Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Dicurigai Semua Orang


__ADS_3

Mendengar itu adalah Candra, membuat Rania semakin panik sampai menjambak rambutnya sendiri. Apakah pria itu akan menanyakan perihal kertas kontrak itu? Apa sudah tahu jika yang membawanya adalah dirinya?


"Rania?" panggil Candra sekali lagi.


"I-iya Mas sebentar," ucap Rania.


Setelah menenangkan dirinya, Rania pun perlahan membuka pintu dan langsung tersenyum kikuk pada suaminya itu seolah tidak terjadi apapun.


"Ada apa Mas?" tanya Rania.


"Kenapa masih di sini? Ayo makan," ajak Candra.


"Oh iya yuk."


Ternyata pria itu mau mengajaknya makan malam, bukan menginterogasi nya ini itu. Untuk saat ini Rania masih bisa tenang. Ternyata di meja makan sudah ada Livia yang menunggu, anehnya Rania kembali merasa gugup.


Rania pun duduk di kursi kosong dan mulai membawa makanannya sendiri. Kebetulan posisi duduknya tepat berhadapan dengan Livia dan Candra, jadi Rania merasa seperti terus di perhatikan dua orang itu. Mungkin hanya perasaannya saja.


"Rania katanya kemarin malam kamu tidur di kamar atas ya?" tanya Candra memulai obrolan.


"Hah? I-iya soalnya mati lampu dan mbok bilang cuman di kamar Mas yang ada lampu emergency. Tapi aku gak tidur di sana kok, turun lagi," jawab Rania.


"Kenapa gak tidur di sana? Kan di bawah gelap," ujar Candra bingung.


"Em gak enak aja, itu kan kamar Mas sama Kak Livia. Aku takut lancang, apalagi gak sempat ngabarin kalian." Rania jujur merasakan ini saat di kamar itu.


"Padahal gak papa kok, yang penting kamu dan bayinya nyaman aja. Apalagi malam tadi kan kita lagi gak ada, jadi seharusnya kamu bisa jaga diri kamu sendiri baik-baik," ucap Candra.


"Iya Mas."


Setelah itu mereka melanjutkan makan lagi. Walau begitu Rania merasa tidak nafsu sama sekali, Ia makan dengan pelan dan sedikit-sedikit. Tenggorokannya terasa tercekat sampai membuatnya sulit menelan.


"Rania, apa kamu yang rapihin rak buku aku?" tanya Candra lagi.


Deg!

__ADS_1


Pertanyaan ini pasti akan merembet ke mana-mana, membuat Rania semakin gugup tapi tidak mungkin juga bisa menghindar. Haruskah Rania jujur atau bohong? Melihat dua orang di depannya yang menatapnya dalam, membuat Rania pun terpaksa harus menjawab.


"Iya Mas, banyak buku yang jatuh jadi aku beresin di rak," jawab Rania.


"Em apa kamu nemuin sesuatu di sana?" tanya Candra.


Sebelah alis Rania terangkat, "Sesuatu apa?" tantang nya.


"Kertas lipat."


"Aku gak tahu, ada beberapa kertas di sana jadi bingung yang mana. Apa Mas bisa jelasin lebih? Mungkin aku akan tahu." Kira-kira apakah Candra akan menjelaskan lebih detail? Memangnya pria itu berani?


Candra sempat melirik Livia, seolah meminta bantuan istrinya itu untuk menjelaskan pada Rania tanpa menyebutkan ciri-cirinya yang detail. Tetapi sepertinya Livia juga bingung, sama seperti dirinya.


"Maaf sebelumnya Rania, tapi kamu gak bawa apa-apa kan dari kamar atas?" tanya Livia.


"Enggak kok, apa barang Kakak ada yang hilang?" tanya Rania balik. Ia berbohong untuk yang satu ini, karena untuk kepentingannya sendiri.


"Bukan barang aku tapi.. Em ada surat penting di sana yang hilang. Katanya kan kamu yang beresin, jadi mungkin aja--"


Rania yakin sekali saat ini Candra dan Livia sedang panik, khawatir dirinya menemukan surat kontrak itu. Terlambat karena Rania memang sudah melihatnya. Tetapi Rania tidak akan jujur, Ia sedang memikirkan sebuah rencana.


