
Candra yang tahu kejadian buruk yang menimpa Rania, langsung buru-buru pulang dari pertemuannya dengan temannya itu. Sepanjang perjalanan terus dilanda perasaan khawatir, detak jantungnya bahkan sangat cepat. Tetapi Candra mencoba tetap fokus menyetir karena tidak mau membahayakan dirinya sendiri.
"Rania?" teriak Candra sambil membuka pintu kamarnya dengan kasar. Melihat perempuan yang dicarinya itu duduk di atas ranjang bersama Livia, membuat Candra pun langsung mendekat.
"Mas sudah pulang?" tanya Rania sekedar basa-basi.
"Hah aku buru-buru pulang karena khawatir pas denger kabar kalau kamu hampir tenggelam." Candra bahkan masih berusaha mengatur nafasnya yang memburu.
"Mas tahu dari siapa?"
Sebelum Candra menjawab, Livia pun beranjak dari duduknya, "Ekhem aku permisi keluar, kalian pasti butuh waktu bicara." Rasanya tidak enak juga kalau di sana hanya diam sebagai penonton, jadi Livia memutuskan keluar.
Setelah pintu kamar tertutup dengan kepergian Livia, Candra pun beralih duduk di tempatnya tadi, "Livia yang telepon aku dan ngabarin ini, jadi benar?"
Kernyitan terlihat di kening Rania, penasaran kenapa Livia sampai mengabarkan kepada Candra? Tanpa bisa ditahan senyuman tipis terukir di bibir Rania, apakah perempuan itu pun sanking khawatir kepadanya sampai meminta Candra pulang cepat dan mengecek keadaannya? Baik sekali.
"I-iya Mas, aku kepeleset di dalam kolam ke yang lebih dalam," jawab Rania pelan sambil menatap Candra takut-takut.
"Astaga Rania, kamu ini kenapa bisa sih?" Candra mengusap wajahnya merasa frustasi sendiri, "Terus gimana lagi?"
"Aku sudah hati-hati kok renangnya, cuman di sisi kolam aja sambil pegangan. Tapi aku gak tahu kalau bagian kiri itu lebih dalam, jadi kaget dan pegangan langsung kelepas. Terus aku tiba-tiba udah ditengah kolam dan hampir tenggelam.
Tapi tiba-tiba ada yang narik tangan aku, dan ternyata itu Kak Livia. Aku benar-benar bersyukur waktu dia datang tepat waktu, sebelum aku kehabisan nafas dan tenggelam. Aku sampai nangis karena merasa sesak dan hampir tenggelam." Rania cukup jelas menceritakannya, tidak melebihkan juga.
"Apa Livia memang lagi di sana juga?" tanya Candra.
"Enggak, aku renang sendiri. Mungkin Kak Livia lagi kebetulan lewat, terus denger teriakan minta tolong aku."
Candra menghela nafasnya berat, "Kamu ini kenapa sih gak hati-hati banget? Kan waktu itu aku udah bilang, kalau mau berenang setidaknya harus ada yang nungguin," omelnya.
__ADS_1
"Maaf Mas, tapi aku juga sudah hati-hati kok." Rania menjadi ciut melihat ekspresi wajah garang suaminya itu.
"Ck tetap saja, musibah itu gak ada yang tahu. Kalau saja tadi Livia gak ada untuk nolongin kamu, gimana coba? Terus bayinya? Astaga." Candra sampai meremas rambutnya merasa khawatir sendiri dengan keadaan bayinya.
"Perut aku gak sakit kok Mas, kayanya bayinya juga gak papa."
"Enggak, kita harus pastiin sendiri. Ayo siap-siap, kita ke rumah sakit sekarang," ajak Candra sambil berdiri dari duduknya.
"Tapi--"
"Sudah cepat Rania, aku ini khawatir. Kan gak ada yang tahu, kita harus tanyain ke yang lebih ahli." Candra sampai berbicara dengan nada agak tinggi, merasa gemas saja melihat Rania itu.
"Ya sudah Mas, sebentar aku ganti baju dulu." Padahal Rania benar-benar tidak kenapa-napa, perutnya juga baik-baik saja. Tetapi melihat Candra yang se khawatir itu, membuatnya jadi segan membantah.
