Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Sebuah Bujukan


__ADS_3

Semenjak malam itu, Rania merasa Candra sedikit agak berbeda. Bukan maksud ingin memiliki sendirian, tapi dulu Candra itu sangat perhatian dan hampir banyak sekali waktu mereka menghabiskan waktu bersama. Tetapi sekarang Rania jadi sering melihat juga Livia dan Candra berduaan di rumah, padahal sebelumnya tidak begitu.


"Kamu sedang apa di sana Rania?" tanya Candra yang berhasil memergoki istri keduanya itu bersembunyi di balik pohon. Candra lalu beranjak dari duduknya untuk menghampiri.


Saat persembunyiannya akhirnya pria itu temui, Rania hanya tersenyum kikuk merasa malu, "Mas," panggilnya.


"Ada apa Rania?"


"Em gak ada apa-apa kok," jawabnya.


"Terus kenapa kamu ngintip di sini? Kalau misal mau gabung ya ke sana saja."


Rania lalu melirik ke arah Livia, tapi perempuan itu terlihat acuh dan tidak peduli. Rania kembali menatap Candra sambil menggeleng. Rasanya benar-benar malu karena ketahuan mengintip dua orang itu yang sedang bersama, Rania ingin pergi saja dari sana karena takut dianggap pengganggu.


"Sebenarnya aku cuman mau ngasih tahu, tadi Nenek nelepon dan katanya pengen ke Jakarta jenguk aku. Apa boleh Mas Nenek kesini?" tanya Rania harap-harap cemas. Tentu Ia harus meminta izin, karena ini bukan rumahnya.


Terlihat kedua mata Candra terbelak sebentar, "Serius Nenek mau kesini?" tanyanya.


"Iya Mas, tapi terserah Mas. Kalau gak boleh gak papa kok." Sebenarnya Rania berharap sekali Candra mengizinkan, karena Ia dan Neneknya saling merindukan. Pria itu juga kan tidak mengizinkannya pulang ke desa, jadi mungkin Neneknya saja yang kesini.


"Aduh gimana ya," gumam Candra tiba-tiba merasa terbebani, sebelah tangannya terangkat memijat pelipisnya yang berdenyut pusing.


"Gak boleh ya Mas? Ya sudah deh, kalau gitu aku kasih tahu Nenek dulu ya." Tetapi baru saja berbalik, Candra menahan pergelangan tangannya membuat Rania tidak jadi pergi.


"Izinin aku bicara dulu dengan Livia ya, aku tentu harus minta izin dia juga. Aku sedikit khawatir keadaannya akan menjadi kacau kalau semisal Nenek kamu tahu rahasia ini."


"Iya Mas silahkan, aku tunggu." Rania mencoba tersenyum. Benar juga, Candra juga harus meminta izin dari Livia.


Rania lalu pamit kembali masuk ke dalam rumah, tidak mau berlama-lama di sana karena pasti mengganggu Candra dan Livia yang sedang berduaan. Candra pun kembali duduk di hadapan Livia, sempat meminum kopinya beberapa seruput.


"Ada apa? Kelihatan serius," tanya Livia yang sudah tidak bisa menahan rasa penasaran nya lagi.


"Nenek Rania mau ke Jakarta, gimana nih? "


"Maksudnya mau jenguk Rania kesini?"

__ADS_1


"Iya, mungkin Neneknya kangen pengen ketemu. Aku kan gak izinin Rania pulang ke desa, jadi Neneknya yang kesini."


Livia menganggukan kepalanya, "Kenapa kelihatan cemas gitu?"


"Hah? Tentu saja aku cemas. Kalau Nenek Ima datang ke rumah ini, otomatis dia akan bertemu kamu juga."


"Oh itu yang kamu cemasin, terus?"


"Kalau semisal Nenek Ima tanya kamu siapa, kamu akan jawab apa?"


"Jawab jujur lah, kalau aku istri pertama kamu," jawab Livia enteng sambil menyuapkan anggurnya.


Candra terlihat tersentak, "Kamu jangan bercanda."


"Bercanda gimana? Toh aku emang bener kan istri pertama kamu?"