"Aku gak berani ambil apapun di kamar kalian, karena pasti berharga. Selain itu aku juga gak terlalu mengerti tentang hal begituan, aku kan cuman orang biasa dan pendidikan aku juga rendah," ucap Rania sambil tersenyum.


Terlihat Livia dan Candra menganggukan kepala, entah apa sekarang mereka mengerti atau tidak. Sebenarnya Rania tidak nyaman sekali berada dalam situasi seperti ini, peritnya bahkan terasa mulas. Mungkin bayinya pun ikut merasakan.


"Ekhem sudah-sudah ayo lanjutkan makan," tegur Candra.


Selesai makan malam Rania langsung meminta izin untuk ke kamarnya beralasan ingin istirahat lebih awal. Rania tahu mereka belum percaya sepenuhnya kepadanya, mungkin saja akan mencari tahu lagi.


Rania langsung duduk di ranjangnya sambil membaca lagi isi surat kontrak itu. Walaupun sekarang air matanya tidak jatuh, tapi percayalah hatinya sedih sekali. Rania semakin yakin jika Candra hanya menginginkan bayinya, lalu setelah mendapatkan akan langsung membuangnya.


"Sayang, apa nanti kita akan berpisah?" tanya Rania sambil mengusap perutnya.


Jika Candra dan Livia benar akan memisahkannya, sungguh mereka tidak punya hati sekali. Ada hal paling sedih yang Rania pikirkan, bagaimana jika mereka yang mengaku menjadi orang tua kandung? Sedangkan dirinya tidak diakui dan tidak dikenalkan.

__ADS_1


"Hiks hiks aku tidak mau, aku gak mau pisah sama bayi aku!" isak Rania.


Saat tahu hamil Rania memang sempat tidak menerima keberadaannya, tapi sekarang Ia sudah sangat menyayangi dan mencintai bayinya ini. Rania pikir hidupnya sudah baik-baik saja, tapi ada saja cobaan yang datang.


"Tidak akan, mereka tidak akan bisa memisahkan kita," gumam Rania.


Rania beranjak dari duduknya mendekati lemari, Ia mengeluarkan beberapa tas miliknya. Apa yang Rania pikirkan? Jadi Ia akan melarikan diri? Hanya inilah satu-satu caranya supaya Rania selamat dan bayinya tidak di ambil.


Tok tok!


"Rania kamu sudah tidur?" panggil Candra dari luar kamar.


Rania terkejut mendengar itu, dengan segera Ia pun memasukan tas nya yang sudah Ia masukan beberapa pakaian ke dalam lemari lagi. Untungnya setelah lemari tertutup, Candra baru masuk. Pria itu membawa segelas susu, setiap hari selalu rajin membuatkan untuknya.


"Aku kirain kamu sudah tidur, hampir lupa kamu belum minum susu," ucap Candra.


"Belum Mas," jawab Rania. Ia pun menerima susu itu sambil mengucapkan terima kasih.


Bukannya langsung pergi, Candra malah asik memperhatikan Rania yang minum susu. Setelah susunya habis, Rania pun kembali memberikan gelasnya pada Candra.


"Kenapa Mas?" tanya Rania.


"Gak papa, sekarang kandungan kamu sudah berapa bulan?" tanya Candra penasaran.


"Sebentar lagi juga tujuh bulan," jawab Rania.


"Gak kerasa ya sebentar lagi dia lahir, aku benar-benar menantikan." Candra dibuat tersenyum sendiri saat mengatakan itu.


Tetapi sayangnya Rania tidak terlalu menantikan nya cepat-cepat, karena merasa khawatir dan sedih jika dirinya di ceraikan dan di pisahkan dengan bayinya. Apa mungkin Candra sudah muak ya padanya?


"Aku mau pipis dulu," ucap Rania. Ia beranjak masuk ke kamar mandi yang masih ada di sana.


Setelah menyelesaikan hajatnya, Rania pun keluar. Ternyata Candra belum pergi, pria itu sedang membuka laci lemari seperti mencari sesuatu. Menduga jika sepertinya Candra sedang mencari surat itu, membuat Rania panik.


"Mas sedang apa?" tanya Rania.

__ADS_1


__ADS_2