
"Rania, Nenek rasa nak Candra tidak sebaik itu. Dia sudah sering membohongi kamu maupun Nenek. Apa jangan-jangan kamu juga selama ini pura-pura baik-baik saja?" tanya Ima mendesak.
Setelah mengetahui cucunya ini adalah istri kedua Candra, jujur saja hati Ima sakit sekali. Ia memgira semua baik-baik saja, nyatanya tidak begitu. Sekarang Ima jadi khawatir pada Rania, dan harus menanyakan bagaimana kehidupannya selama ini di sini.
"Aku baik-baik saja Nek," jawab Rania.
"Rania jangan begini, katakan saja yang jujur. Jangan sembunyikan apapun lagi pada Nenek, Nenek tidak bisa seperti ini," lirih Ima.
Melihat Neneknya yang menangis lagi, membuat Rania memeluknya. Kedua matanya berkaca-kaca dan tanpa bisa ditahan air matanya pun meleleh juga. Neneknya sangat mengkhawatirkan dirinya, Neneknya pasti kasihan kepadanya yang bernasib seperti ini.
"Maafin Nenek ya Rania, maafin Nenek," ucapnya.
"Kenapa Nenek minta maaf?"
Ima pun meregangkan pelukannya, "Kalau saja waktu itu Nenek tidak pergi menemui nak Candra untuk bertanggung jawab, mungkin hidup kamu tidak akan berantakan seperti ini."
Rania terperangah sendiri mendengar itu, kenapa Neneknya meminta maaf? Membuat perasaan Rania tidak enak. Neneknya itu sudah berjuang terlalu banyak untuk dirinya, selalu membela dan melindunginya. Neneknya juga pasti tidak akan menyangka dirinya akan jadi seperti ini, begitu bersihnya hatinya itu.
"Kita juga pasti bisa merawat bayi kamu ini, tanpa nak Candra. Walaupun kita hanya orang biasa, tapi Nenek akan berusaha keras membahagiakan kamu dan anak kamu," lanjut Neneknua.
"Hiks Nenek jangan bilang begitu," isak Rania, "Aku yang minta maaf, maaf sudah mempermalukan Nenek dan gak bisa buat Nenek bangga."
"Tidak sayang, kamu tidak seperti itu. Kamu satu-satunya milik Nenek, kamu tidak pernah mengecewakan Nenek."
Dan keduanya pun kembali menangis, meratapi hidup yang terasa berat harus dijalani oleh orang biasa seperti mereka. Baik Ima dan Rania itu saling menyayangi, kesalahan sedikit pun pasti bukanlah masalah besar.
"Nenek hanya kasihan pada kamu, tidak mau kamu semakin menderita." Yang Ima bayangkan, Rania pura-pura bahagia. Kasihan sekali selama berbulan-bulan di sini.
Rania lalu menggenggam kedua tangan Neneknya, "Nenek gak usah khawatir, aku beneran baik-baik saja kok."
"Tapi--"
__ADS_1
"Kalau Nenek berpikir mereka jahat, dugaan Nenek salah. Sikap Mas Candra baik dan perhatian, Kak Livia juga gak pernah jahat sama aku. Aku yakin mereka sama-sama menerima aku di sini, juga bayi aku," ujar Rania memberikan penjelasan.
"Kamu gak bohong lagi kan sama Nenek?" tanya Ima.
"Enggak Nek, aku beneran baik-baik aja," bantah Rania sambil berusaha tersenyum.
Rania tidak bohong, kan? Ia benar-benar baik-baik saja kok. Awalnya suasananya memang sangat canggung dan tidak nyaman, tapi perlahan Ia terbiasa. Apalagi Candra dan Livia, mereka sama sekali tidak membuatnya tertekan.
"Malahan aku yang merasa gak enak di sini Nek, aku gak enak sama Kak Livia," ungkap Rania.
"Hm?"
"Aku gak tahu alasan Kak Livia itu memberikan Mas Candra izin menikah lagi. Dia tidak terlalu suka menunjukan ekspresi, tapi aku merasa dia pasti ada rasa sakit hati dengan kedatangan aku di sini."
"Apa dia tidak pernah menjahati kamu?"
Rania menggeleng, "Tidak pernah, dia bahkan pernah menolong aku yang hampir tenggelam."
