
Lampu ruang rawat itu sudah dibuat temaram karena waktu sudah menunjukan hampir pukul sepuluh. Rania belum bisa tidur walaupun sudah mencoba, Ia sesekali melirik ke arah sofa dimana Candra sedang duduk di sana sambil mengetik di laptopnya.
"Mas," panggil Rania.
Candra menoleh, "Kenapa belum tidur juga? Sudah malam loh."
"Mas sendiri kenapa?"
"Aku mau nyelesain dulu tugas kantor, tinggal sedikit lagi."
"Terus nanti mau tidur dimana?" tanya Rania.
"Di sofa."
"Kayanya gak akan cukup, pasti gak enak banget tidur di sana."
Candra melengkungkan senyuman berpikir sesuatu, "Kamu lagi ngode saya tidur di ranjang sama kamu ya?"
"Bu-bukan gitu, tapi aku gak enak aja kalau Mas tidur di sofa gitu."
"Ya sudah, sama kamu aja gimana?"
"Boleh sih," jawab Rania pelan.
Rania bukan sedang cari kesempatan, hanya perasaanya akan tidak enak jika sampai Candra tidur di tempat sempit begitu. Selama ini Candra selalu tidur dengan nyaman, masa hanya karena gara-gara menunggu dirinya di rumah sakit sampai bela-bela in tidur di sofa.
"Kamu tidur duluan aja, nanti aku nyusul," ucap Candra.
"Iya."
Saat Rania hampir terlelap, perempuan itu merasakan seseorang menaiki ranjangnya. Ia membuka matanya sedikit melihat Candra, ternyata benar pria itu akan ikut tidur di sebelahnya. Untung saja ranjang ini lumayan lebar, jadi untuk dua orang tidur saling berhimpitan pun masih bisa.
"Tapi aku sedikit takut," gumam Candra sambil melihat perut Rania, "Dia tidak akan kesempitan, kan?"
"Maksudnya? Aku enggak kok," jawab Rania pelan.
"Bukan, tapi bayinya. Aku takut dia kesenggol."
"Apa tidur Mas gak bisa diam?"
"Enggak juga, aku kalau tidur cukup tenang kok. Cuman aku takut tidak sadar menyenggol dia."
"Tidak akan, tidak apa-apa. Sudah ayo tidur aja."
Sebenarnya Rania cukup gugup tidur seranjang sedekat dengan ini dengan Candra, tapi Ia mencoba tetap tenang. Lagi pula mereka kan suami istri, tidak salah juga dong tidur bersama. Untuk beberapa saat, ruangan itu pun terasa hening.
"Kalau sempit bilang ya, aku bisa pindah," ucap Candra.
__ADS_1
"Enggak," geleng Rania dengan mata terpejam.
Keduanya pun tertidur cukup pulas, untung saja tidak ada yang jatuh karena di sisi ranjang ada penghalang. Rania bangun saat mendengat suara adzan subuh berkumandang. Melirik suaminya yang tidur di sebelahnya, bibirnya pun melengkung tersenyum.
"Pantas saja hangat, ternyata Mas Candra tidak pindah," gumam Rania.
Perempuan itu lalu turun dan ke kamar mandi untuk mencuci wajah, gosok gigi lalu berwudhuk. Keadaannya sudah sangat baik hari ini, Rania tidak sabar untuk pulang. Selesai beribadah, Rania berencana membangunkan suaminya.
"Mas Candra bangun, sudah jam lima," ucapnya sambil menepuk-nepuk bahu pria itu.
Perlahan kedua mata Candra terbuka, "Kamu rajin banget bangun subuh begini," ucapnya dengan suara serak.
"Aku emang biasanya bangun jam segini, udah jadi kebiasaan. "
"Iya aku bangun, kita harus pulang cepet soalnya aku juga harus ke kantor."
Di pukul enam paginya keduanya memutuskan pulang. Tentu saja tidak lupa bertemu dulu dengan dokter khusus yang menangani Rania kemarin, untung saja sedang lembur jadi pagi-pagi pun masih ada. Tidak lupa dokter itu pun memberikan beberapa vitamin khusus Ibu hamil untuk Rania.
"Inget kata dokter tadi, kamu jangan terlalu banyak pikiran dan kecapean," perintah Candra yang sedang menyetir.
