Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Enggan Berpisah Jauh


__ADS_3

Sebelum Candra dan Livia kembali ke Jakarta, pasangan suami istri itu menyempatkan waktu dahulu berpamitan kepada Rania dan semuanya. Entah kapan lagi akan kesini, tapi yang pasti akan selalu disambut dengan baik.


"Kamu sekarang gak nangis lagi Papa gendong?" tanya Candra pada Daffin.


Pria itu memeluk erat anaknya, sesekali juga menghirup wangi tubuhnya yang manis itu. Candra akan benar-benar merindukan bayi kecilnya ini. Jujur saja berat berpisah, tapi keadaan mereka sudah berubah.


"Papa janji akan sering berkunjung kesini, demi kamu. Jadilah anak yang baik dan jangan merepotkan Mama kamu ya," ucap Candra seolah memberi nasihat pada bayi kecil itu.


Perhatian Candra teralih pada Yoga, Ia lalu mendekati asistennya itu sambil tetap menggendong Daffin, "Pantesan aja wajah kamu berseri-seri gitu, ternyata sebentar lagi mau nikah ya?" sindirnya.


"Hehe Bapak tahu?" tanya Yoga malu-malu.


"Kabar kamu melamar Rania sudah tersebar, tentu saja saya tahu," sahut Candra.


Saat mendengat kabar itu perasaan Candra campur aduk sekali. Ia memang sudah berusaha mengikhlaskan Rania, tapi perasaan cemburu itu masih ada menandakan Candra belum lah move on sepenuhnya.


"Selamat ya, semoga acaranya lancar sampai hari H," ucap Candra.


"Makasih Pak, nanti saya pasti undang Bapak ke pernikahan kami," ujar Yoga.


"Harus lah, tapi kapan kira-kira?"


"Mungkin bulan depan, ada banyak persiapan yang harus dilakukan. Sekarang saya dengan Rania pasti akan repot mengurus ini itu," jawab Yoga.


Candra mengangguk pelan. Melihat kesemangatan dari Yoga, membuat Candra tahu jika pria itu terlihat senang dan bersemangat. Kalau dulu kan Ia menikah dengan Rania hanya acara kecil, tapi sekarang Candra yakin Yoga akan membuat pesta besar. Mungkin tanda bukti juga pria itu tentang keseriusannya.


"Saya percaya sama kamu, titip Rania dengan Daffin ya. Jaga mereka dengan baik," kata Candra.


"Saya akan berusaha karena mereka sekarang adalah tanggung jawab saya, semoga saya bisa menjadi suami dan Papa yang baik," angguk Yoga bersungguh-sungguh.


Rasanya bagai mimpi Yoga bisa mendapatkan restu dari bosnya itu untuk menikahi mantan istrinya. Candra juga terlihat sudah berbesar hati melepas Rania, ya semoga saja hati mereka sudah tidak tertaut lagi.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Livia pada sang suami.


"Iya ayo, nanti makin sore," angguk Candra.


Sekali lagi mereka pun bersalaman untuk terakhir kalinya. Livia lalu masuk ke mobil terlebih dahulu, sedang Candra akan berbincang dahulu sebentar dengan Rania.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan Mas," ucap Rania.


"Iya, kamu juga jaga diri baik-baik di sini. Titip Daffin ya?"


"Tenang saja, dia pasti akan baik-baik saja. Mas dan Kak Livia sering-sering main kesini ya, biar Daffin juga gak lupa sama kalian," ujar Rania sambil tersenyum.


"Akan kami usahakan," sahut Candra pelan, karena mereka juga punya kesibukan masing-masing.


Candra lalu memberikan Daffin pada Rania, dan kini Ia bisa melihat wajah putranya itu. Candra sedikit merendahkan tubuhnya agar berhadapan dengan Daffin.


"Anak ganteng, Papa pulang dulu ya. Gak papa kan?" tanya Candra berpamitan.


Tangan Daffin lalu terulur ke depan, seolah berusaha menggapai wajah Candra. Melihat respon baik dari putranya itu, membuat Candra senang sampai berkaca-kaca, tapi pria itu berusaha menahan agar jangan sampai menangis karena akan sangat memalukan.


"Ayo sayang dadah dulu sama Papa," ucap Rania. Ia lalu membawa tangan mungil Daffin, melambai-lambaikannya.


