
Sesampainya di rumah Cynthia, mereka langsung turun dari mobil. Keadaan rumah itu seperti biasa selalu sepi, tapi Daffin yakin Cynthia ada di rumah. Terlebih dahulu Daffin mengetuk pintu.
Ceklek!
"Loh Daffin?" tanya Citra terkejut melihat kehadiran pria itu.
"Selamat siang Tante, em apa Cynthia nya ada?" tanya Daffin langsung pada tujuan utama.
"Ada kok, tapi bukannya hari ini gak ada kelas ya?"
"Iya memang, saya kesini bukan untuk itu, tapi saya mau ajak Cynthia jalan-jalan."
Terlihat kedua mata Citra berbinar saat mendengar itu, "Oh ya sudah ayo masuk dulu," ajaknya mempersilahkan.
Saat Daffin dan adiknya masuk, ternyata di ruang tamu sedang ada tamu. Seorang lelaki dewasa yang memakai setelan jas rapih, mereka sempat membalas senyuman ramah satu-sama lain.
"Sebentar ya Tante panggilkan dulu Cynthia, nyuruh dia untuk siap-siap," kata Citra, lalu Ia pun pergi menuju kamar anaknya.
Daffin dan Devina ikut duduk di sofa menunggu. Suasana di sana terlihat canggung sekali, Daffin juga tidak tahu harus memulai obrolan apa dengan lelaki itu, tapi diam terus juga tidak nyaman.
"Kamu ini siapanya Cynthia? Bukan pacar dia kan?" tanya lelaki itu yang memulai.
Daffin terkejut sendiri mendengar pertanyaan itu, "Hah? Bukan kok, saya Daffin, teman se Kampus Cynthia," jawabnya.
"Oh syukurlah kalau begitu, karena Cynthia itu calon istri saya," katanya percaya diri.
Kedua mata Daffin berkedip pelan sedikit terkejut mendengar itu. Jadi Cynthia sudah punya calon suami ya? Daffin tidak menyangka, karena ini juga awal pertemuannya dengan lelaki itu.
Kalau di perhatikan lagi, sepertinya pria itu lebih dewasa darinya, apalagi memakai baju kantor. Pantas saja tadi di depan pun ada mobil, sepertinya milik lelaki itu.
"Memangnya kamu mau ajak Cynthia kemana? Bukannya dia sedang sakit ya? Tidak bisa berjalan, " tanyanya kepo.
"Saya mau ajak dia jalan-jalan saja, mungkin saja Cynthia bosan di rumah. Tapi tidak berdua kok, adik saya juga ikut," jawab Daffin. Ia jadi khawatir membuat salah paham.
__ADS_1
"Titip dia ya, jaga dia dengan baik. Kamu pasti teman baik Cynthia kan?"
Dengan pelan Daffin pun mengangguk, Ia akan berusaha menjaga Cynthia dengan baik. Daffin sempat mengira calon suami Cynthia itu akan marah dan tidak memberikan izin, tapi ternyata tidak.
Bukannya seharusnya bersikap waspada ya, apalagi mereka berbeda jenis kelamin. Jangan salah paham, Daffin bukan berarti sedang merencanakan hubungan terlarang.
"Nah itu Daffin masih nungguin kamu, kalian mau berangkat sekarang?" Citra sudah kembali sambil mendorong kursi roda Cynthia.
Daffin dan Devina pun berdiri dari duduknya, "Iya Tante, tapi memangnya tidak apa? Bukannya Cynthia sedang ada tamu ya?"
"Gak papa kok, lagian gue bosen banget di rumah terus dari tadi." Cynthia lah yang menjawab.
"Ya sudah kalau begitu kami permisi dulu," pamit Daffin.
Tadinya lelaki bernama Antony itu yang akan mendorong Cynthia ke luar rumah, tapi Cynthia menolak dan lebih meminta pada Daffin. Daffin pun melakukan saja, walau dengan perasaan tidak enak.
Kini Devina yang duduk di kursi belakang, sedangkan Cynthia yang duduk di depan. Daffin pun segera menjalankan mobilnya pergi dari sana dengan kecepatan sedang.
