Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Tidak Bisa Bersama Lagi


__ADS_3

Rania sempat melirik Candra, pria itu terlihat cemberut, mungkin sedih karena respon pertama Daffin saat melihatnya malah menangis. Rania dibuat tersenyum tipis melihat itu.


"Biasanya Daffin kalau sama orang asing begitu, dia hanya belum biasa aja," ujar Rania memberitahu.


"Tapi aku tetap saja sedih, padahalkan aku Papanya," sahut Candra.


Mungkin saja jika Candra selalu bersama di sini, mungkin Daffin akan mengenalinya bahkan manja kepadanya. Apakah Candra terlalu terlambat baru datang sekarang? Ia harap tidak.


"Mas Candra hanya harus pintar-pintar mengajak Daffin mengobrol, nanti juga dia pasti akan senang dengan kamu," lanjut Rania memberikan masukan, agak sedih juga Daffin bereaksi begitu pada Candra.


"Baiklah aku akan mencoba mendekatkan diri dengan dia, tapi gimana kalau Daffin menangis lagi?"


"Gak papa, kamu aja yang tenangin dia, pasti bakalan lebih dekat. Mau coba gendong sekarang?" tawar Rania.


"Em sambil duduk aja ya, soalnya kan aku belum bisa berdiri normal," ucap Candra.


"Iya gak papa."


Dengan pelan Rania pun memindahkan Daffin ke pangkuan Candra. Anak itu saat melihat siapa yang menggendongnya mulai berkaca-kaca kembali akan menangis, tubuh mungilnya pun memberontak seolah ingin melepaskan diri.


"Gak papa sayang, itu Papa Daffin loh. Daffin baru ketemu Papa kan? Dia mirip sama kamu, jangan nangis ya," bujuk Rania ikut menenangkan putranya.


Sayangnya Daffin tetap merasa tidak nyaman dan merentangkan tangan pada Rania seolah minta diambil. Tetapi Rania tidak melakukan, Daffin harus mengenalkan diri dengan Candra.


"Rania sepertinya dia akan menangis lagi, kamu ambil saja. Aku tidak bisa melihat dia menangis, hatiku rasanya sakit," ujar Candra. Mungkin Ia dan Daffin memiliki ikatan batin kuat.


"Tidak apa tenang lah, coba ajak Daffin mengobrol atau bermain. Sebentar aku bawakan mainan kesukaan dia." Rania pun beranjak membawa salah satu mainan di keranjang besar, lalu memberikan pada Candra.


Mainan itu hanya mainan biasa, sebuah boneka beruang berukuran sedang. Hanya saja memang bisa bersuara, bagian dada yang ditekan pun memancarkan cahaya merah yang lucu. Dengan sedikit gugup, Candra pun mulai mengajak anaknya itu bermain.


"Ini mainan kesukaan Daffin? Daffin mau yang lebih besar gak? Papa bisa beliin yang lebih besar," ujar Candra yang malah ingin memamerkan kekayaannya.


Daffin lalu merebut boneka itu dan memeluknya erat, Candra pun hanya membiarkan saja yang terpenting anaknya itu sudah lebih tenang. Percayalah detak jantungnya tidak karuan sekarang, merasa senang saja bisa menggendong Daffin.

__ADS_1


"Apa mainan Daffin banyak? " tanya Candra.


"Tidak terlalu, tapi memang sengaja sih," jawab Rania. Jangan sampai Candra itu malah akan membelikan.


"Aku sedikit kaget karena mainan kesukaan dia malah boneka beruang ini, aku kira robot atau mobil-mobilan," katanya sambil terkekeh kecil.


Rania ikut tersenyum, "Iya, boneka itu jadi mainan dia dari saat tiga bulan dan selalu dibawa ke mana-mana."


"Lucu banget anak Papa ini." Candra pyn mengecup puncak kepala Daffin, "Kamu beli dimana emangnya?"


"Bukan aku yang beli, tapi itu hadiah dari Mas Yoga," jawabnya santai.


Senyuman di bibir Candra pun seketika itu juga menghilang. Candra juga tahu kabar mengenai kedekatan Rania dengan orang kepercayaannya itu, bahkan katanya mereka sudah menjalin hubungan cukup serius dari lama.


