
"Biar aku aja Kak yang bawain," ucap Leon.
"Kamu gak akan tahu, lagian Kakak lagi buru-buru sekarang."
Saat Livia berhasil melepaskan tangannya, membuat Leon semakin panik dan segera menyusulnya. Sebelum Kakaknya itu membuka pintu kamar, Leon segera kembali menutupnya dan menghalangi di depan.
"Kamu kenapa sih dari tadi aneh banget?" tanya Livia bingung sendiri.
"Em sebenarnya di dalam ada pacar aku," jawab Leon berbohong sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Serius? Apa jangan-jangan.. "
"Syutt Kakak jangan bilang ke Mama ya, nanti dia pasti bakal omelin aku bawa cewek ke kamar lagi." Leon bertingkah meyakinkan agar Kakaknya itu tidak curiga.
Livia menarik sebelah sudut bibirnya, "Dasar kamu ini, mainnya mojok ya," ledek nya.
Livia tidak marah, toh Leon juga sudah besar dan pergaulan di Jakarta sangat bebas. Tetapi ya adiknya itu asal jangan sampai di luar batas, misalnya tiba-tiba mendengar kabar jika pacarnya hamil.
"Dia gak pake apa-apa, pasti bakalan kaget kalau Kakak masuk. Jadi aku aja yang bawain ya?" bujuk Leon.
"Ya sudah sana, tapi cepetan ya carinya soalnya Kakak mau ke kantor sekarang," suruh Livia.
"Oke, Kakak mending tunggu di depan aja," suruh Leon untuk berjaga, takut Livia itu mengintip.
"Ck iya-iya." Livia yang sudah tidak curiga lagi pun melenggang pergi dari sana.
Leon pun segera masuk ke kamar itu, tidak lupa menguncinya. Dadanya sampai naik turun dengan nafas yang memburu, tadi benar-benar menegangkan. Hampir saja ketahuan.
"Leon ada apa?" tanya Rania melihat pria itu kembali.
Leon pun berbalik, "Gawat, Kak Livia hampir nemuin kamu," ucapnya panik sendiri.
Kedua mata Rania langsung terbelak, "Jadi yang datang itu Kak Livia?" tanyanya.
"Iya dan dia tadi hampir masuk, tapi untung aja aku buat alasan kalau di dalam pacar aku gak pakai baju, dia baru percaya."
Rania berdehem pelan tiba-tiba merasa canggung, walaupun bukan dirinya yang pacar Leon, tapi tetap saja dirinya yang dianggap begitu. Hanya saja Rania merasa ada yang aneh, kenapa Leon melindunginya?
__ADS_1
"Aku mau cari dulu powerbank dia, biar dia cepet pergi," kata Leon mulai mencari.
Rania pun ikut membantu mencari, ternyata benda kecil itu berada di dalam nakas kecil. Leon pun langsung tersenyum lebar setelah mendapatkannya, merasa lega saja.
"Leon tunggu," cegah Rania saat pria itu akan keluar kamar.
"Ada apa?"
"Kenapa kamu gak bilang ke Kak Livia kalau aku di sini?" Rania merasa penasaran akan hal ini, membutuhkan penjelasannya sekarang.
"Itu nanti saja ya, aku harus kasih dulu ini ke Livia supaya dia pergi dulu."
"Baiklah."
Leon pun keluar kamar untuk memberikan barang ini pada Kakaknya, ternyata Livia menunggu di ruang tamu. Kakaknya itu tidak lupa mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Apa kalian sudah menemukan Rania?" tanya Leon penasaran, hanya ingin menguji.
"Belum, tapi Candra sudah melaporkan ke polisi," jawab Livia.
"Kenapa sampai lapor polisi? Dia kan gak papa." Leon langsung mengatupkan bibirnya karena tanpa sadar mengatakan keadaan di akhir.
"Ya maksudnya Rania kan gak sampai di culik, iyakan?"
"Memang sih, tapi tetap saja dia menghilang. Candra bilang mungkin kalau lapor polisi bisa lebih cepat nemuin," sahut Livia, Ia pun setuju-setuju saja.
Leon lalu berdehem pelan, "Memangnya kalau boleh tahu, kenapa Rania itu pergi dari rumah?"
