
Candra langsung berdiri dari duduknya, "Maaf Nek, aku tidak bisa kalau harus berpisah dengan Rania," katanya tegas.
"Kenapa nak Candra? Beri Nenek alasan kenapa kamu tidak mau berpisah dengan Rania? Apa karena bayi itu?"
Rania juga ikut menunggu jawabannya, mengkhawatirkan jika alasan Candra itu mempertahankannya hanya karena bayinya. Bisakah Rania berharap jika pria itu ada sedikit perasaan padanya?
"Iya betul, karena bayi itu. Kalau kami berpisah, kasihan dia kalau melihat orang tuanya tidak bersama," ucap Candra.
"Tapi dia juga akan sedih kalau tahu Mamanya adalah istri kedua, Papanya memiliki dua istri," celetuk Ima sampai membuat Candra terdiam merasa tertohok.
"Saya minta maaf karena sudah banyak bohong pada Rania, tapi saya akan berusaha menebus semuanya dengan memperlakukan dia dengan baik di sini, membuat dia juga selalu bahagia. Saya akan berusaha menjadi suami yang adil," ucap Candra bersungguh-sungguh.
Rania lalu melirik Neneknya, menunggu tanggapan dari wanita paruh baya itu. Jujur saja Rania sebenarnya merasa lelah di situasi rumit seperti ini, jadi sekarang Ia pasrahkan saja pada Neneknya. Mungkin wanita itu pun bisa mengerti bagaimana perasaannya yang selalu dipendam selama ini.
"Nenek mau tanya sesuatu, apa nak Candra ada perasaan pada Rania?" tanyanya.
"Saya sayang pada Rania," jawab Candra tanpa ragu.
Tanpa bisa ditahan bibir Rania pun melengkungkan senyuman tipis, hatinya merasa senang mendengar ungkapan itu. Candra tidak bohong, kan? Semoga saja. Tetapi Rania ingin perasaan lebih, seperti cinta. Hanya saja Ia tidak mau terlalu berharap, karena pasti yang Candra cintai hanya Livia seorang.
"Semua ada di tangan Rania. Sebenarnya Nenek sudah merasa kalian tidak cocok, tapi Nenek juga tidak bisa egois," gumam Ima.
Di dalam hati Ima berharap sekali cucunya itu bisa dibukakan hati dan pikirannya. Tetapi namanya juga sudah cinta, akan sulit rasanya menyadarkan seseorang yang sedang jatuh cinta. Ima mulai merasa ragu kepada Candra, tidak mau terlalu mempercayainya lagi.
"Aku.. Aku juga akan memberikan Mas Candra kesempatan," ucap Rania sambil berusaha tersenyum.
Candra merasa lega mendengar itu, "Terima kasih Rania."
"Aku juga memikirkan bayi ini, benar apa kata Mas. Masa depan dia yang paling utama."
Rania tidak bohong bahwa finansial Candra yang bagus ini pasti akan membantu anaknya nanti menjadi sosok yang hebat dan sukses. Apalah daya dirinya yang hanya orang biasa dan tidak mampu. Mungkin Rania memang harus berkorban demi anaknya, tapi Rania juga yakin semuanya akan baik-baik saja.
"Ya sudah kalau itu mau kamu, Nenek harap keputusan kamu benar ya Rania." Entah apa maksud Nenek Ima mengatakan itu, hanya firasatnya tidak enak.
Setelah perbincangan lumayan panjang itu, Rania dan Candra pun keluar dari kamar itu, memberikan Nenek Ima waktu untuk istirahat. Besok Nenek kan sudah pulang lagi ke desa. Rania merasa sedih karena di hari terakhir Neneknya itu malah mendapat kabar menyedihkan begini. Rania khawatir nanti Neneknya jadi kepikiran.
__ADS_1
"Maaf ya Rania," ujar Candra setelah mereka keluar kamar itu.
Rania mengangguk pelan, "Hm," dehemnya.
"Kamu kecewa sama saya?" Candra hanya ingin memastikan aaja.
Rania pun mengangkat kepala, menatap suaminya itu dengan perasaan campur aduk. Rania tidak bisa bilang Ia kecewa, karena rencana pria itu berbohong pun tidak memojokan nya juga. Malahan yang Rania pikirkan itu Livia, posisi perempuan itu lah di sini yang paling menyedihkan.
