
Sepulang dari rumah sakit mereka tidak langsung pulang. Daffin mengajak pacarnya makan dulu di sebuah restoran, khawatir jika di rumah malah tidak makan. Hubungannya dengan Mamanya juga kan sedang tidak baik.
Cynthia yang dari tadi fokus makan menghentikan kegiatannya melihat Daffin di depannya yang malah mengaduk-aduk nasinya. Melihat itu, Ia pun memutuskan memfokuskan pandangan.
"Kenapa gak dimakan? Kamu yang ajak aku kesini, tapi kamu gak makan," tanya Cynthia menegur.
"Iya ini lagi dimakan kok, sedikit-sedikit," jawab Daffin.
Tetapi Cynthia yakin ada yang sedang pria itu pikirkan, "Aku gak sengaja dengar tadi, katanya Elisa mau cuti kuliah dan kembali ke desanya ya?"
"Iya, apa dia juga ngasih tahu kamu?"
"Iya, dia juga bilang titip kamu ke aku."
"Terus kamu jawab apa?"
"Tentu aja aku akan jagain kamu, ya walau sebenarnya pasti kamu yang bakal selalu jagain aku," jawab Cynthia sadar diri.
Daffin terlihat terkekeh kecil merasa terhibur mendengar itu, tapi tawanya itu tidak lama berhenti. Ingatannya kembali pada saat di rumah sakit, saat Elisa yang mengatakan akan pamit pulang.
"Kamu sedih dia akan pergi?" tanya Cynthia yang menduga hal itu.
"Hm kenapa tanya itu?"
"Gerak-gerik kamu ini sangat mudah terbaca, jadi apa kamu gak mau kehilangan dia?" Cynthia langsung menelan ludahnya kasar saat menanyakan itu.
Perasaannya sekarang campur aduk sekali, tapi Cynthia juga merasa penasaran dengan hati Daffin. Jika pun pria itu sekarang menjadi pendiam karena Elisa akan pergi, itu berarti Daffin masih ada perasaan pada sahabat perempuannya itu.
Tetapi Daffin malah menggenggam tangan Cynthia yang ada di atas meja, "Sayang jangan salah paham, aku bukan sedih gak mau ditinggal dia," katanya menjelaskan.
__ADS_1
"Terus kenapa? Kamu kelihatan berbeda dari sebelum tahu ini," tanya Cynthia penasaran.
"Aku orang yang cukup tidak enakkan, aku hanya khawatir dia pergi karena aku menolak dia. Sungguh aku gak mau jadi penghalang dia," jawab Daffin.
Melihat tatapan dalam pria itu, membuat Cynthia yakin jika Daffin tidak bohong. Sekarang Ia bisa mengerti yang dirasakan Daffin, dan Cynthia tidak bisa memojokkan nya lalu berpikir terlalu jauh.
"Tidak apa Daffin, perasaan seseorang itu tidak bisa dipaksakan. Kalaupun misal alasan Elisa pergi juga karena hubungan kita, itu sepenuhnya bukan salah kamu. Jangan selalu menyalahkan diri sendiri," ujar Cynthia memberikan semangat.
Daffin pun mengangguk pelan lalu mengecup sekilas punggung tangan pacarnya itu. Mungkin karena Elisa teman dekatnya, jadi Ia selalu tidak mau menyinggung perasaannya. Tetapi apa yang dibilang Cynthia tadi benar, ini bukan salahnya sepenuhnya.
"Tapi kamu beneran gak ada perasaan apapun lagi kan sama Elisa?" tanya Cynthia memastikan.
"Kamu selalu bertanya ini, kamu gak percaya sama aku?"
"Bukan gak percaya, aku hanya khawatir saja," jawab Cynthia jujur. Apalagi sikap Daffin sekarang seperti orang yang sedang galau.
Daffin lalu menggeleng, "Gak ada Cynthia, aku menganggap Elisa seperti teman saja. Sekarang kan kamu yang jadi pacar aku, rasanya tidak pantas sekali mencintai dua orang di waktu bersamaan."
Selesai makan malam, keduanya memutuskan langsung pulang. Kebetulan besok tidak ada kelas, dan Elisa juga sudah di perbolehkan pulang, jadi besok akan menjemput. Cynthia tentu saja harus selalu ikut.
