Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Semudah Itu Luluh


__ADS_3

"Jalan-jalan kemana?" Tunggu, kenapa Rania malah bertanya? Apakah itu berarti Ia tertarik untuk pergi bersama Leon?


"Kemana aja, kamu mungkin mau kemana gitu?" Leon malah bertanya balik.


"Aku gak tahu tempat bagus mana di Jakarta, soalnya aku jarang keluar. Palingan waktu itu ke Mall aja, gak suka ke mana-mana lagi." Rania kan dilarang oleh Candra, pria itu terlalu khawatir pada dirinya dan bayinya.


"Kasihan banget, padahal di Jakarta banyak loh tempat wisata seru. Kamu sudah pernah ke Ancol belum?" tanya Leon.


"Belum pernah, aku penasaran banget dari dulu di sana itu ada apa aja?"


"Banyak permainan lah, pokoknya seru sih kalau ke tempat wisata gitu. Tapi sayangnya kamu lagi hamil, jadi kayanya gak bisa naik wahana ekstrim, padahal di sana kebanyakan wahana ekstrim."


"Oh jadi di sana permainannya yang ekstrim gitu ya?" Rania malah semakin penasaran.


"Kebanyakannya begitu, tapi ada juga yang enggak. Jadi kamu maunya kemana?"


"Emangnya boleh kalau misal kesana?"


"Boleh lah," jawab Leon cepat, "Aku kasihan lihat kamu di rumah terus, padahal bukannya Ibu hamil itu harus banyak jalan-jalan ya biar sehat juga?"


Rania mengangguk pelan, "Iya, tapi Mas Candra selalu gak bolehin aku," keluh nya.


"Dia kan sibuk kerja, makanya perginya sama aku aja," ucap Leon sambil tersenyum.


"Ya sudah deh, ayo kita ke Ancol." Rania beranjak dari duduknya menerima ajakan itu, sungguh Ia sangat penasaran sekali dengan tempat wisata yang satu itu. Biasanya dulu hanya bisa lihat di TV, saat Leon menawarkan Rania sangat bersemangat.


"Ya sudah kamu siap-siap dulu," suruh Leon.


"Sebentar ya."


"Iya tenang aja, aku tunggu di depan." Leon pun keluar rumah dan akan menunggu Rania di motornya.


Rania tidak lama, hanya mengganti baju dengan yang lebih rapih dan rambutnya Ia ikat ekor kuda. Perempuan itu juga tidak memakai make up tebal, hanya bedak dan lip tin warna cerah. Penampilannya kali itu terlihat lebih muda, sampai membuat Leon terpana beberapa saat.


"Kenapa Leon? Apa aku terlihat aneh?" tanya Rania karena dari tadi pria itu hanya diam menatapnya.

__ADS_1


"Hah? Enggak kok, tapi kamu cocok dandan kaya gini, jadi kaya abg," jawab Leon.


"Kamu lagi ngejek aku ya?"


"Astaga enggak, serius kamu kelihatan kaya abg. Apalagi perut kamu belum besar, jadi orang gak akan percaya kamu lagi hamil." Untuk kali ini Leon tudak bohong, lihat saja dari tatapannya.


"Ya sudah deh kalau pujian, makasih."


"Nih pakai dulu helmnya, Hati-hati naiknya."


Rania pun mengambil alih helm itu lalu memakainya, tapi Ia cukup kesulitan saat mengaitkannya, untung saja Leon peka dan membantunya. Setelah itu Rania naik ke motor tinggi itu, agak kesusahan karena belum pernah naik motor seperti ini.


"Pegangan," perintah Leon setelah menyalakan mesin motornya.


"Em enggak usah deh," tolak Rania.


"Kenapa? Nanti jatuh loh."


"Tapi--" Sebelum Rania melanjutkan perkataannya, tangannya ditarik Leon dari depan sampai memeluk pinggang pria itu, otomatis tubuhnya pun sedikit condong ke depan.


Perjalanan dari rumah itu ke tempat wisata cukup jauh, cuaca siang itu pun lumayan terik tapi untungnya anginnya sejuk. Cukup lega juga karena tidak macet, Leon pun mengendarai motornya lumayan cepat jadi dalam waktu setengah jam akhirnya mereka sampai juga.


