Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 38


__ADS_3

Sepertinya bukan hanya Daffin yang terkejut mendengar itu, tapi keluarganya juga. Semuanya langsung menatapnya bertanya, meminta jawaban yang sebenarnya.


"Aku gak nyangka ternyata Daffin sudah menyukai aku dari lama, dia benar-benar hebat menyembunyikan perasaannya. Tapi aku senang, aku gak akan sia-sia kan dia lagi," ucap Elisa dengan senyuman lebarnya.


"Tuh kan Papa juga sudah duga dari awal, akhirnya kalian jadian juga. Memang sih gak ada namanya sahabat antara cewek dan cowok, karena pasti akan ada rasa suka," celetuk Yoga sambil bertepuk tangan.


Daffin memilih melepaskan pelukan tangan Elisa, "Elisa kamu bicara apa sih?" tanyanya berbisik.


"Daffin, aku juga menyukai kamu. Jadi apa salahnya kita mencoba menjalin hubungan?" tanya Elisa menatapnya dalam penuh harap.


"Tapi--"


Trak!


Kepala Daffin langsung menoleh ke asal suara mendengar benda terjatuh, terlihat Cynthia langsung meminta maaf karena tidak sengaja menjatuhkan sendok. Saat akan membungkuk membawanya, Rania pun segera menahannya.


"Ambil sendok baru saja, itu sudah kotor," kata Rania.


"Em Tante, saya mau ke toilet. Di sebelah mana ya?" tanya Cynthia mengalihkan obrolan.


"Gak terlalu jauh, di sebelah dapur juga ada toilet. Biar Devina anter kamu ya?" tawar Rania.


"Enggak usah Tante, aku bisa kok sendiri. Kalau gitu, aku permisi dulu." Cynthia lalu dengan berusaha keras mendorong kursi rodanya sendiri, rasanya malu menjadi pusat perhatian dan dirinya terlihat lemah sekali.


Entah kenapa saat Daffin menatap Cynthia, perasaannya jadi campur aduk. Daffin rasanya tidak mau membuat perempuan itu salah paham karena tadi Elisa yang mengaku begitu, haruskah Daffin jelaskan nanti?


"Jadi dari sejak kapan Kakak dan Kak Elisa jadian? Apa masih baru?" Kini giliran Devina yang bertanya, adiknya itu terlihat masih meragukan.


"Masih baru kok, iya kan Daffin?" tanya Elisa.

__ADS_1


Daffin hanya diam saja, tidak menggeleng ataupun mengiyakan. Sekarang Ia bimbang sekali dengan hatinya, merasa ini tidak benar. Tetapi Daffin juga jika menjelaskan, takut malah membuat Elisa tersinggung.


Sepertinya nanti Daffin harus bicara juga dengan Elisa. Kenapa perempuan itu mengaku jadi pacarnya di depan keluarganya? Apakah Elisa sengaja? Daffin menghela nafasnya berat banyak pikiran.


"Sebentar aku lihat Cynthia dulu, takut dia kenapa-napa," ucap Daffin lalu beranjak dan pergi dari sana. Elisa yang melihat itu langsung cemberut.


Daffin mengetuk pelan pintu kamar mandi, tidak lama terbuka juga dari dalam. Cynthia terlihat terkejut melihat nya, tapi perempuan itu memilih mendorong kursi rodanya sendiri. Tetapi Daffin malah menahannya.


Untuk beberapa saat keduanya saling bertatapan dan terdiam, tapi Cynthia segera mengalihkan. Daffin lalu berjongkok di depan Cynthia, agar bisa bertatapan dengannya. Terlihat sekali Cynthia seperti terus menghindari kontak mata dengannya.


"Cynthia, aku bisa jelaskan," ucap Daffin.


"Jelaskan apa?" tanya Cynthia masih belum menatapnya.


"Soal tadi saat Elisa mengaku kalau aku dan dia pacaran. Aku--"


Tiba-tiba Cynthia terkekeh sinis, "Kenapa harus jelasin ke gue? Bukannya lo sama dia emang udah jadian ya?" tanyanya sinis.


Lagi-lagi Cynthia pun memotong perkataannya, "Ya harusnya lo kan seneng karena sekarang cewek yang lo suka itu juga mulai suka sama lo. Lagian emang salahnya jadian? Toh memang cerita akhirnya begitu kan?" tanyanya menohok.