"Iya Mas, aku juga di rumah kan diam aja. Malahan aku bosen, mungkin karena dulu aku suka kerja."
"Kalau bosen lakuin hal lain aja, kamu juga boleh kok jalan-jalan keluar."
"Beneran?"
"Oke, katanya di deket rumah ada taman ya?"
"Ada kok, kamu main aja ke sana, banyak anak-anak."
"Aku suka anak-anak."
Candra menoleh dan tersenyum, "Kelihatan sih kamu kayanya penyayang anak-anak."
"Mas tahu dari mana?"
"Soalnya kamu kaya punya sifat lemah lembut gitu, jadi anak-anak pun pasti suka. Aku yakin, nanti kamu pun bisa jadi Ibu yang baik untuk anak-anak."
"Aamiin, aku akan berusaha."
Memang Rania awalnya merasa tidak siap menjadi seorang Ibu, apalagi Ia hamil karena kecelakaan. Tetapi sekarang Rania sudah menerima takdirnya, Ia akan berusaha menjadi sosok Ibu yang baik untuk anaknya nanti. Menjaganya dengan baik.
"Sudah sampai, yuk turun."
Candra langsung menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap ke kantor, sepertinya Ia akan sarapan di kantor karena tidak sempat. Tetapi baru saja masuk kamar, Candra terkejut melihat Livia yang baru keluar kamar mandi.
"Kamu sudah pulang?" tanyanya.
__ADS_1
"Sudah dari semalam juga," jawab Livia.
"Katanya tiga hari di sana."
"Enggak juga, lagian pekerjaan aku sudah selesai jadi langsung pulang."
"Oh baguslah." Candra lalu teringat sesuatu, "Kemarin Mama kamu kesini."
"Oh ya? Apa terjadi sesuatu yang aku lewatkan?"
"Dia marah-marahin Rania dan berbuat kasar, untung saja mbok Nina cepat bawa ke rumah sakit dan ditangani dokter. Kalau sampai anak aku kenapa-napa, aku gak akan maafin Mama."
"Dia gak bilang apa-apa sama aku."
"Mungkin dia malu dengan ulahnya sendiri, aku sudah tegur Mama. Tapi aku gak suka sama sikap Mama itu."
"Mungkin dia kecewa sama kamu karena putrinya sudah di permainkan."
Candra tahu Livia sedang menyindir nya, "Ya aku tahu dia pasti kecewa, tapi seharusnya dia datangi aku saja, bukan marah-marah pada Rania."
Livia baru menatap Candra, "Sebegitunya kamu melindungi dia? Kayanya kamu sudah jatuh cinta sama dia ya Candra?" tanyanya sinis.
"Bukan gitu, aku cuma gak mau bayi itu kenapa-napa. Kandungan Rania lemah, gimana kalau dia keguguran?"
"Kamu juga sudah menerima bayi itu?"
"Tentu saja, dia kan anak aku."
Livia hanya tersenyum kecut, hatinya merasa cemburu sekali mendengar Candra jujur dengan perasaannya itu. Tetapi Livia pun tidak bisa marah, Ia sadar Candra sudah menantikan keturunan sangat lama, yang tidak bisa Ia berikan.
"Hari ini kamu akan kerja?" tanya Candra.
"Tidak, aku diberikan izin satu hari untuk istirahat."
"Itu berarti kamu akan di rumah, kan?"
"Hm."
"Jangan seperti Mama kamu kemarin."
"Apa maksud kamu?"
"Aku takut aja kamu juga bersikap seenaknya seperti Mama kamu pada Rania, apalagi sampai mengata-ngatai dia dan membuat dia tertekan. Kalau bisa jauhi saja dari pada terjadi keributan."
Livia menghembuskan nafasnya kasar, "Aku juga tidak tertarik mau berdekatan dengan dia," ketusnya.
"Ya bagus lah, lebih baik saling menghindar saja." Setelah mengatakan itu, Candra pun masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Livia duduk di sisi ranjang dengan pandangan kosongnya. Percayalah Ia dari tadi sedang menahan tangis, sedih saja melihat suaminya itu lebih membela perempuan lain dan melindunginya lebih dari pada kepadanya. Perasaannya ini wajar kan?