.
Candra terlihat menghela nafasnya, "Aku tidak tahu, rasanya campur aduk sekali," gumamnya pelan.
"Lalu bagaimana perasaan kamu saat akhirnya akan memiliki anak?" Omanya memilih mengalihkan topik tadi, tidak tega melihat wajah tertekan Candra.
"Tentu saja senang," jawab Candra cepat sambol tersenyum. Ia kan sudah menanti waktu ini dari lama, dan doanya seperti baru terkabul sekarang.
"Oma bisa melihatnya, tapi.. Sayang sekali ya bukan dari Livia." Terlihat senyuman getir di bibir wanita paruh baya itu.
Candra juga sangat menyayangkan itu, tapi Ia pun tahu alasan istri pertamanya itu tidak bisa memberikannya keturunan karena mandul. Jadi maksudnya Candra memilih menikah kedua kali agar memiliki keturunan? Tetapi kan Candra juga tidak tahu kenapa Ia sampai masuk dalam hubungan yang rumit ini. Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi.
"Bagaimana kabar Oma? Maaf ya aku baru kesini lagi." Candra menunjukan wajah tidak enaknya, padahal Omanya itu selalu menawarkan untuk datang.
__ADS_1
"Oma baik-baik saja, tapi ya Oma selalu kesepian. Tidak papa, kamu kan sibuk urusin usaha keluarga." Malahan Omanya itu terlihat bangga kepada Candra karena bisa bertanggung jawab mengambil alih usaha keluarganya yang turun temurun itu.
"Syukurlah kalau Oma sehat."
"Apa ada kendala atau masalah di perusahaan?" tanya Omanya.
"Tidak ada, semua baik-baik saja kok."
"Kamu jangan terlalu sibuk dan kelelahan ya, nanti sakit."
"Gak papa, aku sudah biasa dan akan baik-baik saja." Candra selalu mengatur pola hidupnya, jadi Ia pun jarang terkena sakit.
Candra lalu menggandeng tangan Amara keluar dari ruang santai itu dan akan mengantarkannya ke kamar utama. Sudah malam dan Omanya ini jangan sampai tidur terlalu larut. Tidak lupa Candra memberikan vitamin yang biasa Omanya itu minum setiap hari. Setelahnya Candra kembali ke kamarnya dengan Rania, terlihat perempuan itu masih terlelap nyaman.
"Dasar dia itu kalau tidur pasti nyenyak sekali." Batin Candra sambil tersenyum.
"Sudahlah tidak usah dipikirkan," dengus Candra mencoba mengenyahkan pikirannya. Ia pun tidur dan melupakan jika pria itu belum sempat memberi kabar Livia jika dirinya sudah sampai dengan selamat.
Besok paginya Rania bangun lebih awal saat suara kumandang adzan terdengar. Ia mengucek matanya lalu memfokuskan pandangan, merasa heran karena tertidur di kamar asing. Saat menoleh ke samping terlihat Candra, tanpa sadar menghela nafas lega karena dirinya tidak sendirian di tempat asing ini.
"Apa jangan-jangan ini di rumah Omanya Mas Candra ya? Sepertinya aku ketiduran dari saat sampai," gumam Rania memikirkannya.
Rania lalu turun dari ranjangnya dan memperhatikan kamar yang cukup luas dengan desain zaman dulu tapi sangat rapih dan masih bagus. Ia jadi teringat di desa, tapi tentu rumah kayu di sini lebih mewah, berbeda dengan rumahnya dulu yang tidak ada bandingannya. Rania dengan memberanikan diri keluar kamar untuk melihat sekitar, suasana di sana terasa sepi.
"Apa kamu yang bernama Rania?"
__ADS_1
Suara di balik punggungnya membuat Rania perlahan menoleh, tapi Ia terpekik kencang terkejut melihat seorang wanita paruh baya yang memakai mukena putih sambil memegang sebuah lilin. Rania meringis karena dirinya tanpa sadar mundur sampai punggungnya pun menabrak keras dinding.
"Astaga nak hati-hati," ucap wanita itu terkejut sendiri, "Kamu kenapa?"
Rania menggeleng sambil meringis menahan malu, "Saya tidak apa-apa, maaf," cicitnya.
Ini benar-benar memalukan, reaksinya terlalu berlebihan dan Rania jadi khawatir menyinggung perasaan wanita tua itu. Bagaimana tidak terkejut, saat sedang berjalan sendirian di suasana subuh yang masih gelap malah menemukan wanita yang memakai serba putih, Rania pikir tadi hantu.
"Tenang ya, saya ini Omanya Candra. Jadi apa benar kamu Rania?"
Ternyata benar dugaan Rania, Ia pun melengkungkan senyumannya, "Iya benar saya Rania Ayunindya, senang bertemu dengan Oma. Maaf tadi saya sedikit terkejut, jadi--"
"Iya tidak papa, maaf Oma juga ngagetin kamu. Oma selesai sembahyang, kamu rajin juga bangun jam segini."
"Iya saya juga biasanya bangun saat adzan subuh begini. Tapi saya kaget pas bangun ada di tempat asing, terus saya keluar kamar aja lihat-lihat. Maaf kalau saya tidak sopan." Rania jadi merasa tidak enak karena bersikap begitu di rumah orang lain.
Terlihat Amara tersenyum tipis melihat keseganan perempuan muda itu, "Anggap saja ini rumah sendiri, sekarang kan kamu juga sudah masuk keluarga kami."
Rania tidak menduga saat mendengar itu, membuatnya jadi senang sendiri. Ia langsung bisa menebak jika sifat Omanya Candra ini sangat baik dan ramah, buktinya pada pertemuan pertama pun langsung nyambung mengobrol. Ke khawatiran Rania langsung sirna, Ia sangat senang bisa diterima begitu.
"Sebenarnya saya sedang cari kamar mandi, saya bingung ada dimana," ucap Rania malu-malu.
Amira terlihat terkekeh kecil, "Kasihan kamu, Candra masih tidur ya?"
"Iya Mas Candra masih tidur, saya gak enak bangunin."
__ADS_1
"Ya sudah yuk biar Oma antar, memang di kamar Candra tidak ada kamar mandi. Di rumah ini hanya ada dua kamar mandi, nanti Oma juga ajak kamu keliling rumah ya nanti siang biar gak pusing," ajak Amira sambil merangkul bahu Rania.
Rania tentu saja senang mendengar itu, dadanya seperti sedang berbunga-bunga mendapatkan perhatian dan sikap lembut dari Oma Candra. Semoga saja Omanya itu pun menyukai dirinya, Rania akan berusaha bersikap dengan baik.