Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Lebih Dari Teman


__ADS_3

Di pukul lima subuhnya Rania dan Yoga sudah bersiap, mereka akan pulang lagi ke desa. Tidak lupa berpamitan kepada kedua orang tua Yoga. Rania merasa senang bisa di sambut dengan baik di sini.


"Katanya sebentar lagi kamu melahirkan ya Rania?" tanya Aisyah.


"Iya Tante, kata Bu bidan di minggu ini," jawab Rania.


"Semoga lancar ya sayang lahirannya, kamu perempuan kuat dan hebat. Tenang saja, Yoga akan temenin kamu nanti." Sepertinya Aisyah sudah mendukung mereka, terus mendorong putranya untuk memanfaatkan waktu.


Rania hanya tersenyum tipis, "Makasih Tante."


"Kalau Yoga ke Jakarta, kamu ikut ya. Pintu rumah akan selalu terbuka lebar untuk kamu, Tante juga jadi gak sabar pengen gendong anak kamu," kata Aisyah yang di selipi kode pada sang putra.


Rania dan Yoga lalu menyalami tangan pasangan paruh baya itu. Rania lalu masuk ke mobilnya lebih dahulu, Ia juga memakai seatbelt agar aman. Kepalanya menoleh melihat ke luar, terlihat Yoga masih berpamitan dengan orang tuanya. Entah mengobrol kan apa, tapi terlihat asik karena sampai tertawa.


"Sudah siap Nyonya?" tanya Yoga saat memasuki mobil.


"Siap, kita langsung berangkat sekarang?"


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Yoga balik, pria itu lalu terpikirkan sesuatu, "Apa kamu mau jenguk Pak Candra untuk terakhir kali?" duganya begitu.


Rania tersentak mendengar itu, "Bu-bukan itu, mungkin aja Mas Yoga ada urusan kemana gitu."


"Oh enggak kok, jadi gimana? Mau ke rumah sakit dulu?" tawar Yoga berbaik hati, lagi pula kan kapan lagi ke Jakarta.


Rania terdiam membatin berkecamuk dengan hatinya. Sebenarnya Ia ingin menjenguk Candra untuk terakhir kali sebelum pulang ke desa, tapi Rania khawatir malah membuat dirinya kepikiran terus. Lagi pula masalahnya juga dengan keluarga itu sudah selesai.


"Enggak usah Mas, kemarin kan sudah," jawab Rania sambil berusaha tersenyum.


"Kamu yakin? Aku gak masalah kok kalau kamu mau ke sana lagi," ucap Yoga.


"Gak papa, kita langsung pulang aja." Rania sudah memutuskan ini, Ia memilih mengalahkan rasa penasarannya.


"Baiklah, kita berangkat sekarang. Jangan lupa baca doa ya."


"Iya."


Mungkin Rania akan menanyakan perkembangan kabar Candra kepada Leon nanti, hubungannya dengan lelaki itu masih berjalan baik dan terkadang saling mengirim pesan. Sayang sekali saat ini Leon sedang tugas di luar kota, jadi mereka tidak bertemu saat Rania ke Jakarta.

__ADS_1


"Kamu sebentar lagi melahirkan, tapi malah melakukan perjalanan jauh begini. Apa gak papa?" tanya Yoga sambil tetap fokus menyetir.


"Aku juga gak tahu, tapi namanya juga lagi genting. Gak papa mungkin, lagian aku gak ngerasa apapun," sahut Rania sambil mengusap perutnya.


"Nanti kalau misal kamu ngerasain tanda-tanda mau melahirkan, jangan lupa kabari aku ya," ucap Yoga.


Rania mengangguk pelan, "Iya nanti pasti aku kabari, tapi jangan sampai Mas malah ninggalin pekerjaan, aku gak mau ganggu."


"Gak papa, lagian kamu lebih penting."


Mendengar itu membuat bibir Rania melengkungkan senyuman tipis, hatinya jadi merasa senang. Entahlah apa status mereka sekarang, tapi yang pasti kan kemarin malam mereka sudah saling mengungkapkan perasaan. Tetapi sepertinya sudah tidak bisa dikatakan sebagai teman biasa.


"Kamu tidur aja, pasti ngantuk," ucap Yoga.


"Gak papa? Terus Mas gimana?"


