Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Meminta Menjaga Rahasia


__ADS_3

"Mu-mungkin kamu salah lihat," bantah Rania.


"Gak mungkin, nama kamu Rania, kan?"


Astaga pria itu sampai mengenal namanya juga, membuat Rania semakin cemas saja. Rania khawatir pria ini melaporkannya pada Candra tanpa sengaja, mantan suaminya itu pasti akan langsung menyusulnya.


"Nama aku Yoga, aku ini Manajer di pabrik teh, tangan kanan Pak Candra," ucap pria itu baru memperkenalkan diri.


Ah sekarang Rania ingat, waktu itu mereka bertemu saat di kebun teh. Kalau tidak salah Rania yang menengok Neneknya di kebun teh, dan malah bertemu Yoga. Rania repleks berdiri, mencoba mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Ini sudah mau malam, sebaiknya anda pulang," kata Rania.


Yoga berusaha berdiri dari duduknya, "Tunggu sebentar, masih banyak yang ingin saya tanyakan. Apa Pak Candra juga ikut ke sini? Saya belum bertemu dia."


"Tidak ada, kami.. Kami sudah berpisah," jawab Rania memelan di akhir.


"Apa?"


Rania lalu menghadapkan tubuhnya pada Yoga, "Aku kan sudah menolong kamu, jadi sekarang kamu harus menolong aku."


"Em memangnya kamu butuh bantuan apa?"


"Tolong jangan katakan pada Mas Candra kalau aku di sini," ucap Rania bersungguh-sungguh.


"Hah?" Yoga tersentak sendiri mendengar permintaan itu.


"Kamu tidak perlu tahu alasannya, tapi aku mohon dengan sangat untuk jangan melaporkan pada atasan kamu itu kalau aku ada di desa ini, termasuk tempat tinggal aku yang baru juga. Bisa kan?"


Yoga menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, merasa bingung dengan permintaan perempuan itu yang menurutnya aneh. Yoga kira minta bantuan apa, tapi ternyata minta bantuan untuk di sembunyikan keberadaannya.


"Tapi kenapa? Kamu kan istrinya Pak Candra," tanya Yoga bingung.


"Masalahnya cukup rumit, tapi kalau kamu bisa menjaga rahasia ini kamu sudah menyelamatkan nyawa aku."


Kedua mata Yoga terbelak, "Apa Pak Candra ada rencana jahat pada kamu? Membunuh kamu?"


"Bukan begitu, tapi ada saja alasannya. Jangan salah paham, aku sembunyi bukan karena sudah melakukan kejahatan pada dia, tapi aku ingin hidup tenang dan memulai semuanya dengan baru."


Sebenarnya Yoga masih bingung dengan alasan Rania yang memintanya seperti itu, tapi melihat kesungguhan di matanya membuat Yoga tidak tega juga. Candra memang atasannya, tapi Rania juga tadi sudah menolongnya jadi Yoga harus membalasnya.

__ADS_1


"Baiklah aku tidak akan bilang ini pada Pak Candra, tapi semoga saja kamu gak bohong ya," ujar Candra.


Rania pun tidak bisa menahan senyumannya lagi mendengar itu, "Makasih ya Pak Yoga, makasih banget."


"Pak Yoga?" Pria itu lalu tertawa kecil, "Jangan panggil Pak, jadi ngerasa udah tua."


"Em terus manggilnya apa?"


"Berapa usia kamu?"


"Dua puluh empat," jawab Rania.


"Saya seumuran Pak Candra, tapi saya gak mau kamu manggil saya Pak," kata Yoga.


"Terus?"


"Mas juga boleh, hehe bercanda-bercanda. Nama aja, Yoga."


Ternyata pria itu masih bisa saja bergurau di saat suasana seperti ini, membuat Rania pun jadi tidak terlalu tegang lagi. Tetapi Rania tidak bisa langsung percaya begitu saja pada Yoga, apalagi kan pria itu tangan kanan suaminya di sini.


Di tengah keheningan itu, Tiba-tiba sebuah mobil datang. Yoga pun langsung tersenyum dan melambaikan tangan, yang turun adalah seorang lelaki yang sepertinya umurnya tidak jauh darinya. Lelaki itu pun berlari kecil menghampiri mereka.


"Sorry agak lama, tadi bannya bocor jadi harus diganti dulu," ucap Haikal.


