Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 21


__ADS_3

Selesai kelas berakhir, semua mahasiswa merasa lega karena bisa pulang dan beristirahat. Daffin lalu beranjak untuk menghampiri Elisa, mengajaknya pulang bersama.


"Kamu mau langsung pulang?" tanya Daffin.


"Hm." Elisa hanya berdehem tanpa menatap Daffin sedikit pun, perempuan itu sedang merapihkan barangnya.


"Tunggu di parkiran ya, aku mau jemput Cynthia dulu di kelasnya," kata Daffin.


Elisa pun baru mengangkat kepala untuk menatapnya, "Gak usah, aku mau pulang sama Satria aja," tolak nya.


"Loh tapi--"


"Kamu pulang sama Cynthia aja, kamu kan harus siap siaga jagain dia terus. Aku males kalau nontonin kalian, kaya gak dianggap," ucap Elisa agak ketus.


Daffin mengernyitkan keningnya mendengar itu, kenapa Elisa beranggapan jika dirinya mengabaikan? Daffin merasa biasa-biasa saja, sikapnya pada Cynthia dan Elisa sama kok.


"Kamu kenapa sih Elisa? Kamu gak suka ya aku bertanggung jawab gitu ke Cynthia? Bukannya sikap aku ini baik?" tanya Daffin meminta penjelasan.


Elisa terlihat menghela nafas berat. Perempuan itu lalu berdiri dari duduknya setelah menyampirkan tas di bahunya. Suasana kelas sudah lumayan sepi, jadi mereka bisa bicara berdua.


"Aku suka kok kamu bersikap baik gitu ke setiap orang, tapi aku gak suka kamu yang gak enakan. Semenjak kamu berurusan sama Cynthia, kita jadi gak ada waktu bersama lagi, Daffin," ujar Elisa berterus terang.


"Enggak kok, kita tetap ada waktu bareng-bareng. Malahan kamu yang selalu menghindar Elisa, kamu yang menjauh," ucap Daffin.


"Aku begitu karena ada alasan, aku emang gak suka lihat kamu perhatian begitu ke Cynthia," gumam Elisa menurunkan egonya, tapi kepalanya menoleh ke samping tidak menatap.


"Apa kamu cemburu?" tanya Daffin pelan.


Keduanya lalu bertatapan, suasana di sana pun berubah menjadi canggung. Di tengah keheningan, kedatangan seseorang membuat perhatian Elisa dan Daffin teralih. Ternyata itu Satria.


"Oh sorry ganggu, kalian lagi ngapain?" tanya Satria tidak enak.


"Gak ngapa-ngapain kok," jawab Daffin.


"Em kalau masih mau ngobrol, aku keluar lagi aj--"


"Eh Satria, kita kan mau pulang bareng. Jadikan?" tanya Elisa menyela.

__ADS_1


"Emangnya udah ngobrolnya sama Daffin?" tanya Satria.


"Sudah kok," jawab Elisa sambil melirik sekilas Daffin dengan senyuman penuh artinya.


Elisa lalu melenggang pergi melewati Daffin begitu saja, Ia pun mengajak Satria untuk pulang sekarang. Elisa masih ngambek dengan Daffin, ya walau alasannya bisa dibilang cukup egois.


Di kelas itu kini hanya tersisa Daffin seorang, pria itu terdiam dengan helaan nafas teratur. Tidak mau berlama-lama berkecamuk dengan hatinya, Daffin memilih ikut keluar dan segera menjemput Cynthia di kelasnya.


"Hai sorry agak lama, hari ini kamu gak ada kelas lagi kan?" tanya Daffin menghampiri.


"Sudah selesai kok, kirain lo udah pulang," ucap Cynthia yang tadi sedang membaca buku.


Daffin memperhatikan kelas itu yang sudah tidak ada siapapun kecuali Cynthia, "Apa mereka ninggalin kamu sendiri di sini? Emangnya gak ada yang mau bantu kamu ke bawah? Satu pun?" tanyanya.


"Em gue yang nolak, lagian gue malu kalau ngerepotin mereka," sahut Cynthia.


Tetapi kan kalau mereka masih punya hati nurani, tetap akan menolong orang yang sepertinya sangat butuh. Daffin jadi merasa kasihan pada Cynthia, kalau benar tidak punya teman akan sangat kesulitan di saat seperti ini.