"Apa dia yang jadi pengganti aku selama ini?" tanya Candra menahan sedih.


"Maksudnya?"


Rania menghela nafasnya pelan, "Mas tahu aku ada hubungan dengan Mas Yoga?" tanyanya memastikan dulu.


"Aku dengar dari lama, jadi benar?"


"Iya tapi.. Kami tidak bisa bersama," jawab Rania pelan di kalimat akhir.


"Kenapa?"


"Karena sampai saat ini Mas belum memutuskan bagaimana hubungan kita. Aku sampai sekarang masih menunggu, Mas sengaja mempermainkan aku?"


Candra tersentak mendengar itu, "Kamu masih serius mau meminta berpisah? Aku kira kamu sudah melupakannya."


"Keputusan aku masih sama dari dulu, aku pikir juga ini yang terbaik. Jujur saja setelah pergi, aku merasa hidup lebih baik di sini. Mas Yoga bahkan pernah bilang, kalau aku terlalu berharga. Mendengar itu, aku merasa dia bisa memperlakukan aku lebih baik."


Candra merasa tertohok mendengar itu, Ia pun tersenyum kecut menahan sesak di hati. Perasaan cemburu itu masih ada, membuktikan jika sebenarnya Candra ada perasaan kepada Rania.

__ADS_1


"Maaf jika aku jadi penghalang di antara hubungan kamu dengan Yoga. Seharusnya kalian bisa meresmikan hubungan dari lama, tapi karena aku kalian masih belum bisa," ucap Candra pahit.


"Jadi Mas membawa surat cerai itu, kan?"


"Kenapa Rania? Kenapa terburu-buru sekali?" tanya Candra.


"Hah? Tapi aku sudah menunggu ini dari lama, jadi Mas belum membuatnya sampai sekarang?" Rania jadi kembali kesal, tapi harus berusaha menahannya.


"Tenang saja, aku bawa kok. Aku datang kesini selain untuk bertemu Daffin, juga ingin membicarakan kelanjutan hubungan kita."


Candra lalu kembali cerita jika dirinya masih berharap Rania tidak pergi, mungkin saja mereka bisa bersama dan memperbaiki hubungan. Tetapi ternyata dugaan Candra salah, saat datang kesini Rania malah menagihnya.


"Mungkin aku terlalu membuat kamu kecewa, sampai tidak ada lagi kesempatan untuk kita bersama. Aku benar-benar minta maaf karena sudah membohongi kamu terlalu banyak, sungguh aku minta maaf Rania." Candra mengatakan itu dari hati yang paling dalam.


Rania mengangguk pelan, "Iya Mas, aku sudah maafin Mas Candra kok. Aku juga gak pernah benci sama Mas. Mungkin ini memang jalan yang terbaik, kita bisa bahagia masing-masing," ucapnya.


Candra mengangkat kepalanya menatap perempuan itu yang berdiri di depannya, "Kamu bahagia setelah berpisah dengan saya?"


"Entahlah, tapi bisa dikatakan begitu juga." Rania harus jujur, ya walau mungkin akan sedikit menyakiti perasaan Candra.


Candra kali ini yang mengangguk mengerti, Ia juga harus sadar diri kalau memang sepertinya Rania saat bersamanya tidak terlalu bebas dan penuh tekanan. Candra tidak boleh egois, perempuan itu juga bisa bahagia tanpa nya.


"Sepertinya nanti aku harus bicara berdua dengan Yoga," celetuk Candra.


"Mas tidak akan aneh-aneh kan pada dia?" tanya Rania khawatir.


"Memangnya kamu kira aku akan apakan dia?"


"Em mungkin saja memecat Mas Yoga atau--"


Candra terkekeh kecil, "Sebenarnya aku bisa saja, tapi pasti akan dianggap bos tidak profesional karena membawa masalah pribadi ke pekerjaan. Apalagi Yoga itu sudah mengabdi lama, dia juga orang yang paling aku percayai."


Candra jadi merasa di khianati, tapi konteks nya di sini tidak bisa dikatakan begitu saja. Hanya saja Candra cukup tahu banyak tentang Yoga, berpikir jika pria itu juga tidak buruk untuk Rania yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2