
"Dimana Nenek?" Itulah hal pertama yang Candra tanyakan saat pulang bekerja.
"Nenek tadi aku suruh mandi dulu sekalian nunggu Mas pulang," jawab Rania setelah menyalami tangan suaminya itu.
"Kalian sudah makan malam belum?"
"Belum, kan nungguin Mas."
"Oh jadi mau makan bareng-bareng ya."
"Iya."
"Ya sudah sebentar aku mandi dulu, gerah banget." Baru saja akan pergi, Candra berhenti melangkah saat tangannya ditahan Rania, "Ada apa?"
"Ada yang mau aku bicarain dulu sama Mas, ini penting," ucap Rania dengan raut wajah tidak nyamannya.
"Bicara apa?"
"Begini, Mas bilang pada Kak Livia untuk rahasiain kalau dia istri Mas juga, kan?"
"Hm, lalu?" Kedua mata Candra terbelak saat menduga sesuatu, "Apa jangan-jangan Livia bilang jujur sama Nenek?" tanyanya terkejut, perlahan perasaan tidak enak pun hinggap di dadanya.
"Bukan Mas, bukan itu yang Kak Livia katakan."
"Lalu apa yang dia bilang sama Nenek?"
"Kak Livia ngaku kalau dia itu Kakak tirinya Mas."
"Apa?" Candra sampai tersentak sendiri mendengar itu, tidak menyangka Livia malah memakai status itu untuk berbohong.
"Aku juga sempat kaget pas Nenek bilang gitu, tapi aku juga ngerasa gak enak sama Kak Livia karena dia harus pura-pura begitu. Aku gak bisa ngerasain perasaan Kak Livia, pasti sakit hati banget harus bohong gitu," ucap Rania dengan tatapan sendunya.
Candra lalu menepuk bahu Rania, "Nanti aku bicara dengan Livia ya, kamu jangan terlalu dipikirkan."
Candra tahu Rania ikut merasa bersalah, istrinya yang satu ini kan memang sangat perasa dan tidak enakan. Tetapi kan bukan Rania juga yang meminta Livia, malah dirinya yang minta langsung sambil memohon. Awalnya Candra merasa khawatir Livia itu tidak bisa diajak kerja sama, tapi ternyata Livia tidak sekeras kepala itu juga.
"Nanti kita makan malam bareng, tunggu," ucap Candra sambil tersenyum berusaha menenangkan.
__ADS_1
"Iya Mas, aku juga mau ganti baju dulu. Nanti aku ke ruang makannya sama Nenek."
"Hm."
Candra lalu naik ke lantai dua menuju kamarnya. Sepertinya selama Nenek ada di rumah, Candra harus pindah kamar dulu. Nanti bisa-bisa Nenek Ima curiga lagi kalau sebenarnya Ia tidak tidur bersama Rania. Nanti deh Candra pikirkan lagi, sekarang mandi dulu.
"Livia," panggil Candra saat memasuki kamar.
"Apa? Ngapain masuk ke sini?" tanya Livia dengan nada sinis nya.
"Hah? Ini kan kamar aku juga."
Livia lalu menoleh menatap Candra, "Kalau sampai Neneknya Rania itu tahu kita se kamar, dia pasti bakal curiga dan ngerasa aneh."
Candra menghembuskan nafasnya berat lalu mendekati istrinya itu, "Kamu kok ngakunya jadi Kakak tiri aku sih?" tanyanya meminta penjelasan.
"Terus kamu maunya aku jadi apa kamu? Ibu kamu?" ledek Livia setengah bergurau tapi tidak ada lucunya sama sekali.
"Ya bukan gitu, tapi kan enggak Kakak juga." Usia Candra kan lebih tua dari Livia, memang mengada-ada saja.
"Mending aku ngakunya itu, dari pada jujur bilang jadi istri kamu, kan?" tanya Livia menohok.
Trak!
Livia menyimpan sisir nya kasar di meja rias nya, "Jangan kepedean, aku ikut rencana kamu cuman males aja kalau ada keributan. Aku juga gak mau ikut campur sama masalah kalian itu," ucapnya ketus.
"Iya-iya."