Ternyata Livia ini tidak mengerti maksudnya, membuat Candra menghela nafas berat. Lagi-lagi istrinya yang satu ini sedang menguji kesabarannya, Candra harus benar-benar tenang dalam menghadapinya dan jangan meninggikan ego juga. Pokoknya Candra harus bisa membujuk Livia.


"Gimana kalau kamu untuk beberapa hari ini tinggal di apartemen dulu?" bujuk Candra. Gawat saja kan kalau misal Nenek Ima menemukan ada perempuan muda lain yang tinggal di sini, nanti dianggap aneh-aneh lagi.


"Ayolah Livia, mengerti sedikit. Kamu tahu aku dikenal sebagai pengusaha kaya raya, masa saja nanti Nenek Ima tahunya Rania malah tinggal di apartemen itu."


"Dia tidak akan peduli Rania tinggal dimana, yang pentingkan pasti Neneknya itu lebih mentingin kesehatan dan keadaan Rania," sahut Livia.


"Tidak bisa Livia, aku sedikit khawatir dia menganggap aku aneh."


"Aneh kenapa sih? Kamu saja yang berlebihan ingin pamer," dengus Livia.


Candra mengusap wajahnya kasar, "Aduh kamu ini bisa gak ngertiin aku sebentar? Bukan itu loh."


"Kamu juga gak pernah ngertiin aku," balas Livia tidak mau kalah.


"Oke kalau kamu gak mau pergi, tapi bisa gak nanti jangan ngaku kamu istri pertama aku?" tanya Candra serius.


"Kenapa? Kamu malu punya istri kaya aku?" tanya Livia semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


"Astaga bukan itu Livia, tapi kan Nenek Ima tahunya istri aku itu hanya Rania. Kalau misal rahasia ini bocor, aku takut membuat masalah baru."


Livia terlihat terdiam beberapa saat seperti sedang memikirkan sesuatu, "Tunggu, jadi Neneknya Rania itu tidak tahu kalau dia istri kedua? Alias dia yang jadi orang ketiga di pernikahan orang lain?"


Sebenarnya Rania tidak bisa dianggap orang ketiga juga, apalagi dianggap penghancur rumah tangga orang lain. Kan Candra yang sudah menyeretnya sampai masuk ke rumah tangga mereka. Hanya saja pandangan Livia berbeda, mau benar ataupun salah pasti yang di benci tetap si perempuan ke dua.


"Rania bilang dia gak cerita sama Neneknya, dan aku bersyukur dia gak bilang," jawab Candra pelan.


Livia lalu terkekeh sinis, "Malu kamu sudah ngasih banyak janji manis ke keluarga Rania?"


"Em itu--"


"Aku bingung kenapa Rania itu masih bertahan sama kamu, padahal katanya kamu sudah banyak bohongin dia ya?" Livia sebenarnya tidak mau terlalu peduli, tapi Candra ini sekali-kali memang harus di sadarkan.


"Apa?"


"Kayanya dia bertahan karena mencintai kamu," ucap Livia sambil menahan perasaan sesak di dadanya.


"Kamu bicara apa sih?"


"Aku serius Candra, terkadang perempuan yang sudah disakiti berkali-kali masih bertahan itu karena dia mencintai pasangannya dengan tulus." Livia terluhat serius dilihat dari ekspresi wajahnya.


"Lalu bagaimana dengan kamu?" tanya Candra balik sambil menatap ke balik bola mata kecoklatan cantik itu, "Kamu juga masih bertahan setelah aku dua kan, apa kamu juga sedalam itu mencintai aku?"


"Entahlah, tapi sepertinya sekarang bukan cinta lagi."


"Lalu?"


"Kamu lupa perjanjian waktu itu? Kamu akan memberikan aku apapun karena sudah memperlakukan aku begini."


"Ah sial." Batin Candra kesal.


"Tapi selain itu, kamu juga tidak mau melepaskan aku, kan?" tanya Candra masih percaya diri.


"Kamu terlalu percaya diri Candra, jadi kamu menganggap aku mencintai kamu sedalam itu?" tanya Livia sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


"Aku yakin kok," sahut Candra sambil menahan senyumannya. Candra selalu ingat saat Livia mabuk waktu itu, semua isi hatinya sudah Ia dengar.


__ADS_2