
"Nenek lagi ngapain?" tanya Rania menghampiri Neneknya itu yang sedang duduk di sisi kolam ikan.
Ima menoleh, "Sudah bangun?"
"Hehe sudah, aku lama ya tidurnya?"
"Lumayan, namanya juga Ibu hamil." Ima lalu menarik tangan Rania untuk duduk di dekatnya, "Sebenarnya ada yang ingin Nenek tanyain sama kamu."
"Tanya apa?"
"Tadi pas kamu tidur siang, Nenek ketemu perempuan cantik. Nenek tanya aja siapa dia, namanya Livia dan dia katanya Kakak tiri Candra. Apa benar?"
Rania sampai tersentak mendengar itu, jadi Neneknya dan Livia sudah bertemu? Sayang sekali Rania tidak di sana. Tetapi ada hal yang mengganjal, kenapa Neneknya menyebut jika Livia itu adalah Kakak tirinya Candra?
"Rania ayo jawab, kenapa diam saja?" tegur Neneknya sambil menepuk pelan tangannya. Tidak tahukah cucunya itu jika dirinya dari tadi sangat penasaran?
"Hah? I-iya, jadi Nenek sudah ketemu sama Kak Livia?" Rania bertanya balik, hanya harus ber hati-hati berbicara saja.
"Iya sudah, dan Nenek bingung pas dia bilang Kakak tirinya nak Candra. Bukannya kamu yang bilang sendiri kalau satu-satunya keluarga Candra itu hanya Omanya saja yang di Bandung?"
Rania menelan ludahnya susah payah merasa bingung sendiri harus menjawab bagaimana. Apakah Ia lanjutkan saja berbohong ya? Tetapi Rania sangat tidak enak, apalagi dirinya sedang hamil, takut pamali.
"Maksudnya keluarga kandung, kalau keluarga tiri ya itu Kak Livia." Rania langsung memejamkan matanya merasa tidak enak sudah berbohong begitu.
"Terus kenapa Kakaknya itu pas nikahan gak ke desa hadir di acara penting Candra?" tanya Nenek bingung.
"Em dia.. Dia lagi di luar negeri katanya, ada kerjaan." Lagi-lagi Rania malah melanjutkan berbohong, skenarionya ini tidak buruk, kan?
"Oh gitu, pantesan aja. Katanya Livia juga sudah menikah ya?"
"Iya sudah." Kalau jawaban yang satu ini Rania tidak ragu, karena memang kenyataannya suaminya kan suami Livia juga.
"Terus dimana suaminya? Nenek harus ketemu dia juga."
"Nanti saja deh Nek, aku juga bingung," ucap Rania sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, harus membuat skenario seperti apalagi?
__ADS_1
"Bingung gimana?"
Rania menggeleng sambil tersenyum kikuk, "Mending sekarang Nenek mandi, sebentar lagi juga kayanya Mas Candra pulang kerja terus kita makan malam." Rania sengaja mengalihkan obrolan tidak mau melanjutkan.
"Ya sudah kalau gitu, mungkin nanti Nenek bisa tanyain aja sama Livia langsung. Dia kelihatan ramah dan baik, Nenek senang." Setelah mengatakan itu, Ima pun beranjak pergi.
Rania terdiam beberapa saat, Livia ramah pada Neneknya? Benarkah? Rania pikir Livia akan bersikap dingin dan ketus pada Neneknya, tapi ternyata tidak kalau dilihat dari reaksi Neneknya tadi. Rania semakin yakin jika Livia itu sebenarnya memang baik, hanya saja selalu menjaga ekspresi di depannya.
Saat di tangga Rania malah tidak sengaja bertemu dengan Livia, kebetulan sekali. Rania pun malah mengikuti Livia sampai ke dapur, Rania gugup sekali ingin menanyakan sesuatu tentang Neneknya. Semoga saja Livia tidak terlalu dingin menanggapinya.
"Ada apa?" tanya Livia yang sadar di perhatikan Rania terus.
"Kak Livia tadi sudah bertemu Nenek saya ya?"
"Hm."
"Em apa Kak Livia--"
"Jangan khawatir, aku tidak bilang kok kalau aku istri pertama Candra," sela Livia.
Padahal bukan itu yang ingin Rania tanyakan, Livia salah paham, "Maaf ya Kak kalau semisal Nenek saya ganggu untuk beberapa hari ini di sini."