Walaupun sudah malam, tapi Candra tetap memutuskan pergi ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter spesial pribadinya, yang untungnya saja belum pulang. Candra memperhatikan Rania yang sedang diperiksa dan ditanyai banyak tentang keadaannya dengan perasaan gugup.
"Ah iya dokter, bagaimana saya gak khawatir dengar dia hampir tenggelam? Em jadi bagaimana keadaan bayi saya? Dia gak kenapa-napa, kan?"
"Tidak papa kok, tapi mungkin tadi bayinya pasti ikut kaget, cuman memang reaksinya tidak dirasakan Rania karena dia pun sedang panik. Saya sudah cek, dan kandungannya baik-baik saja," jelas si dokter.
Helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Candra, Ia lalu mengusap dadanya merasa lega saja mendengar jika bayinya tidak kenapa-napa, "Terima kasih ya dokter, maaf saya jadi halangin anda yang tadi mau pulang."
"Haha tidak papa, kalian kan pasien saya, jadi harus siap dong kapan saja dibutuhkan." Si dokter lalu memberitahu beberapa hal kepada Rania agar lebih ber hati-hati dan jangan ceroboh, karena khawatir kandungannya kenapa-napa.
Keduanya lalu keluar dari rumah sakit, dengan Rania yang duduk di kursi roda dan Candra yang mendorongnya dari belakang. Candra itu sangat berlebihan, padahal Rania bisa tuh jalan sendiri juga. Pria itu juga sampai membantunya mengangkat masuk ke dalam mobil, mereka pun pulang ke rumah.
"Denger ya tadi apa kata dokter," ucap Candra kembali memperingati.
"Iya Mas, aku tahu. Aku janji akan lebih hati-hati." Rania mengerucutkan bibirnya, memangnya Ia lupa apa? Bosan juga lama-lama terus diingati.
__ADS_1
"Aku pegang janji kamu, aku gak mau kejadian ini terulang. Apapun itu, pokoknya yang berbahaya, kamu harus hati-hati." Karena Candra tidak bisa ada terus di samping Rania, jadi meminta langsung pada perempuan itu untuk menjaga dirinya sendiri.
"Mas lebih khawatir sama aku atau bayinya?" tanya Rania tiba-tiba.
Candra menoleh sekilas, "Kenapa kamu tanya itu?"
"Hanya penasaran, jadi Mas lebih khawatir ke siapa?" Rania lalu tersenyum kecut, "Kayanya sudah jelas, kalau Mas lebih khawatir bayinya yang kenapa-napa ya?"
"Sama saja, bayi juga kan yang ada di perut kamu," sahut Candra masih fokus menyetir.
"Jadi kalau misal aku gak selamat, tapi bayinya yang selamat, Mas gak akan sesedih itu, kan?"
"Sudahlah Rania, kamu ini semakin ngaco saja bicaranya. Kenapa sih?"
Entahlah, Rania juga tidak tahu. Akhir-akhir ini merasa sensitif sekali dan cemburu pada semua orang, bahkan pada bayinya sendiri dan merasa Candra itu lebih menyayangi bayinya di banding dirinya. Apakah mungkin Rania sedang baby blues?
Sesampainya di rumah, Candra pun langsung meminta Rania istirahat. Setelahnya pria itu naik ke lantai atas menuju kamarnya, pandangannya langsung jatuh pada Livia yang sedang bermain ponsel di ranjang. Candra pun mendekat dan duduk di dekatnya.
"Makasih ya," ucapnya sambil menatap Livia dalam.
"Untuk apa? Karena aku tolongin orang-orang yang kamu sayang?"
"Kamu kok ngomongnya gitu?" Candra jadi merasa sedang diledek.
"Memang benar kok," ucap Livia acuh, "Sama-sama, tapi jangan lupa aku minta bayaran."
"Apa?" Candra terkejut sendiri mendengar itu, jadi Livia menolong Rania itu ada maksudnya?
Livia lalu menatap Candra sambil tersenyum sinis, "Aku sudah basah-basahan loh, padahal aku sudah dandan cantik mau pergi. Tapi aku bela-bela lompat ke air untuk nolongin Rania, lebih tepatnya khawatir bayinya yang kenapa-napa sih," ucapnya.
__ADS_1