Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Seperti Tidak Meyakinkan


__ADS_3

Besok paginya Rania sedang membantu sang Nenek berkemas yang akan pulang ke desa. Rasanya sedih dan berat sekali karena mereka akan berpisah lagi, inginnya Neneknya itu tinggal saja menetap di sini. Tetapi semua itu sudah pasti hanya angan-angan saja.


"Katanya mereka lagi di jalan, sebentar lagi juga kesini," ucap Rania memberitahu.


"Ya sudah kita tunggu di depan aja," ajak Neneknya.


Baru saja mereka akan keluar rumah, terlihat Candra yang berjalan cepat menghampiri. Pria itu pun dengan sigap mengambil alih tas besar di tangan Nenek Ima, lalu ikut mengantar ke depan. Untuk beberapa saat suasana di sana terasa canggung.


"Terima kasih ya sudah mengizinkan Nenek tinggal di sini beberapa hari," ucapnya pada Candra.


"Tidak apa Nek, pintu rumah selalu terbuka untuk Nenek. Rania mungkin masih ingin Nenek di sini, kenapa buru-buru pulang?"


Ima menatap lembut cucunya, "Nenek juga sebenarnya tidak mau lagi berpisah dengan Rania, tapi kan dia sekarang sudah punya kehidupan sendiri. Berbakti pada suaminya, Nenek tidak bisa ikut campur."


Candra mengangguk pelan. Pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jasnya, lalu memberikan di telapak tangan Nenek Ima. Wanita itu terlihat terkejut melihat amplop yang sudah pasti berisi uang, tapi Candra tahan.


"Apa ini nak Candra?" tanyanya.


"Untuk Nenek," jawabnya sambil tersenyum.


"Tidak usah nak Candra, ini pasti banyak sekali." Ima jadi merasa segan, Candra ini memang sering sekali setiap bulan mengirimkan uang padanya.


"Tidak apa nek, sebagai simpanan saja takut kalau misal Nenek butuh. Di umur seperti ini lebih baik Nenek berhenti kerja saja, istirahat dan nikmati hari tua. Untuk masalah kebutuhan, biar aku yang bantu ya?" bujuk Candra.


Ima terlihat menghela nadasnya berat, rasanya campur aduk sekali pada Candra itu. Memang Ia yakin Candra adalah orang yang baik, selalu membantunya. Tetapi di sisi lain Ima masih kecewa karena banyak kebohongan dari pria itu.


"Terima kasih ya nak Candra," ucap Ima tulus.


"Tidak, aku yang seharusnya terima kasih pada Nenek. Maaf juga untuk semuanya, Lagi-lagi aku mengecewakan Nenek dan Rania," kata Candra sambil menahan rasa malu.


Ima lalu menepuk bahu pria itu, "Nak Candra, Nenek titip Rania ya? Tolong jaga dia dan perlakukan dia dengan baik. Nenek pegang janji nak Candra, tolong jangan kecewakan Nenek lagi."

__ADS_1


"Iya Nek, aku janji. Terima kasih."


Kedua orang itu pun berpelukan, melampiaskan semua perasaan emosi yang dirasakan masing-masing. Mungkin sekarang Candra masih mendapat maaf, tapi entahlah jika sampai rahasia lain terbongkar, mati lah Ia.


Suara klakson mobil di sebelah mengalihkan perhatian mereka, ternyata itu Bu Laras dengan keluarganya. Mereka turun untuk menyapa Candra dan Rania dahulu, mereka pun menyambutnya dengan ramah dan baik.


"Saya kira Nek Ima gak akan ikut pulang lagi, pasti betah ya Nek di sini?" tanya Bu Laras menggoda. Berpikir siapa juga yang tidak betah tinggal di rumah mewah begini.


"Iya betah, rumahnya juga bagus. Tapi sepertinya saya lebih cocok tinggal di rumah kayu, terasa lebih hangat," sahut Nenek Ima membuat yang lain tersenyum.


Sebelum masuk ke mobil, Ima kembali memeluk Rania. Hatinya berat sekali untuk pergi, merasa khawatir dengan keadaan cucunya ini setelah Ia tinggalkan. Awalnya Ia merasa akan baik-baik saja, tapi setelah mengetahui rahasia itu hatinya jadi gundah.


