
Di siang harinya saat Rania sedang asik menggunting rumput liar di halaman depan, Ia tidak sengaja melihat Livia yang keluar rumah. Wanita itu terlihat sudah cantik dan rapih, sepertinya baru akan berangkat kerja. Entah keberanian dari mana, Rania pun malah menghampirinya.
"Kak Livia sudah mau berangkat?" tanya Rania sambil tersenyum berusaha ramah.
Livia hanya berdehem sambil melirik nya malas, "Nanti sore kamu dengan Candra akan ke Bandung, kan?"
"Iya, apa Kak Livia juga ikut?"
Livia malah mendengus kasar sambil tersenyum sinis, "Kalau aku ikut, nanti akan mengganggu acara berduaan kalian," sindirnya.
Rania yang mendengar itu menggigit bibir bawahnya, ingin sekali membantah jika Livia tidak akan seperti itu. Rania selalu merasa tidak enak jika menghabiskan waktu berdua dengan Candra, padahal pria itu pun suaminya. Mungkin karena istri kedua, dan Rania mendapatkannya pun dengan hal tidak terduga seperti ini.
"Pergilah, mungkin dengan kalian tidak di rumah aku bisa bersantai dan lebih bebas," lanjut Livia.
"Apa.. Kehadiran aku di sini membuat Kak Livia tidak nyaman?" tanya Rania hati-hati, Ia mengartikannya begitu. Tetapi seharusnya Rania bisa mengerti sendiri tanpa menanyakannya, memang sepertinya begitu.
"Menurut kamu?" Livia malah bertanya sendiri.
Rania menghela nafasnya, "Maaf ya Kak Livia kalau kehadiran aku di sini membuat Kakak tidak nyaman. Tapi ini rumah Kakak, Kakak yang lebih dulu tinggal di sini jadi aku harap aku tidak mengganggu apapun. Aku akan berusaha tidak merepotkan Kakak juga." Rania terlihat bersungguh-sungguh mengatakan itu.
"Yakin kamu tidak akan merepotkan saya?" tanya Livia sambil menarik sebelah sudut bibirnya, "Kalau saja tadi tidak ada Leon, mungkin saya yang ngobatin jari tangan kamu itu."
Rania pun langsung memegang lukanya itu, "Aku bisa obati sendiri Kak," belanya. Ia kan bukan orang manja, tadi juga sudah sempat menolak Leon tapi pria itu sangat kekeuh jadi Ia pun menyerah.
"Iya tapi kamu akan kerepotan karena lukanya di tangan kanan." Livia terdiam beberapa saat sambil melirik lukanya itu. Menyadari Ia terlalu lama mengobrol hal tidak penting dengan perempuan itu, membuatnya pun melenggang pergi begitu saja dari sana.
"Hati-hati," ucap Rania pada Livia, entahlah apa perempuan itu mendengarnya atau tidak.
__ADS_1
Setiap Rania mengobrol dengan Livia, dadanya ini sesak sekali dan selalu gugup. Entah kenapa Ia selalu ingin mendekatkan diri dan memperbaiki hubungannya dengan Livia, walau Ia tahu itu tidak mungkin. Rania selalu merasa bersalah saja karena menganggap dirinya adalah orang ke-tiga, dengan bersikap baik begini semoga saja Livia itu tidak muak kepadanya.
"Nona Rania sedang apa?" tanya bibi menghampirinya.
"Aku lagi motong rumput liar bi," jawab Rania sambil tersenyum, Ia memang masih memegang gunting rumput.
"Ya ampun Nona jangan, nanti saja kan ada bagian kebun yang bertugas." Bibi tentu menjadi panik sendiri mendengar Nona nya itu bekerja hal melelahkan begitu.
"Tapi aku bosen banget bi kalau diem aja." Rania tidak bohong. Ia memang bisa saja main HP, tapi Rania lebih suka jika Ia melakukan kegiatan lain seperti dulu.
"Tapi Nona jangan kerja yang capek-capek begini, nanti bibi dan semua pekerja di rumah dimarahin Tuan."
Mendengar itu membuat Rania tersentak, "Benarkah? Ya ampun, aku minta maaf ya bi." Rania tidak tahu ini, tapi jika sampai dirinya menjadi pemicu sampai orang lain di salahkan akan membuatnya dihinggapi terus rasa bersalah.