"Kemana Mama kamu?" tanya Daffin saat memasuki rumah yang terasa sepi.
"Gak tahu, dia memang jarang di rumah," jawab Cynthia yang terlihat acuh tak acuh.
"Terus gak papa kamu sendirian di rumah? Sebelum aku pulang, mungkin kamu butuh sesuatu dulu?" Daffin takut tidak tenang jika meninggalkan pacarnya ini sendirian.
"Gak papa, aku bisa sendiri kok. Lagian sudah malam, kamu mending pulang," kata Cynthia baik.
Daffin mengusap kepala perempuannya sebentar, "Ya sudah kalau gitu aku pulang ya. Selesai mandi dan ganti baju, kamu bisa istirahat. Besok aku jemput jam sembilanan," ucapnya.
__ADS_1
"Iya, Hati-hati dijalan."
Daffin mengangguk lalu keluar dari kamar Cynthia, tidak lupa menutup pintunya lagi. Baru saja keluar dari rumah itu, perhatian Daffin langsung tertuju pada seorang wanita paruh baya yang turun dari taxi. Itu Tante Citra.
"Daffin, ada kamu?" sapa Citra menghampirinya.
"Iya Tante, tadi aku dan Cynthia ke rumah sakit dulu jadi baru pulang. Tapi tadi sempat makan malam kok di luar, jadi gak perlu khawatir," jawab Daffin setelah menyalami tangan Citra.
"Tante gak pernah khawatir membiarkan Cynthia bersama kamu, toh kamu lelaki yang baik kok," katanya dengan senyuman lebar.
Mendapat pujian dari wanita itu tentu saja membuat Daffin senang, karena itu berarti Ia sudah sangat dipercayai oleh Mama Cynthia. Dulu Citra memang agak dingin padanya, tapi sekarang sangat ramah.
"Daffin, Tante mau minta maaf sama kamu," ucap Citra tiba-tiba.
"Kenapa minta maaf Tante?" Seingatnya, Citra tidak pernah berbuat kesalahan padanya.
"Kamu mungkin gak sadar, tapi Tante sekarang menyadari jika selama ini cukup jahat sama kamu. Dulu saja Tante minta uang kompensasi pada Papa kamu, belum lagi kemarin Anthony yang masih berharap pada Cynthia, padahal kalian sudah pacaran," jawabnya dengan tatapan tidak enak.
Daffin pun langsung menyela, "Kalau untuk uang itu, Tante juga kan tidak jadi melaporkan aku ke polisi."
"Memang, tapi kamu juga harus menjaga dan merawat Cynthia sampai dia sembuh. Maafin Tante ya sudah repotin kamu," ucapnya dari hati terdalam.
Kejadian beberapa hari lalu bagi Citra sangat memalukan, saat itu pun dirinya menyadari jika sikapnya sangat buruk. Apalagi Citra sempat mendengar obrolan anaknya yang mengatakan malu memiliki Ibu mata duitan seperti dirinya.
"Aku ikhlas kok Tante jagain Cynthia, malahan mungkin ini memang sudah takdir dari Tuhan. Buktinya sekarang hubungan saya dengan Cynthia berjalan baik," ucap Daffin dewasa.
Mendengar itu membuat Citra merasa terharu, tanpa bisa ditahan kedua matanya pun berkaca-kaca. Melihat remaja lelaki itu yang terlihat sangat baik, membuat Citra merasa bersalah karena dulu hampir sempat ingin memanfaatkan nya.
Tetapi saat melihat Daffin dapat menjaga putrinya dengan baik dan menyayangi nya dengan tulus, pandangannya pun perlahan berubah. Jika dipikir lagi, betapa beruntungnya putrinya itu bisa membuat lelaki sebaik ini mencintainya.
__ADS_1
"Terima kasih ya Daffin, kamu memang anak yang baik. Tante harap hubungan kamu dengan Cynthia selalu baik-baik saja dan langgeng, Tante sangat merestui kalian," ucap Citra sambil menghapus air matanya.
Tanpa keduanya sadari, Cynthia memperhatikan dari jendela kamarnya. Ia memang sempat khawatir melihat Mamanya mengobrol dengan Daffin, tapi sepertinya yang mereka bicarakan bukan sesuatu yang dapat membuatnya marah.