Haikal lalu beralih menatap perempuan itu, Ia sempat memperhatikan penampilannya, "Ya elah pantesan aja betah di sini, lagi pacaran ya?" tanyanya.


Rania langsung menggeleng kencang, "Bu-bukan, saya dan dia baru kenal kok. Tadi gak sengaja ketemu terus saya tolongin dan bawa ke rumah." Rania langsung menjelaskan karena tidak mau ada salah paham.


"Oh gitu, jadi kamu yang nolongin. Kalau gitu makasih ya," ucap Haikal.


"Iya."


Yoga lalu kembali menatap Rania, "Saya pulang dulu ya Rania, sekali lagi makasih udah ditolongin."


"Sama-sama," angguk Rania.


Haikal pun dengan sigap membantu Yoga menuju mobil, memasukannya ke kursi penumpang bagian depan, setelahnya Ia pun ikut menyusul. Sebelum pergi sempat menekan klakson, lalu mobil itu pun berputar dan menjauh.


"Semoga aja dia gak laporin aku ke Mas Candra," gumam Rania sambil mengusap dadanya.

__ADS_1


Melihat langit yang sekarang sudah benar-benar malam, membuat Rania memutuskan segera masuk ke rumah. Ia akan sembahyang dahulu lalu makan malam. Kesehariannya di rumah hanya bersantai, karena Rania tidak bekerja.


Uang bulanan yang selalu Candra berikan terkumpul banyak di kartu rekeningnya, mungkin sekarang nilainya ada dua puluh jutaan. Rania pikir itu cukup untuk biaya persalinan dan kebutuhan bayinya sampai Ia kuat untuk bekerja lagi.


"Bahan makanan sudah mau habis, susu juga tinggal sedikit lagi. Kayanya aku harus ke supermarket buat beli bahan makanan besok," ucap Rania yang melihat isi kulkasnya.


Malam ini menu makan malamnya sederhana, hanya ikan goreng dan tumis kangkung. Rania sebenarnya belum terbiasa makan sendirian, di rumah ini rasanya juga sunyi dan sepi. Mungkin nanti kalau anaknya sudah lahir tidak akan kesepian lagi.


Besok paginya setelah membersihkan rumah dan mandi, di pukul sepuluh nya Rania bersiap untuk berangkat ke desa sebelah membeli bahan makanan. Neneknya tidak bisa mengantar karena bekerja, Rania harus berjalan sebentar untuk mencari ojek.


Tin!


Sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti di sebelahnya, membuat Rania bingung. Saat kaca bagian depan terbuka, Rania pun sedikit membungkukan badannya untuk melihat, dan ternyata itu adalah Yoga.


"Kamu," panggil Rania.


Yoga melambaikan tangan padanya, "Hai kita ketemu lagi, mau kemana nih?" tanyanya.


"Aku mau ke desa sebelah buat beli bahan makanan yang mau habis," jawab Rania.


"Jalan kaki?"


"Nanti di pangkalan mau nyewa ojek," jawab Rania sambil menunjuk ke depan, yang jaraknya sebenarnya masih lumayan jauh.


"Ayo naik, biar saya aja yang anterin," ajak Yoga. Pria itu pun membukakan pintunya dari dalam.


"Beneran nih?"


"Iya."


Rania tentu saja tidak menolak tawaran itu, toh Ia juga merasa lelah berjalan kaki dari rumah. Tetapi saat melewati pangkalan ojek itu, Rania malah bingung karena mobil tidak berhenti. Ia pun langsung menatap Yoga bertanya.


"Biar sekalian aja saya anter kamu ke sana ya," kata Yoga tanpa menatapnya.


"Enggak usah, lumayan jauh juga. Kamu pasti sibuk," tolak Rania baik-baik.


"Enggak, hari ini saya cuti soalnya lagi sakit," sahut Yoga.


Rania pun baru teringat itu, Ia sempat melirik kaki kiri Yoga di bawah, "Kok kamu sudah bisa bawa mobil? Emangnya gak sakit kakinya?"

__ADS_1


"Hehehe sebenarnya masih agak linu, tapi saya bukan cowok lemah, jadi bisa kalau cuman nyetirin mobil," jawab Yoga penuh bangga.


Rania yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya.


__ADS_2