Daffin terdiam beberapa saat sambil mengatur nafasnya. Yang dikatakan Cynthia memang benar, tapi entah kenapa Daffin merasa ini tidaklah benar. Dulu mungkin Ia inginnya seperti ini, tapi sekarang malah terbebani.


"Kita gak akan lama kan di sini? Kalau lo gak nganterin gue pulang gak papa, gue bisa pesen taxi aja," tanya Cynthia mengalihkan pembicaraan.


"Nanti aku anterin kamu kok, tapi jangan buru-buru pulang. Mama aku kayanya masih pengen bicara sama kamu," ucap Daffin.


Padahal Cynthia ingin cepat pulang, merasa sesak saja melihat Daffin dan Elisa terus bersama. Tetapi Cynthia sangat baik menyembunyikan ekspresi wajahnya, Ia tidak mau Daffin tahu bagaimana perasaan aslinya.


Daffin pun segera mendorong lagi kursi roda Cynthia ke ruang makan, terdengar gelak tawa di sana yang biasanya karena mendengar cerita dari Devina. Setelah Cynthia kembali di tempatnya, Daffin pun duduk lagi di kursinya.

__ADS_1


"Nanti kalau semisal sudah serius langsung nikah aja, soal masalah biaya dan segalanya kan ada kami. Oma dan Opa pengen banget lihat kamu menikah dulu Daffin," ucap Oma nya dengan senyuman manis.


"Oma aku kan masih sembilan belas tahun, sekarang juga masih semester satu kuliah. Perjalanan aku masih panjang, belum lagi berkarir," sahut Daffin dibuat malu sendiri mendengar nasihat itu.


"Tapi sekarang banyak loh yang menikah muda, lagian Oma juga yakin kalau soal finansial kamu tetap mampu Daffin," kata Oma nya belum menyerah. Keluarganya kan kaya raya.


Elisa lalu menyahut, "Kalau menikah sih aku siap-siap saja, aku gak papa kok nikah muda."


Daffin sekilas melirik Elisa yang terlihat senang, tapi Ia malah menghela nafas berat tidak setuju mendengar itu. Matanya lalu melirik ke arah Cynthia, perempuan itu terlihat tetap fokus makan, walau Ia yakin telinganya pasti mendengarkan dengan baik.


"Jangan dengarkan kata Oma, Daffin. Papa saja duku menikah dengan Mama kamu pas tiga puluh tahun. Papa puas-puasin dulu nikmatin masa muda, sebelum membangun rumah tangga karena gak akan bisa bebas lagi," celetuk Yoga yang kali ini mendukungnya.


Plak!


Tiba-tiba Oma memukul paha putranya itu, "Iya dan gara-gara kamu nikah di usia matang gitu, sekarang Mama sama Opa baru punya cucu di usia yang gak lagi muda," ketusnya.


"Hehe ya namanya juga anak laki-laki, gak usah gengsi lah belum nikah. Yang utama itu karir Mama, kalau sudah sukses kan siap juga bangun rumah tangga," kata Yoga sok manis.


Makan siang itu pun berakhir di pukul dua, mereka lebih banyak mengobrol dan hanya makan sedikit-sedikit. Sekarang Daffin sedang mencari Cynthia, perempuan itu tadi dibawa Mamanya entah kemana.


Setelah ke mana-mana mencari, ternyata Cynthia dan Mamanya sedang di halaman belakang. Sepertinya mereka sedang mengobrol. Daffin pun berencana menghampiri, tapi Elisa tiba-tiba menghadangnya.


"Daffin bantuin aku dong," pinta Elisa sambil tersenyum lebar sampai menunjukan deretan giginya.


"Bantu apa?" tanya Daffin bingung.


"Aku lagi ngerjain karya seni, tugas dari Dosen. Tapi aku kurang ngerti, aku yakin kamu pasti tahu. Ajarin aku ya?" bujuk Elisa sambil menarik-narik tangannya.


"Emangnya tugasnya kapan di kumpulin?"

__ADS_1


"Masih beberapa hari lagi sih, tapi aku pengen cepet selesai biar beres aja. Yuk!" Tanpa mau mendengar tanggapan Daffin, Elisa pun menarik pria itu kembali masuk ke rumah.


__ADS_2