Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menganggap Bahagia


__ADS_3

Setelah Neneknya bangun, Rania dengan senang hati mengajak Neneknya itu berkeliling melihat rumah. Kebetulan nya lagi Livia pun sedang tidak ada, jadi Rania sedikit lega. Selain merasa segan dan malu, khawatir Livia membocorkan rahasia ini. Bukan hanya Candra yang khawatir, tapi Rania pun sama.


"Nak, rumahnya bagus banget ya. Di desa mana ada yang punya rumah besar dan mewah begini," puji Neneknya. Matanya terus berbinar melihat seisi ruangan, barang-barangnya pun pasti mahal-mahal.


"Iya Nek, aku juga gak nyangka bisa tinggal di rumah besar begini," sahut Rania.


"Kamu betah kan tinggal di sini?"


Tidak, "Hehe betah kok, siapa yang gak betah coba tinggal di rumah bagus begini?" Rania berbohong dengan berpura-pura baik-baik saja, tidak mau membuat Neneknya khawatir.


"Iya kamu benar, siapa juga yang gak betah tinggal di sini," ucap Neneknya menganggukan kepala.


"Nenek mau ikut tinggal di sini? Jadi nanti Nenek gak perlu pulang lagi ke desa," tawar Rania setengah serius, tapi jika pun Neneknya mau tentu saja Ia sangat senang.


Nenek Ima tersenyum tipis lalu mengusap kepala cucunya itu, "Nenek gak akan betah tinggal di sini," ucapnya blak-blakkan.


"Loh kenapa?"


"Udara di Jakarta sangat panas ya, selain itu rumah ini dari tembok begini. Nenek nyamannya di rumah kayu, di desa juga udaranya sejuk. Nenek sudah terbiasa di sana."


Rania pikir alasannya apa, ternyata seperti itu dan bisa Ia terima. Awalnya Rania juga kurang biasa tinggal di rumah seperti ini, ya karena dari dulu tinggal di rumah kayu dan cuaca di Jakarta dengan di desanya sangat berbeda jauh. Tetapi karena sekarang sudah lama di sini, Rania pun jadi terbiasa.


"Kenapa kamu gak pernah jenguk Nenek ke desa? Nenek selalu nungguin kamu pulang," tanya Neneknya dengan sedih.


"Maaf ya Nek, sebenarnya aku juga pengen banget jenguk Nenek tapi--"


"Suami kamu sibuk ya?" Tadi kan Ima sudah bertanya pada Candra, jadi Ia sudah tahu.


"Iya Nek, dia sibuk banget ngurus perusahaan. Pagi berangkat dan malam baru pulang."

__ADS_1


"Tapi gak papa, punya suami yang pekerja keras itu kan bagus. Berarti dia orang yang bertanggung jawab dan benar menyayangi kamu juga calon anak kamu," ucap Neneknya sambil mengusap perut Rania.


Rania hanya tersenyum kikuk mendengar perkataan dari Neneknya. Kalau saja Neneknya itu tahu, Candra bekerja keras mendapatkan banyak uang bukan hanya untuk membiayai Ia dan bayinya, tapi juga ada perempuan lain. Bagaimana ya?


"Oh iya, dimana orang tua Candra? Nenek harus ketemu dia."


"Mas Candra sudah gak punya orang tua Nek, maaf ya aku baru ngasih tahu."


"Begitu ya? Tidak papa sih, tapi pasti dia masih punya keluarga, kan?"


"Punya kok," angguk Rania dan langsung terpikirkan seseorang, "Oma Amara, tapi beliau tinggal di Bandung. Mungkin seumuran juga sama Nenek."


"Kamu sudah bertemu Omanya?"


"Sudah, dan Oma Amara baik banget. Kalau lagi sama dia, aku ngerasa lagi sama Nenek."


Ima semakin yakin jika keadaan cucunya ini baik-baik saja, baik suami dan keluarganya pun dapat menerima kehadirannya, Rania pun terlihat terus memuji mereka dengan baik. Ima lega karena Ia bisa melihat langsung, jadi nanti tidak akan cemas lagi.