Sebenarnya Candra tidak enak hati meminta hal jahat ini pada Livia, tapi jangan sampai deh perempuan itu menganggap Ia tidak mau mengakui kehadirannya sebagai istri dah. Candra hanya tidak mau saja membuat masalah baru, Candra merasa malu karena terus berbohong.
"Selama Nenek Ima di sini, maaf kayanya aku akan tidur dengan Rania," ucap Candra pelan seolah meminta izin.
"Hm," Livia hanya berdehem pelan, sangat ambigu.
"Gak papa, kan?"
"Kenapa minta izin aku? Ya sudah sana kalau mau tidur sama dia." Sebenarnya Livia ingin terlihat tidak peduli, tapi kenapa nada bicaranya jadi ketus begini ya? Perempuan itu meringis pelan merutuki di dalam hati.
__ADS_1
"Aku cuman gak mau buat kamu makin sakit hati, tolong mengerti aku."
"Aku selalu berusaha ngertiin kamu Candra, tapi kamu gak pernah ngerti gimana perasaan aku," balas Livia menohok. Merasa malas memperpanjang masalah, Livia pun memutuskan keluar kamar.
Saat masuk ke ruang makan terlihat di sana sudah ada Nenek Ima dan Rania, makanan pun sudah terhidang di atas meja. Livia mengubah ekspresi wajahnya yang tadinya masam menjadi ramah. Ia pun duduk di sebuah kursi kosong.
"Nak Livia belum makan juga?" tanya Nek Ima mulai obrolan.
"Belum Nek, biasanya kita selalu makan bareng-bareng," bohong Livia. Padahal nyatanya Ia jarang sekali makan bersama Candra dan Rania, malas saja.
"Wah pasti seru sekali ya, harmonis sekali keluarga ini." Nenek Ima jadi senang karena Rania pun pasti hidup dengan baik di sini.
Livia dan Rania bertatapan, lalu tersenyum kikuk merasa terbebani dianggap seperti itu. Rasanya lucu saja dianggap sebagai keluarga yang harmonis, karena nyatanya keluarga ini sangat membingungkan.
"Lalu dimana nak Candra?" tanya Ima memperhatikan sekitar.
"Dia lagi mandi," jawab Livia tanpa sadar, tapi langsung menutup bibirnya dengan tangan. Khawatir membuat Nenek Ima salah paham, Livia pun lanjut menjelaskan, "Tadi gak sengaja lewat kamarnya, jadi lihat."
"Oh begitu, tapi aneh. Kok kamar nak Candra di atas, tapi tadi Rania tidur di kamar bawah."
Menyadari Livia semakin berbicara melantur dan hampir membocorkan, membuat perempuan itu melirik Rania seolah meminta bantuan. Livia memilih minum air putihnya dan diam tidak mau lagi membuka suara karena khawatir membocorkan rahasia.
"Kadang kalau tidur siang aku selalu tidur di bawah Nek," ucap Rania ikut berbohong.
"Kenapa?"
"Gak tahu, mungkin bayinya yang pengen."
"Oh gitu, terus nanti pas malam tidurnya di lantai atas gitu?"
"Iya lah."
Obrolan mereka lalu terhenti saat melihat Candra yang akhirnya datang juga, pria itu dengan ramahnya menyapa mereka semua di sana. Setelah itu mulai lah mereka makan, terlihat asik sekali dan mencoba tetap tenang di hadapan Nenek Ima.
"Suami nak Livia belum pulang?"
"Enggak Nek, suami aku sudah meninggal," jawab Livia sambil tersenyum dipaksakan. Sempat melirik Candra yang melotot mendengar itu, tapi Livia sama sekali tidak mempedulikan.
__ADS_1
"Loh tapi tadi Rania cerita kalau suami nak Livia kerja di luar negeri. Aduh jadi yang bener yang mana?"
Livia menjatuhkan kepalanya di atas meja, sepertinya Ia harus benar-benar diam saja dari pada mempermalukan dirinya sendiri. Sepertinya Rania itu sudah cerita banyak tentang dirinya pada Nek Ima, yang anehnya kenapa Nenek Ima itu juga terlihat penasaran sekali dengannya?