"Kok gak bilang-bilang mau ke sini? Terus kenapa juga malah ngajak gue jalan-jalan?" tanya Cynthia langsung.
"Bukan gitu, tapi kok sampai kepikiran buat ajak gue jalan-jalan?"
Daffin lalu melirik Devina lewat cermin kecil di atas, "Devina yang pengen jalan-jalan, aku pikir kalau ngajak kamu bakalan lebih ramai."
Tetapi Cynthia malah tertawa, "Kok ramai sih? Bukannya kalau ngajak gue malah jadi repotin lo ya?"
"Enggak kok, aku gak pernah mikir gitu," bantah Daffin.
Cynthia tersenyum kecil merasa senang mendengar itu. Rasanya seperti mimpi saat Daffin tiba-tiba ke rumah dan mengajaknya jalan-jalan, sikap pria itu sangat baik menurutnya.
Padahalkan jika tidak ada kegiatan seperti kuliah, Daffin bisa saja tidak usah memperhatikannya begini dan menghabiskan waktu bersenang-senang sendiri tanpa dirinya yang setiap hari hanya bisa merepotkan.
"Jadi itu adik kamu? Namanya siapa?" tanya Cynthia ikut melihat anak perempuan remaja itu di belakang.
__ADS_1
"Namanya Devina, sekarang umurnya lima belas tahun, sebentar lagi juga mau masuk SMA," jawab Daffin.
"Dia cantik, gue yakin pasti banyak cowok yang suka sama adik lo," celetuk Cynthia.
Devina yang mendengar itu hanya tersenyum-senyum, merasa senang dipuji seperti itu. Ingin sekali membalas jika teman perempuan Kakaknya juga cantik, malahan sangat cantik.
"Dia lagi liburan di Jakarta, nanti kalau sebentar lagi mau masuk sekolah juga balik lagi ke Kampung," kata Daffin sambil tetap fokus menyetir.
"Gue kira dia juga ikut pindah ke sini bareng lo," sahut Cynthia.
"Enggak, tapi mungkin pas Kuliah dia bakalan di sini. Aku juga mungkin sudah kerja di perusahaan Papa, jadi bisa sekalian jagain dia."
"Hm emang Kakak yang baik ya," ujar Cynthia yang entah apa maksudnya.
Setelah berputar-putar akhirnya mereka memutuskan main di taman bunga saja. Kebetulan sekali bunga di sana sedang mekar dan membuat suasana semakin indah.
Di hari libur ini pun cukup banyak anak-anak yang bermain di sana. Untungnya ukuran taman itu lumayan luas, jadi tidak sampai berhimpitan.
"Di desa kamu pasti lebih banyak bunganya ya?" tanya Cynthia pada Devina, mulai mengajak mengobrol.
"Lumayan Kak, tapi di sana kan bunga liar jadi gak terawat. Kalau di sini bunganya tumbuh menyatu, jadi kelihatan lebih bagus," jawab Devina.
"Sebelumnya kamu pernah ke Jakarta? "
"Pernah tapi dulu, sekarang baru kesini lagi. Jadi belum banyak tempat wisata dan bagus yang belum aku kunjungi." Devina menjawab dengan riangnya.
"Tenang aja, Kakak kamu ini pasti bakalan ajakin kamu jalan-jalan," kata Cynthia sambil melirik Daffin yang sedang mendorong kursi rodanya.
Devina mengangguk sambil tersenyum, "Hehe iya, tapi sama Kak Cynthia juga kan?"
Cynthia cukup terkejut mendengar itu, tidak menyangka saja akan diajak lebih dahulu. Melihat sikap ramah dan baik Devina itu, Cynthia berpikir jika orang tua Daffin pasti orang baik juga.
"Enggak deh nanti jangan ajak Kakak, kalau ajak Kakak kan pasti jadi ngerepotin dan ngehambat waktu kalian. Kalian saja berdua yang jalan-jalan, nikmati waktu," jawab Cynthia.
__ADS_1
Tetapi Devina menggeleng, "Enggak kok, aku malah senang kalau Kakak bisa ikut lagi," ujarnya.
"Makasih ya Devina, kamu manis banget," ucap Cynthia tidak bisa menahan haru, dirinya jadi merasa dianggap.