"Jaga diri Nenek baik-baik ya. Makan yang teratur dan jangan kecapean," nasihat Rania perhatian.


"Iya kamu juga, jangan terlalu banyak pikiran ya?"


"Hm," angguk Rania.


"Kalau ada masalah atau sesuatu, cerita saja sama Nenek, jangan dipendam sendirian. Mengerti?"


Nenek Ima dan keluarga itu pun pamit pergi. Candra dan Rania di luar mengantarkan. Rania lalu tersentak saat pria itu merangkul bahunya, Ia berpikir mungkin saja Candra hanya ingin terlihat romantis di hadapan banyak orang. Rania hanya tersenyum kecut tidak senang sama sekali.


Setelah mobil itu pergi, benar saja rangkulan Candra pun turun. Pria itu lalu mengajaknya masuk untuk sarapan, Rania hanya mengangguk mengiyakan. Terdiam beberapa saat di luar, setelah merasa hatinya lebih baik Rania pun baru masuk.


"Tumben kamu bangun pagi," ucap Candra pada Livia yang duduk di depannya.


"Ada meeting mendadak, aku juga mau bilang sesuatu kalau besok aku ada kerjaan di luar kota," jawab Livia masih fokus makan.


"Berapa lama?"


"Seminggu."

__ADS_1


"Loh kenapa lama banget?" Candra merasa tidak terima begitu saja.


"Kamu kaya gak tahu aja kerjaan aku, lagian ini bukan pertama kali."


Candra menghela nafasnya hanya bisa pasrah saja, Livia itu memang sibuk jadi mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Sebenarnya Candra inginnya Livia itu menjadi Ibu rumah tangga saja, tapi selalu menolak dan egonya sangat tinggi. Menurutnya kan lebih enak diam di rumah, seperti Rania.


"Rania kenapa diam di sana saja? Ayo duduk," tegur Livia yang menyadari lebih awal.


"Oh iya." Rania pun dengan perasaan sedikit gugup ikut bergabung di meja makan.


Rasanya Rania selalu tidak nyaman kalau sudah berada di antara Candra dan Livia. Tadi sebenarnya ingin pergi dan memilih sarapan nanti saja, tapi Livia lebih dahulu sadar jadi Rania pun terpaksa bergabung.


"Lain kali kalau misal ada kerjaan lama di luar kota, bilangnya jangan mendadak begini," kata Candra kembali membuka suara.


"Iya, aku kan lupa. Emangnya kenapa?"


"Ya gak papa, cuman aku kaget aja bakal ditinggal."


Livia menarik sebelah sudut bibirnya, "Tenang aja, lagian kamu juga gak akan kesepian kok di rumah. Kan ada Rania. Inget, istri kamu itu ada dua."


Entah apa maksud perkataan Livia itu, tapi Candra maupun Rania merasa tersinggung. Livia bukan bermaksud menjelekan, kan? Memang sulit sekali menebak kepribadian perempuan itu, ekspresi wajahnya juga sulit ditebak.


"Rania juga kan selalu layanin kamu, dia kayanya lebih tahu tugas istri dari pada aku," lanjut Livia.


Candra berdehem pelan, "Sudah jangan dilanjutkan," tegur nya. Tidak enak sekali suasananya, membuat Candra tercekat sendiri.


"Memang benar, kan? Bukannya Rania ini tipe istri yang kamu idamkan selama ini? Dia penurut, gak suka membantah, Ibu rumah tangga bahkan sekarang lagi hamil anak kamu."


Livia tersenyum kecut merasa patah hati sendiri setelah mengatakan itu. Dari sana saja bisa disimpulkan jika Rania adalah idaman suaminya.


Mungkin yang dikatakan Livia memang benar, tapi tidak ada yang tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya. Melihat Livia yang beranjak akan pergi, membuat Candra pun ikut berdiri dan segera menahan tangannya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" tanyanya.


"Aku mau berangkat kerja lah, jangan lebay deh, aku gak ngambek kok," ucap Livia sambil tersenyum sinis. Perempuan itu pun memutar tangannya dari cengkraman Candra, setelahnya melenggang pergi.


__ADS_2