"Aku bakalan kangen banget sama Daffin," kata Candra jujur.


"Nanti Mas bisa sering-sering video call sama Daffin kalau kangen."


Jangan salah paham dan berpikir terlalu jauh, mereka tentu tidak akan melewati batas karena sudah memiliki pasangan masing-masing. Candra dan Rania hanya ingin tetap memiliki hubungan baik walau sudah bercerai, apalagi ini semua demi Daffin.


"Kalau gitu semuanya kami berangkat dulu, " pamit Candra sambil melambaikan tangan.


Pria itu pun berjalan menuju mobilnya, duduk di bagian belakang bersama Livia. Candra tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Daffin, kalau bisa ingin sekali Ia bawa pergi bersama. Tetapi sudah pasti Daffin tidak akan mau, karena dunianya adalah Rania.


"Katanya nanti Pak Candra dan Bu Livia akan usahakan datang ke pernikahan kita," ujar Yoga memberitahu, pria itu bahkan sedikit menyenggol bahu Rania agar memfokuskan pandangan padanya.


"Jadi sudah Mas undang? Untung saja, tadi aku lupa bilang," kata Rania.


"Sudah dong, malahan Pak Candra duluan yang nawarin diri. Aku bilang aja kalau Pak Candra itu tamu spesial hehe."


"Iya bagus, tapi kita gak tahu apa mereka akan datang atau enggak." Karena Rania juga tidak terlalu berharap, bisa bayangkan nanti pasti akan heboh jika Candra datang ke pernikahannya dengan Yoga.


"Kamu gak nangis kan?" tanya Yoga.


"Hah nangis kenapa?" tanya Rania balik.

__ADS_1


"Pak Candra sudah pergi," celetuk Yoga.


"Aku gak nangis, tapi jujur agak kasihan. Mas Candra kelihatan berat banget buat pergi ninggalin Daffin, matanya bahkan sampai berkaca-kaca kaya mau nangis," jawab Rania.


Yoga mengusap dagunya seperti sedang berpikir keras, "Dia nangis mau berjauhan sama Daffin atau sama kamu?" godanya.


"Ih Mas ini ah, dari tadi godain aku terus," rengek Rania kesal sendiri.


Yoga hanya terkekeh lalu mengecup cepat puncak kepala perempuan itu. Mau bagaimana lagi, Yoga kan sedang cemburu. Sebenarnya bagus sih hubungan di antara Candra dan Rania baik-baik saja, tapi Yoga tetap khawatir kedekatan itu menumbuhkan perasaan lama.


"Kayanya aku juga harus pulang, ada tamu di rumah," kata Yoga melihat jam tangan.


"Tamu siapa?"


"Investor dari Kota, mereka datang untuk lihat pabrik dan perkebunan. Kamu mau ikut? "


"Enggak, aku gak ngerti begituan. Aku juga mau mandiin Daffin, takut keburu sore," tolak Rania sambil menggeleng.


"Ya sudah kalau gitu aku pulang dulu." Yoga lalu mencubit pelan pipi Daffin, "Sayang Papa pulang dulu ya, nanti besok kesini lagi kok."


Dengan gemasnya Yoga pun mengecupi wajah Daffin sampai menimbulkan suara khasnya. Rania yang melihat itu langsung memukul pelan tangan Yoga, memberitahunya untuk berhenti. Yoga pun hanya terkekeh kecil lalu berlari ke mobilnya dan pergi dari sana.


Setelah semuanya pulang, Rania pun masuk ke dalam rumah. Terlihat Neneknya yang menyimpan beberapa makanan di meja. Makanan itu pemberian Livia, katanya lupa memberi oleh-oleh dari Jakarta.


"Nak Yoga kemana?" tanya Nek Ima.


"Dia juga pulang, katanya ada tamu dari kota," jawab Rania.


"Oh gitu."


"Aku mau mandiin dulu Daffin, Nek."


Nek Ima lalu mendekat dan mengambil alih cicitnya itu, "Biar Nenek aja yang mandiin, kamu juga belum mandikan?"


"Gak papa nih?" Rania takut merepotkan, tapi Neneknya itu memang sangat pengertian sekali.


"Gak papa, Nenek malah seneng bisa mandiin Daffin," sahutnya sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2