
Saat jam makan malam, Daffin dan Elisa pun turun menuju ruang makan. Terlihat di sana sudah ada orang tuanya yang menunggu, dan langsung menyuruh keduanya untuk duduk.
"Pah ini Elisa, sahabat aku dari desa," ucap Daffin memperkenalkan diri.
Candra mengangguk pelan, "Hallo Elisa, katanya kamu kesini untuk Kuliah ya?"
"Iya Om, aku akan kuliah di Kampus yang sama dengan Daffin," jawab Elisa ramah.
"Terus apa kamu sudah dapat tempat tinggal di sini?" tanya Candra.
"Em belum, tadi saja sampai sore dan belum sempat cari kontrakan," geleng Elisa.
"Jadi kamu akan tinggal di kontrakan? Kenapa gak di apartemen? Kan bisa lebih aman dan nyaman."
Daffin langsung menoleh pada sahabatnya itu, Ia bisa mengerti keadaan Elisa yang bisa dibilang bukan orang berada. Untuk tinggal di apartemen kan sangat mahal, bahkan harus membeli unit nya.
"Enggak Om, mau di kontrakan aja, tapi ya di kontrakan yang khusus perempuaan gitu biar aman," jawab Elisa sambil tersenyum canggung.
"Ada kontrakan di dekat Kampus khusus perempuan, nanti Om bantu carikan ya?" Candra harus membantu, karena Elisa adalah teman putranya.
"Makasih banyak Om, maaf merepotkan." Elisa jadi malu sendiri, tapi juga senang di waktu bersamaan.
"Tidak apa, kamu kan temen dekat Daffin. Kalian sudah berteman lama?" tanya Candra penasaran. Ia tidak terlalu tahu karena tinggal terpisah.
"Iya kami berteman dari kecil," jawab Daffin sambil tersenyum.
Candra mengangguk-anggukan kepalanya, "Wah kalau dari kecil berarti udah deket banget, yakin nih cuman temen aja?" tanyanya menggoda.
Daffin dan Elisa pun saling bertatapan, mereka saling membalas senyuman dengan canggung. Rasanya bosan sekali mendengar orang menganggap keduanya begitu, jadi sudah terbiasa.
Mereka pun melanjutkan makan. Elisa terlihat malu-malu, tapi untungnya Daffin yang peka itu dapat membuatnya nyaman. Memang Daffin ini selalu membantunya kapanpun, sahabat yang baik.
"Ya sudah malam ini Elisa menginap saja di sini, besok apa sudah masuk Kampus?" tanya Livia.
__ADS_1
Elisa mengangguk, "Iya besok baru masuk Kampus, makasih Tante dan Om sudah izinin menginap di sini."
"Gak papa, lagian ini sudah malam. Cari kontrakan itu susah, gak bisa langsung dapat. Nanti biar Daffin besok bantu kamu carikan ya," ucap Candra.
Elisa benar-benar beruntung memiliki teman seperti Daffin, bukan hanya pria itu yang baik, tapi keluarganya juga padanya. Entah itu keluarga dari Mamanya, ataupun Papanya yang di sini.
Selesai makan malam keduanya pun naik lagi ke lantai atas istirahat. Daffin terlebih dahulu mengantar Elisa ke kamar tamu, tidak jauh dari kamarnya. Daffin dibuat terkekeh kecil melihat tingkah perempuan itu yang terlalu bersemangat.
"Daffin kayanya kamu bakalan betah tinggal di sini. Rumah yang besar, terus orang tua kamu itu perhatian dan baik banget ya," kata Elisa.
"Betah sih, tapi tetep aja aku kangen sama Mama," gumam Daffin.
"Oh iya lupa, mau telepon Tante Rania sekarang?" tawar Elisa.
"Boleh deh, coba kamu telepon dulu tapi jangan bilang ada aku ya, nanti takutnya Mama langsung matiin," ucap Daffin agak nyesek.
"Iya."
Elisa pun mencoba menghubungi nomor Tante Rania itu, beberapa detik kemudian diangkat membuatnya tersenyum. Untuk memulai basa-basi Elisa pun menanyakan kabar wanita itu dan mengobrol sebentar.