"Gak papa, aku sudah biasa perjalanan jauh begini. Aku juga gak terlalu ngantuk, kamu tenang aja."


"Ya sudah aku tidur sebentar ya."


Terkadang Yoga menghentikan mobilnya di sebuah rest area untuk beristirahat sebentar bersama Rania. Melihat perempuan itu yang terlihat kepayahan dan tidak bisa bergerak bebas karena perut besarnya, membuat Yoga selalu khawatir sendiri.


"Perjalanan yang panjang, akhirnya kita sampai juga," ucap Yoga melihat rumah Rania yang tinggal sedikit lagi jaraknya.


Rania tersenyum lebar, "Iya, tapi cukup menyenangkan. Aku gak nyesel ikut Mas Yoga ke Jakarta, makasih ya Mas sudah ajak aku."


"Iya sama-sama, aku juga senang kamu ikut. " Karena Yoga bisa sekalian mengenalkan Rania kepada kedua orang tuanya. Ajaibnya lagi kedua orang tuanya pun menyukai Rania.


Mobil pun berhenti tepat di depan halaman depan rumah Rania, keduanya lalu turun. Yoga juga dengan sigap membawakan tas Rania dan paperbag, oleh-oleh pemberian Bundanya untuk Rania. Mereka lalu masuk ke dalam rumah.


"Kalian sudah pulang?"


Rania terkejut melihat kehadiran Neneknya di dalam rumah, Ia pun langsung mendekat dan memeluk wanita paruh baya itu. Neneknya bilang kemarin malam kesini, sudah tahu juga Rania pergi ke Jakarta karena ada urusan.


"Aku kira Nenek kesininya hari ini pas aku pulang dari Jakarta," ucap Rania.


"Enggak, Nenek sekalian jagain rumah kamu."

__ADS_1


"Ah Nenek bisa aja."


Ima tersenyum lembut, "Gimana di perjalanan? Lancar kan? Kamu gak mabuk atau ngerasa gak enak badan?" tanyanya.


"Aku baik-baik aja, gak ada halangan juga. Semua urusan aku di sana sudah selesai, sekarang aku ngerasa lebih lega," jawab Rania sambil tersenyum lebar.


"Syukurlah kalau begitu, tapi nanti Nenek ingin dengar ceritanya dari kamu ya."


"Iya Nek."


Nenek Ima lalu menghampiri Yoga, dan pria itu dengan sigap menyalami tangannya dengan sopan. Keduanya tentu sudah saling kenal. Walaupun Yoga di tempat kerja Nenek Ima sebagai atasan, tapi pemuda ini tidak sombong dan baik hati pada semua orang.


"Makasih ya nak Yoga sudah ajak Rania ke Jakarta," ucap Nenek Ima.


"Sama-sama Nek, tapi gak perlu bilang makasih karena aku juga sama -sama perlu pergi ke sana." Ya walau mereka berbeda urusan, tapi tetap saja menjenguk Candra.


"Nenek bawakan minum dulu ya untuk kamu, pasti capek banget nyetir berjam-jam," tawarnya.


"Enggak usah Nek, kayanya aku mau pulang sekarang aja," tolak Yoga cepat.


"Loh kenapa buru-buru? Gak mau istirahat dulu sebentar di sini?"


Sebenarnya Yoga ingin, tapi Rania juga pasti kelelahan dan butuh istirahat, "Di rumah aja istirahatnya, soalnya nanti siang juga mau ke kebun cek sesuatu."


"Nak Yoga ini memang rajin dan pekerja keras ya," puji Nek Ima sambil menepuk-nepuk bahunya.


"Hehe makasih Nek, sudah jadi tanggung jawab aku." Yoga jadi sedikit malu mendapatkan pujian dari Nenek perempuan yang disukainya.


Yoga pun berpamitan kepada mereka, setelahnya pergi dari sana. Nenek Ima pun tidak lupa menutup pintu rumah lagi, juga membawakan tas dan paperbag besar itu ke kamar Rania.


"Kamu mau tidur?" tanya Ima.


"Iya aku ngantuk banget, padahal di perjalanan banyak tidur," jawab Rania.


"Mungkin kamu kecapean, ya sudah tidur aja."


"Hm." Rania berdehem pelan lalu memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2