"Iya. Walaupun dia memang agak dingin, tapi aku yakin Kak Livia itu adalah orang yang baik."
Rania selalu membayangkan jikalau hubungannya dengan Livia bisa menjadi dekat dan akrab, pasti akan sangat menyenangkan. Tetapi semua itu sepertinya hanya angan-angan saja, rasanya tidak mungkin. Rania sadar diri, Ia harus menjaga batasan dan jangan melampaui.
"Nenek juga baru sadar, dia juga sampai berbohong mengaku jadi Kakak tirinya nak Candra. Sungguh, dia sangat luas hati," ujar Ima. Sebenarnya dari awal bertemu juga, Ima merasa Livia itu adalah perempuan yang baik.
"Semuanya atas perintah Mas Candra."
"Maksudnya?"
"Mas Candra yang minta aku untuk merahasiakan ini dari Nenek, bahkan sampai meminta Kak Livia juga untuk tidak mengaku sebagai istrinya. Bukankah yang Mas Candra lakukan itu pasti akan menyakiti perasaan Kak Livia?"
"Iya kamu benar," gumam Ima. Membayangkannya saja sudah sakit hati, apalagi kalau ada di posisi Livia.
__ADS_1
Untuk beberapa saat suasana di sana terasa hening, keduanya melamun dengan pikiran masing-masing. Rania merasa hatinya lega begitu saja setelah mengeluarkan semua isi hatinya, kini tidak ada lagi juga rahasia yang Ia sembunyikan dari Neneknya ini.
"Terus sekarang kamu maunya gimana?" tanya Ima.
"Aku gak tahu Nek, semua ini terasa membingungkan," jawab Rania sambil tersenyum kecut.
Rania lalu kembali cerita jika dirinya pun waktu itu pernah meminta cerai kepada Candra, tapi pria itu menahannya dan tidak membiarkannya pergi. Candra selalu beralasan jika dirinya sedang hamil.
"Aku merasa Mas Candra hanya membutuhkan bayi ini," ujar Rania sambil mengusap perutnya.
"Kenapa kamu bilang begitu?"
"Entahlah, mungkin hanya firasat aku saja."
"Rania, Nenek mau tanya sesuatu. Apa kamu ada perasaan pada nak Candra?" tanya Ima serius. Ia harus tahu tentang hal ini, karena akan menentukan semuanya.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, entah kenapa membuat Rania gugup sendiri. Ia pun hanya menggeleng karena bingung sendiri dengan isi hatinya. Tetapi sepertinya Rania memang ada rasa suka pada Candra, ya siapa juga yang tidak tertarik dan luluh pada pria itu.
"Kamu bertahan di pernikahan ini karena mencintai dia?" tanya Ima.
"Aku gak tahu Nek, aku juga bingung sama diri aku sendiri kenapa masih ada di sini. Aku ingin pergi, tapi aku merasa gak akan bisa," desah Rania setengah putus asa, hatinya ini bimbang sekali.
Ima terlihat menghela nafasnya berat, langsung tahu jika sepertinya cucunya ini memang sudah ada perasaan kepada Candra. Tetapi di lain sisi, sepertinya Rania juga merasa takut untuk pergi. Padahal cucunya itu berhak bahagia sendiri.
"Bagaimana kalau nanti ikut pulang saja dengan Nenek?" bujuknya, "Nenek merasa gak akan tenang di desa dengan keadaan kamu yang sebenarnya seperti ini."
Tatapan Neneknya terlihat khawatir, membuat Rania terharu, "Maaf Nek, kayanya aku gak bisa," tolak nya halus.
Banyak sekali alasannya. Rania juga jika kembali ke desa, khawatir membuat lagi keributan dan akhirnya mempermalukan lagi Neneknya ini. Selain itu juga, sepertinya alasannya bertahan karena dugaan tadi. Jika Rania sudah terlanjur mencintai Candra.
Apakah Rania bodoh? Bukankah Candra sudah menyakitinya? Yah namanya juga cinta, apalagi seorang wanita jika sudah mencintai pasti akan tetap bertahan.
__ADS_1
"Rania, Nenek akan selalu berdoa yang terbaik untuk kamu," ucapnya sambil menatap lembut.