"Mah ini aku Daffin, Mama jangan matiin teleponnya ya? Aku pengen banget bicara sama Mama, aku kangen sama Mama," ucap Daffin sedikit merengek memohon.
["Mau bicara apa? Mama ngantuk, mau tidur. "]
Daffin mengerucutkan bibirnya, tahu jika Rania hanya beralasan dan ingin menghindarinya, " Mama kenapa sih susah banget di hubungi? Mama masih marah ya sama aku?" tanyanya.
["Iya Mama marah sama kamu, kamu itu baru pindah loh ke sana tapi kok sudah buat masalah. Malu sama Papa kamu Daffin."]
"Maafin aku Mah, aku juga gak tahu bakal ada kejadian begini." Daffin merasa malu pada Mama nya.
["Katanya korbannya sampai lumpuh kan? Terus sekarang gimana? Apa mereka akan bawa kamu ke jalur hukum?"]
"Aku gak tahu, tapi Papa bilang gak akan biarin aku masuk penjara. Papa lebih milih akan bayar kompensasi dan biayain pengobatan dia."
__ADS_1
["Ya Tuhan, pasti mahal kan?"]
"Iya, maafin aku Mah."
["Kamu gak perlu minta maaf sama Mama, tapi minta maaf sama Papa kamu itu. Pokoknya kamu jangan buat masalah lagi di sana, kamu harus banggain dia untuk tebus semua perbuatan kamu itu."] nasihat Rania.
"Iya Mah aku akan berusaha, aku janji. Tapi Mama juga jangan hindarin aku lagi ya? Aku butuh dukungan dari Mama."
Terdengar helaan nafas berat dari sana, ["Iya-iya, Mama juga minta maaf sempat cuekin kamu."]
Setelah mengobrol dengan Mamanya itu, perasaan Daffin lebih lega dan tenang. Benar apa kata Mamanya, Ia jangan sampai mengecewakan Papanya lagi dan harus membuatnya bangga.
Daffin lalu kembali masuk ke kamar, terdiam melihat Elisa yang ternyata sudah tertidur di tengah ranjang. Daffin lalu mendekat untuk menyelimuti tubuhnya, menyimpan ponsel Elisa juga di meja samping.
"Dia kaya anak ayam yang kedinginan," gumam Daffin sambil terkekeh kecil.
Mungkin Elisa kecapean karena perjalan dari desa ke Jakarta kan lumayan lama, apalagi naik bus. Daffin pun keluar dari kamar itu menuju kamarnya, Ia juga mau tidur karena besok ada kelas pagi.
Besok paginya di pukul enam Daffin sudah rapih bersiap akan berangkat ke Kampus. Pria itu berjalan ke kamar yang di tempati Elisa, saat akan mengetuk pintu terkejut karena perempuan itu keluar.
"Aku kira kamu masih tidur, soalnya kan kalau tidur suka kebluk," celetuk Daffin menyindir.
"Sebenarnya tadi males banget bangun, soalnya kamarnya nyaman banget. Tapi kan hari ini aku perdana masuk Kampus, jadi jangan telat dong," ucapnya.
"Ya sudah yuk kita ke bawah, sarapan dulu," ajak Daffin.
Daffin terus melirik perempuan yang berjalan di sebelahnya. Ingin sekali memuji jika Elisa cantik dengan dress khas anak muda itu, tapi Elisa setiap hari selalu cantik sih. Daffin lagi-lagi hanya bisa memendam.
Selesai sarapan dengan kedua orang tuanya, mereka pun berangkat. Elisa cukup terkejut saat melihat mobil pemberian Papa Daffin, ternyata mobil bagus dan mewah.
"Apa mobil ini juga yang nabrak dia?" tanya Elisa.
"Iya, aku terlalu senang sampai kecepatannya tinggi," jawab Daffin sambil meringis pelan.
__ADS_1
"Dasar, makanya harus ngontrol diri. Tapi aku tahu sih kenapa kamu bisa seneng, kalau aku juga yang dapet pasti suka lupa diri," celetuk Elisa membuat Daffin tersenyum.