"Kak Livia, kenapa Kakak gak jujur?" tanya Rania memberanikan diri.
Livia lalu meliriknya dingin, "Kalau aku jujur, Candra pasti akan gila."
"Maaf?"
"Dia itu sampai memohon pada aku untuk tidak membocorkan rahasianya itu pada Nenek kamu. Sebenarnya aku tidak mau menuruti dia, tapi aku juga malas kalau ribut dan saling mendiami," ucap Livia sambil tersenyum sinis.
"Aku gak tahu harus bilang apa sama Kakak." Rania menghela nafasnya merasa terbebani. Masa saja Ia bilang makasih karena Livia sudah bohong, nanti Rania dianggap tidak punya perasaan, Livia juga kan istri sahnya Candra.
"Memangnya berapa lama Nenek kamu itu di sini?" tanya Livia.
"Sekitar lima hari, tidak papa, kan Kak?"
__ADS_1
"Terserah." Hanya itu saja yang Livia katakan, tidak mau rasanya banyak bicara saat dengan Rania karena gengsi.
"Kak maaf ya."
"Apalagi?" Livia merasa dari tadi Rania itu terus minta maaf.
"Maaf karena Kakak harus pura-pura begini, Kakak harus menyembunyikan status Kakak yang juga istri Mas Candra. Aku benar-benar merasa tidak enak, sekali lagi maaf."
Livia menatap Rania dalam, bisa melihat sorot mata bersalah itu yang mampu menggetarkan hatinya. Padahal bukan Rania yang meminta Livia berbohong begini, tapi kenapa perempuan itu yang meminta maaf? Livia rasanya ingin tertawa sedih, Rania selalu terlihat segan dan menyalahkan dirinya sendiri.
"Bagaimana kalau misal Nenek kamu itu tahu kalau saya istri pertama Candra?" tanya Livia penasaran.
"Aku tidak tahu, tapi Nenek pasti akan marah. Aku tidak tega melihat dia menangis, aku tidak mau membuat dia kecewa lagi," jawab Rania pelan. Kembali Ia ingat kejadian dulu yang sudah mempermalukan dan mengecewakan Neneknya itu, rasanya Rania tidak mau lagi mengulangnya.
"Ya sudah, untung saja tadi aku berbohong."
Rania menatap Livia dengan perasaan campur aduk nya. Ia tidak tahu apa yang dirasakan perempuan itu harus berpura-pura begini, hanya demi menyembunyikan rahasia besar Candra pada Neneknya. Tetapi jika Rania ada di posisi Livia, Ia akan sedih dan sakit hati. Apakah Livia pun merasakan seperti itu?
"Eh ada nak Livia." Terlihat Neneknya baru datang ke dapur, membuat keheningan mereka berhenti.
Livia mengubah senyumannya menjadi lebih ramah pada wanita paruh baya itu, "Nenek sudah mau makan?" tanyanya.
"Nanti saja bersama, nak Livia juga makan bareng, kan?"
"Hah? Em tidak tahu." Ya karena Livia kan jarang makan bersama dengan Candra dan Rania, suasananya itu sangat tidak nyaman baginya.
"Kenapa? Apa karena ada Nenek?"
"Bukan kok," jawab Livia cepat takut salah paham, "Iya nanti kita makan malam bareng, Candra juga paling sebentar lagi pulang. "
"Oh iya."
"Kalau gitu aku ke kamar dulu ya Nek, nanti kalau mau makan malam pasti ke bawah kok." Livia pun pamit ke atas, meninggalkan dua orang itu.
Rania bisa bernafas lega, perasaan sesak di dadanya perlahan menguap. Ternyata benar kata Neneknya jika Livia itu sangat ramah, Rania sendiri yang melihatnya sempat tidak percaya. Kenapa Livia tidak ketus pada Neneknya? Melampiaskan perasaan kekesalan kepadanya yang sudah menjadi orang kedua di pernikahan nya Tetapi Livia kan orang baik, jadi tidak mungkin seperti itu.
__ADS_1
"Tunggu ya Nek, sebentar lagi Mas Candra pulang kok," ucap Rania.
"Iya tidak apa, kita tunggu saja." Tidak enak juga kalau makan lebih dulu di rumah orang lain, walaupun di sana Ia yang paling sepuh.