"Selamat siang mbok," sapa Rania ramah seperti biasa.


"Selamat siang juga Non Rania, ayo makan dulu." Perhatian mbok Nina teralih pada wanita paruh baya di sebelah Rania, Ia tidak mengenalinya.


"Oh iya hampir lupa, kenalin mbok ini Nenek aku. Tadi subuh dia baru datang, dan kayanya di sini bakalan lima hari," ucap Rania memperkenalkan.


Mbok Nina pun mendekat sambil mengatupkan kedua tangannya, "Salam kenal Nek, saya mbok Nina. Sudah lama kerja jadi pembantu di sini."


"Ah iya, salam kenal juga."


Melihat kedua wanita paruh baya itu yang terlihat kikuk berinteraksi, membuat Rania terkekeh kecil karena merasa lucu sendiri. Setelahnya Rania mengajak Neneknya untuk duduk dan mulai makan, bahkan Rania pun sempat mengajak mbok Nina untuk makan bersama.

__ADS_1


"Jangan Non, gak sopan makan semeja," tolak mbok Nina sopan.


"Gak papa mbok, kan saya yang ajak duluan." Rania lalu beranjak dan mendorong pembantunya itu untuk duduk di kursi, "Mbok jangan sungkan ih sama saya, tenang saja."


Mbok Nina tidak bisa menahan senyumannya, lalu beralih menatap Nek Ima, "Rania ini memang sangat baik, sama siapapun juga. Nenek hebat dapat mendidik dia menjadi perempuan yang sopan dan baik pada semua orang."


Nek Ima ikut tersenyum mendengarnya, Ia pun merasa bangga dengan kepribadian Rania yang baik itu, "Iya mbok, dari dulu juga dia memang begitu."


Walaupun mbok Nina itu di sini hanya pembantu, tapi Rania tidak pernah menganggapnya lebih rendah, baginya semua sama saja. Mungkin mbok Nina merasa canggung saja, karena Livia tidak pernah se terbuka itu seperti dirinya. Jangan salah paham, Rania bukan maksud membanding-bandingkan.


"Rania ini kan tidak suka ke mana-mana, setiap hari pasti di rumah saja. Dan mbok yang selalu temenin dia, mengobrol lah atau apapun. Kami jadi dekat gitu aja," ucap mbok Nina menceritakan pada Nek Ima.


"Saya senang dia bisa punya hubungan yang baik pada semua orang," sahut Nek Ima sambil menatap cucunya itu lembut. Walaupun sekarang Rania sudah naik kasta menjadi orang kaya, tapi cucunya tidak sombong.


"Selama Nenek di sini, jangan sungkan ya pada saya. Nenek bisa minta apapun, nanti saya akan layani."


"Ah tidak Papa, Nenek bisa lakuin sendiri kok," tolak nya. Tidak enak juga menyuruh-nyuruh orang lain, walau memang sudah pekerjaannya.


"Sekarang saya tahu dari mana sifat segan dan rendah hati Rania, dari Neneknya ya." Perkataan Nina itu, membuat Ima dan Rania terkekeh kecil merasa malu dipuji seperti itu.


Rania memperhatikan Neneknya yang makan dengan lahap, rasanya senang melihat Neneknya itu bisa makan-makanan enak seperti yang sering Ia makan setiap hari, kalau di desa makanannya selalu sederhana dan tidak bisa Ia kontrol juga.


"Berarti di sini yang tinggal hanya Rania dan Candra ya?" tanya Nek Ima.


"Tidak, ada satu orang lagi kok."


"Satu orang lagi, siapa?"


"Itu Nyonya Li-"

__ADS_1


"Ukhuk!"


Melihat Rania yang terbatuk-batuk dengan keras seperti tersedak, membuat perhatian dua wanita itu teralih. Neneknya yang duduk di sebelahnya pun langsung menyodorkan segelas air dan menepuk-nepuk punggungnya.


__ADS_2