"Wah bagus banget ya," ucap Rania melihat depan tempat itu.


Leon dibuat terkekeh kecil mendengarnya, "Apalagi di dalam, kamu bakalan lebih terkagum-kagum kayanya."


"Hehe maklum aku kan orang desa, jadi baru ke tempat main besar kaya gini tuh." Rania tidak malu saat mengatakannya, biarlah jika dianggap katro juga.


"Kita beli tiket dulu, terus baru bisa masuk."


Antriannya siang itu kosong, jadi Rania pun bisa ikut. Perempuan itu terkejut karena tiket masuknya sangat mahal, bahkan sempat meminta Leon tidak jadi karena terlalu mahal, tapi Leon mengatakan tidak papa. Rania pun berjanji akan membayarnya nanti, Leon hanya berdehem saja tidak terlalu peduli mau dibayar atau tidak juga.


Dug!


"Aduh."

__ADS_1


Leon repleks menahan tangan Rania saat perempuan itu tersandung, "Hati-hati Rania," tegur nya gemas.


"Maaf, aku gak fokus," ucap Rania malu. Ia terlalu asik memperhatikan sekitar yang ramai dan bagus, sampai tidak melihat jalan.


"Untung aja hari ini lagi gak banyak pengunjung, jadi aku gak akan pegangin kamu terus," ucap Leon menyindir nya.


"Hei aku bukan anak kecil loh." Rania merasa keberatan jika dianggap se merepotkan itu.


"Haha bukan gitu, tapi kan kamu lagi hamil jadi harus dijagain terus dong." Leon selalu terbayang saat melihat Candra yang super protektif kepada Rania, perasaannya selalu campur aduk sendiri karena tidak tega pada Kakaknya.


Leon yang lebih banyak tahu tempat itu pun menawarkan Rania beberapa permainan yang menurutnya aman, dan Rania menjawab ingin mencoba semua karena beralasan mungkin akan sulit kesini lagi. Leon pun hanya mengangguk menurut, Ia kali ini jadi seperti sedang mengasuh Ibu hamil.


"Sudah puas belum? Mau naik apalagi setelah ini?" tanya Leon yang sudah kembali membeli minum.


Rania menerimanya satu sambil mengucapkan terima kasih, "Sudah deh, sudah puas banget hehe," jawabnya. Rania merasa capek, tapi juga senang di waktu bersamaan.


"Gak papa santai aja, kata kamu juga kapan lagi bisa kesini, kan?"


"Makasih ya Leon udah ajak aku kesini, aku seneng banget," ucap Rania jujur.


Rania tidak tahu jika meminta pada Candra apakah akan diberikan atau tidak, tapi anehnya lagi, Rania merasa malu jika meminta pada suaminya itu. Jadi pada Leon tidak? Entahlah, Rania kan menganggap pria itu seperti temannya.


"Sama-sama, lihat kamu yang seneng gini aku juga jadi ikut seneng," balas Leon sambil tersenyum.


Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, Tiba-tiba sudah pukul lima sore lagi. Rania pun meminta pulang pada Leon, khawatir Candra sudah pulang kerja dan malah tidak menemukan dirinya di rumah. Rania memang tidak sempat minta izin suaminya itu, merasa takut tidak diizinkan. Keinginan Rania terlalu besar untuk bisa pergi ke sini.


"Aku gak akan ikut masuk, mau langsung pulang," ucap Leon. Mereka sudah sampai di depan gerbang rumah, tapi Leon tidak akan masuk.


"Oh gitu ya, kalau gitu sampai ketemu nanti. Sekali lagi makasih Leon."


"Sama-sama, sudah sana masuk. Ibu hamil jangan di luar kalau sore-sore gini."


"Iya."


Rania melambaikan tangannya pada Leon yang pergi dengan motornya itu, setelah tidak terlihat lagi Ia pun masuk ke dalam. Baru saja membuka pintu utama, Rania terkejut melihat Candra yang berdiri tidak jauh di depannya sambil melipat kedua tangan di dada. Melihat tatapan tajam pria itu, membuat Rania gugup sampai menelan ludah kasar.

__ADS_1


__ADS_2