"Mending Nona istirahat aja di dalam, kan Nona jangan kecapean," perintah bibi sambil mengusap tangannya.
"Iya."
Rania lupa jika dirinya belum berkemas untuk nanti berangkat ke Bandung, Ia sudah menanyakan pada Candra akan berapa hari mereka di sana, ternyata hanya menginap semalam saja dan besok sorenya sudah pulang lagi. Jadi Rania memutuskan hanya membawa dua pasang pakaian, satu untuk tidur dan satunya lagi saat pulang.
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, Candra pun pulang tepat waktu. Setelah pria itu membersihkan diri dan mereka menyempatkan untuk makan walau sedikit, langsung berangkat ke Bandung. Perjalanan lumayan lama, Candra bahkan yang menyetir sendiri kali ini, tidak dengan supirnya. Mungkin pria itu butuh waktu pribadi tidak mau diganggu.
"Mas," panggil Rania.
"Hm?" Candra hanya berdehem masih tetap fokus menyetir ke depan.
"Kalau semisal aku mau pindah gimana?"
__ADS_1
"Pindah kemana?" tanya Candra bingung dan baru melihatnya, "Kamu jangan nekad dan kembali ke desa." Menduga akan hal itu, emosi Candra tiba-tiba jadi naik.
"Bukan itu Mas, tapi.. Aku kepikiran Kak Livia." Kejadian tadi sangat membekas dan membuat Rania terus memikirkannya.
"Kenapa memangnya dengan dia?"
"Aku gak mau tinggal di rumah itu dan malah buat Kak Livia jadi gak nyaman." Rania memutuskan mengungkapkannya, tapi bukan berarti sekarang Ia sedang mengadu ataupun menjelekkan Livia.
"Apa maksud kamu? Livia sepertinya tidak begitu," bantah Candra.
"Aku cuman khawatir aja, pasti sebelum aku datang dia sangat nyaman berada di rumah."
Candra pun terdiam memikirkan nya, kalau dibandingkan dengan yang dulu dan sekarang Livia memang jadi agak berubah. Istrinya itu walaupun sibuk bekerja, tapi kalau sudah di rumah pasti akan bersantai di ruangan mana pun dan bebas. Tetapi semenjak ada Rania, Candra pun merasa jika Livia lebih sering mengurung diri di kamar. Apakah memang benar Livia tidak nyaman dengan kehadiran Rania?
"Gak papa, lagian Livia jarang di rumah kok," ucap Candra memberitahu. Jika sampai berbeda rumah, Candra yang akan kerepotan karena tidak bisa memperhatikan mereka secara langsung. Apakah keputusannya ini tepat?
"Iya Mas semoga aja." Rania berpikir dirinya pun tidak bisa banyak meminta pada Candra, merasa malu saja apalagi dengan statusnya yang hanya istri kedua. Tetapi Rania juga memikirkan lagi perasaan Livia, ah hatinya ini rumit sekali memang.
Perjalanan yang hampir memakan waktu tiga jam itu akhirnya berakhir juga. Candra sampai di rumah Omanya di pukul delapan malaman. Satpam depan pun dengan sigap membukakan gerbang tahu dirinya lah yang datang. Setelah Candra mematikan mesin mobilnya, Ia menoleh menatap Rania. Baru saja akan memberitahu, tapi langsung terdiam karena perempuan itu ternyata tidur.
"Dasar anak kecil," gumamnya sambil tersenyum.
Anak kecil tapi kok sudah hamil? Dirinya lagi yang menghamili nya, konyol sekali memang.
Candra pun turun terlebih dahulu, Ia sempat memanggil seorang pelayan untuk membawakan barang mereka ke dalam. Sedangkan Candra menggendong Rania dengan hati-hati karena tidak mau membangunkan. Setelah sampai di kamarnya, Candra pun membaringkan Rania dan tidak lupa menyelimuti nya.
"Kayanya Rania baru akan ketemu Oma besok, ya sudah deh gak papa," ucap Candra seorang diri. Candra pun keluar kamar untuk menemui Omanya dulu.
__ADS_1