"Ya sudah yuk kita pulang sekarang," ajak Daffin dan mulai mendorong kursi rodanya.


Karena jurusan mereka berbeda, kemungkinan juga jam kuliah tidak akan bisa sama terus. Inilah hal yang Cynthia pikirkan terus, dirinya benar-benar akan sangat merepotkan Daffin.


"Elisa sudah pulang duluan, dia pulang bareng Satria," jawab Daffin yang langsung mengerti.


"Apa mereka mau nge date?" celetuk Cynthia menduga. Katanya kan dua orang itu sedang dekat.


"Mungkin? Atau bisa juga dibilang lagi pdkt," sahut Daffin.


Setelah memastikan Cynthia duduk dengan nyaman dengan seatbelt terpasang, Daffin pun segera ikut masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai pergi dari sana.


"Oh iya besok kamu mulai terapi, aku akan anterin dan temenin kamu di sana," ucap Daffin sambil tetap fokus menyetir.


"Gue sedikit gugup, pasti bakalan susah banget harus belajar berjalan. Kayanya lebih susah dari anak bayi," ucap Cynthia.


"Harus semangat dong, kamu juga harus yakin bisa jalan normal kaya dulu lagi." Daffin berusaha terus memberikan semangat.


"Ya kalau itu sih setiap hari juga selalu berharap, cuman tetep aja gue sedikit takut, takut terapi itu gagal dan gue.. "

__ADS_1


"Gak ada yang gak mungkin, dokter juga kan bilang kemungkinan kamu bisa jalan itu peluangnya sangat besar," potong Daffin.


Cynthia mengangguk pelan sambil tersenyum, hatinya merasa sedikit lega mendengar itu. Ya semoga saja terapinya berjalan dengan baik dan lancar, dan Cynthia pun bisa berjalan normal seperti dulu.


Sungguh menjadi lumpuh itu sangat tidak enak, Cynthia merasa kerepotan jika melakukannya sendirian. Tetapi untung saja Daffin ini sangat perhatian, tidak pernah meninggalkannya dan selalu membantunya di saat yang tepat.


"Aku anterin kamu langsung pulang ya," ucap Daffin.


"Iya."


Sesampainya di rumah Cynthia, Daffin pun turun terlebih dahulu dan segera menggendong perempuan itu masuk ke dalam rumah. Ternyata ada Mamanya Cynthia di rumah, wanita paruh baya itu pun langsung mempersilahkan masuk.


"Ini kursi rodanya, sudah kan?" tanya Daffin memastikan lagi sebelum Ia pergi.


"Iya sudah, makasih ya Daffin," ucap Cynthia sambil tersenyum.


"Iya sama-sama." Daffin lalu menatap Citra, "Tante saya mau langsung pulang."


"Loh kenapa buru-buru? Gak mau makan dulu di sini?" tanya Citra yang tumben nya bersikap ramah begini.


"Em nanti saja lain kali," tolak Daffin lembut.


"Ya sudah, makasih ya Daffin sudah anterin Cynthia pulang. Kamu ini benar-benar lelaki yang baik dan bertanggung jawab," puji Citra sambil mengusap bahu Daffin.


"Kalau begitu saya permisi, assalamu'alaikum." Daffin pun keluar dari rumah itu sanbil melambaikan tangan.


Setelah pintu tertutup, Citra langsung mendekati Cynthia yang duduk di sofa, "Apa dia jagain kamu terus di Kampus?" tanyanya.


"Iya, dia selalu tanya aku apa yang aku butuhin. Lift di sana juga lagi rusak, jadi Daffin yang gendong naik turun tangga, aku jadi gak enak sama dia," jawab Cynthia.


"Ck gak papa lah kalau kaya gitu, malah kesempatan bagus," sahut Citra sambil menjentikan jari tangannya.


"Hah?"


Citra mendekat lalu berbisik di dekat telinga putrinya itu, "Kalian kan makin dekat tuh, kamu harus bisa cari kesempatan dengan manfaatin suasana ini."


"Maksud Mama?" tanya Cynthia yang perlahan mengerti pikiran Mamanya yang licik itu.

__ADS_1


"Buat Daffin itu suka dan jatuh cinta sama kamu, Mama yakin kedekatan kalian bisa menumbuhkan perasaan." Setelah mengatakan itu, Citra terlihat tersenyum sinis.


__ADS_2