"Aku juga tidak tahu pasti, tapi sepertinya dia mengetahui suatu rahasia di antara aku dan Candra," gumam Livia tanpa sadar.
"Rahasia apa?"
"Bukan urusan kamu anak kecil, ini masalah rumah tangga. Sudah ah aku berangkat dulu, gara-gara kamu hampir terlambat," dengus Livia menghindar.
"Ck menyebalkan." Batin Leon, padahal Ia hanya ingin memastikan saja apa alasan Rania dengan jawaban Livia itu sama atau tidak.
"Oh iya kalau misal kamu nemuin Livia, langsung kasih tahu aku dan Candra ya," ucap Livia mengingatkan.
__ADS_1
"Iya-iya, sudah sana pergi!" usir Leon bergurau.
Tidak tahu saja Kakaknya itu kalau Rania berada di rumah ini, bahkan mereka hampir bertemu tadi. Leon merasa sedikit bangga karena dirinya berhasil berakting, tapi tidak bohong Ia sangat gugup tadi.
Leon pun kembali ke kamar di belakang, terlihat Rania yang tadinya duduk pun langsung berdiri saat melihatnya. Melihat ekspresi bingung dan cemas di wajah cantik itu, membuat Leon tersenyum sendiri.
"Tenang saja, Kak Livia sudah pergi kok," ucap Leon memberitahu.
Rania terlihat menghela nafasnya lega, "Huft makasih ya Leon udah jagain aku."
"Jagain kamu?" tanya Leon.
"Em mungkin?"
Entahlah apa Leon ini sekarang sedang menjaga dan melindungi Rania atau bagaimana, tapi yang pasti bagi Rania, pria itu sudah menyelamatkannya karena Livia berhasil tidak menemukannya.
"Tapi kenapa? Kenapa kamu gak laporin aku aja ke Kak Livia? Bukannya kamu benci ya sama aku?" tanya Rania.
Leon lalu duduk di sebuah kursi, berhadapan dengan Rania, "Aku juga gak tahu kenapa bertindak begini, padahal waktu itu aku pengen banget lihat kamu hancur," sahutnya.
"Apa mungkin kamu mendukung aku pergi karena sekarang di antara Kak Livia dan Mas Candra tidak akan ada pengganggu lagi?" tanya Rania memastikan dugaan itu.
"Mungkin termasuk, tapi di lain sisi aku juga mau buat kamu percaya lagi sama aku. Kalau aku kali ini tulus, gak mengkhianati kamu lagi," jawab Leon sambil tersenyum tipis.
Tanpa bisa ditahan senyuman tipis terukir di bibir Rania. Beberapa waktu lalu Ia sempat masih curiga pada Leon, tapi melihatnya yang menyembunyikannya dengan baik membuat Rania pun perlahan percaya lagi.
"Aku juga sudah gak mau kembali ke Mas Candra, mungkin benar kepergian aku bisa buat hubungan Kak Livia dan Mas Candra seperti dulu lagi," ujar Rania jujur.
Tetapi mungkin mereka akan kesal kepadanya karena sudah membawa bayi ini, tapi kan bayi ini juga milik Rania dan Ia adalah Ibunya. Rania yakin bisa menjaga dan merawatnya dengan baik, walau Ia hanya orang biasa.
"Jadi kamu mau cerai dengan Kak Candra?" tanya Leon.
"Aku maunya begitu, tapi pasti akan sulit dan rumit. Selain itu aku juga gak mau dia ambil hak asuh anak aku nanti. Aku kabur karena gak mau dia ambil anak aku, jadi mungkin dengan ini pun hubungan aku dengan Mas Candra sudah berakhir," jawab Rania.
Leon menganggukan kepalanya mengerti, "Tapi memang bisa juga, kalau misal kalian gak bersama sampai beberapa waktu. Semoga aja di sana kamu baik-baik aja, dan Candra gak temuin kamu," ujarnya.
"Iya aku juga berharap gitu," gumam Rania.
__ADS_1
"Aku akan anterin kamu pulang ke Kampung Rania." Mungkin inilah bantuan terakhir yang bisa Leon lakukan, sebelum mereka benar-benar berpisah.
"Kamu serius?" pekik Rania.