"Mas seharusnya minta maaf sama Kak Livia," ucap Rania.
"Hah? Tapi kan aku juga salah ke kamu."
"Aku gak papa, mungkin lebih tepatnya perasaan bersalah itu ditujukan pada Nenek. Tapi.. Aku rasa yang paling tersakiti di sini adalah Kak Livia."
Candra menghela nafasnya berat, Lagi-lagi perempuan ini memikirkan perasaan orang lain di banding dirinya sendiri. Candra tidak tahu kenapa ada orang setulus ini, Rania benar-benar sosok yang seperti malaikat, dan Candra adalah iblisnya.
"Rania, kenapa kamu sebaik ini?" tanya Candra dengan suara tertahan.
"Aku tidak tahu Mas," geleng Rania sambil tersenyum.
"Kenapa Mas merasakan begitu?"
"Ya mungkin saja selama ini aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kamu."
Rania menggeleng sambil menurunkan tangan suaminya itu di bahunya, "Kata siapa? Mas selama ini sudah menjadi suami yang baik kok untuk aku."
"Terima kasih Rania."
Candra pun memeluknya, mengekspresikan perasaan senang. Jika dengan Rania, Candra selalu merasa dihargai sebagai suami. Lagi-lagi bodohnya Ia malah membandingkan dengan Livia. Seharusnya Candra tidak begini, kan?
Merasa ada seseorang yang memperhatikan, membuat Candra melirik ke arahnya. Terlihat di sana ada Livia, perempuan itu terlihat terkejut saat mata mereka bertemu. Candra pun repleks melepaskan pelukannya dengan Rania, ekspresi wajahnya terlihat jadi tidak nyaman.
"Rania ini sudah malam, lebih baik kamu tidur sekarang," perintah Candra.
"Iya Mas aku juga mau tidur, badan aku capek banget hari ini," ucap Rania sambil mengusap tengkuknya.
__ADS_1
Mungkin karena hari ini banyak kejadian yang menimpanya, apalagi masalah tadi. Belum lagi Rania yang sempat di kata-katai oleh Mama Livia, batinnya jadi ikut lelah. Sepertinya malam ini Ia akan tidur nyenyak.
"Aku ke kamar dulu ya Mas," ucap Rania.
"Iya, selamat malam."
"Selamat malam juga," balas Rania.
Setelah melihat istri keduanya itu masuk ke kamar, Candra pun langsung pergi dari sana menuju kamarnya di lantai atas. Ia berjalan cepat karena ingin menemui Livia, khawatir Livia sakit hati atau kenapa-napa setelah memergoki dirinya bersama Rania.
Di kamar Candra tidak menemukan Livia, tapi melihat pintu balkon terbuka membuat Candra langsung mengeceknya. Ternyata benar Livia ada di sana, berdiri di dekat pembatas dengan posisi membelakangi. Candra pun mendekat perlahan dan memeluknya dari belakang.
"Sayang," panggilnya.
"Jangan peluk-peluk deh!" ketus Livia. Perempuan itu pun menyikut perut Candra, dan berhasil membuat suaminya melepaskan pelukan.
Candra meringis pelan merasakan sedikit sakit, tapi Ia tidak marah karena tahu istrinya yang ini pasti sedang cemburu. Candra pun beralih berdiri di sebelahnya, memperhatikan wajahnya dalam.
"Mama sama Leon sudah pulang?" tanya Candra.
"Sudah."
"Kenapa mereka tidak pamit padaku?"
Livia tersenyum sinis, "Mama bilang tidak mau bertemu kamu lagi karena muak melihat wajah kamu," celetuknya.
Candra meringis pelan merasakan sedikit sakit hati mendengar itu. Mungkin Mama mertuanya terlalu sakit hati sudah Ia bohongi, putri kesayangannya pun ikut menjadi korban. Tetapi Candra merasa Mama mertuanya juga bersikap di luar batas.
"Kamu marah sama aku?" tanya Candra.
"Kenapa kamu masih tanya begitu? Pertanyaan kamu itu konyol," dengus Livia.
Benar juga, batin Candra.
Sudah pastilah kalau Livia itu marah dan kecewa kepadanya, kenapa juga Candra masih tanya?
__ADS_1