Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 49


__ADS_3

Elisa terlihat salah tingkah ditanyai seperti itu, Ia seperti ketahuan dan membuatnya malu. Jujur saja Elisa memang menyadari Daffin menyukainya, tapi bukankah mereka tidak perlu pacaran karena akan terus bersama?


"Kamu sekarang seperti sedang mempermainkan aku Elisa, kamu menarik ulur perasaan aku," kata Daffin pahit.


"Daffin aku--"


"Jangan begini terus Elisa, apalagi sekarang aku sudah pacaran dengan Cynthia. Kita berteman sewajarnya saja, jangan berlebihan," sela Daffin cepat.


Elisa menggeleng lagi, "Kamu akan semakin menjauh Daffin, bagaimana dengan persahabatan kita?"


"Aku akan tetap sama. Seperti dulu saja kamu juga memiliki pacar, tapi pertemanan kita tetap berjalan," jawab Daffin lagi-lagi menohok.


Tetapi bukan itu yang Elisa inginkan, Ia hanya ingin memiliki Daffin seorang diri. Membayangkan pria itu yang lebih perhatian pada Cynthia, membuat Elisa tidak terima dan kesal.


Sekarang Elisa tahu kenapa Ia selalu mengelak perasaan Daffin, karena Ia yakin pria itu akan selalu setia kepadanya sampai kapanpun juga. Sekarang sudah terlambat, Elisa sudah menyia-nyiakan Daffin.


"Maafin aku Daffin, tapi bisakah beri aku kesempatan?" pinta Elisa memohon.


"Apa maksud kamu?"


"Bagaimana kalau kamu putuskan Cynthia? Dan kita bisa memulai hubungan dari awal sebagai pasangan kekasih?"


Mendengar itu Daffin malah terkekeh sinis, merasa lucu dengan perkataan Elisa yang menurutnya tidak masuk akal. Elisa pikir dirinya budak cintanya ya? Yang akan menuruti semua perintahnya.


"Aku gak segila itu untuk mutusin Cynthia, lagi pula kita juga baru jadian. Lagian aku tulus kok suka sama dia, bukan menjadikan dia sebagai pelampiasan," ucap Daffin.


Lagi-lagi Elisa merasa tersinggung, Daffin sepertinya sengaja menyindir nya terus. Tetapi Elisa berusaha bermuka tebal, alias Ia berusaha tidak peduli dengan perkataan Daffin dan tetap kekeuh dengan pendiriannya.


"Memangnya kamu beneran gak ada perasaan lagi sama aku? Apa semudah itu melupakan aku?" tanya Elisa belum menyerah.


"Enggak ada Elisa, aku sekarang menganggap kamu sebagai teman saja," jawab Daffin tegas.

__ADS_1


"Tapi sekarang aku yang sudah jatuh cinta sama kamu Daffin, aku gak mau kehilangan kamu." Perlahan kedua mata Elisa pun berkaca-kaca mau menangis.


Daffin terlihat menghela nafas berat melihat perempuan itu yang memohon begitu, benar-benar seperti bukan Elisa sekali. Ia memang harus tegas, agar semua kesalahpahaman ini juga selesai.


"Jangan menangis Elisa, jangan menangisi masalah ini. Kita tetap berteman, aku gak akan ke mana-mana," kata Daffin sambil menepuk bahunya.


"Hiks tapi aku sedih dan kesel karena sudah nyia-nyia in kamu, sekarang aku sudah terlalu terlambat!" isak Elisa.


Sebenarnya Daffin tidak tega kalau melihat Elisa sudah menangis begini, apalagi karena ulahnya. Tetapi sekali lagi, Elisa harus tahu bagaimana perasaannya sekarang. Daffin hanya mau jujur.


"Loh Elisa kenapa, Daffin? Kamu yang buat dia nangis?" tanya Candra yang baru pulang.


"Bu-bukan kok Pah, dia gak papa kok," jawab Daffin membantah lalu tersenyum kikuk.


"Benarkah? Apa ada masalah pribadi?"


"Sepertinya, tapi dia gak papa kok. Kami bisa menyelesaikannya." Daffin berusaha meyakinkan Papanya itu.


Daffin lalu mengajak Elisa untuk duduk karena Ia akan membawakan minum, tapi perempuan itu menolak dan beralasan ingin pulang saja. Sempat Daffin bujuk untuk makan malam dulu, tapi Elisa tetap menolak tanpa menatapnya.


"Ya sudah kalau kamu mau pulang, aku anterin," ucap Daffin.


Mereka berjalan bersisian dengan memakai jarak, terlihat canggung satu sama lain. Daffin dengan baiknya membukakan pintu untuk Elisa, perempuan itu pun masuk dan duduk dengan nyaman.


Daffin pun segera ikut masuk, lalu menjalankan mobilnya itu pergi dari sana. Sesekali Daffin selalu melirik Elisa, sepanjang perjalanan terlihat diam melamun. Daffin jadi canggung sendiri ingin bertanya.


"Kenapa kost an kamu gelap banget? Coba nyalain," tanya Daffin bingung saat masuk kamar kost Elisa.


"Lampunya mati, harus diganti sama yang baru," jawab Elisa pelan.


"Ya ampun sejak kapan? Kenapa gak minta bantuan ke yang lain?" Daffin pun berusaha mencari senter agar tidak terlalu gelap di sana.

__ADS_1


"Tadi aku sempat telepon kamu dan minta kamu kesini untuk gantiin lampu kost an, tapi yang angkat malah Cynthia. Perasaan aku gak enak, jadi aku langsung nyusul ke rumah kamu," jelas Elisa dengan pahitnya menceritakan.


Daffin berdehem pelan menjadi tidak enak mendengar itu, Ia tidak tahu mungkin karena sedang tidur. Akhirnya Daffin pun yang berinisiatif mengganti lampu, minta bantuan Elisa untuk menyoroti bagian atas dengan senter.


"Bisa gak? Hati-hati naik kursinya," tanya Elisa memastikan.


"Bisa kok, aku kan tinggi. Arahin ke yang lampu aja, yang jelas ya," perintah Daffin.


Memasang lampu menurut Daffin sangat mudah, hanya beberapa detik saja. Setelah merasa ter pasangan dengan baik, Daffin pun turun dari kursi lalu menekan stok kontak menyalakan. Ruangan itu pun menjadi terang.


"Nah sudah selesai, apa kamu butuh sesuatu lagi?" tanya Daffin memastikan sebelum benar-benar pulang.


Elisa menggeleng dan menatap pria itu dalam. Dari dulu Daffin selalu menanyakan keadaannya dan perhatian, bisa-bisanya Ia malah memanfaatkan pria itu dan selalu yakin akan selalu bersamanya.


"Kenapa Elisa? Jangan nangis lagi," tanya Daffin satu langkah mendekat.


Elisa terlihat menghembuskan narasnya berat, "Gak papa kok, cuman masih agak nyesek aja sekarang kamu sudah punya pacar," jawabnya jujur.


"Mungkin yang kamu rasain sekarang itu kaya aku dulu," sahut Daffin sambil tersenyum.


"Benarkah? Kalau gitu maaf ya," ucap Elisa sambil menunduk malu.


"Gak papa, semua sudah berlalu. Kita jangan terlalu menyesali semuanya dan larut dalam kesedihan, akan banyak kebahagiaan lain yang akan datang. Percaya deh," kata Daffin memberikan semangat.


"Iya," angguk Elisa dan mulai tersenyum.


Daffin pun memutuskan pulang karena sudah malam juga, Ia belum mandi dan makan malam. Sebelum pulang Daffin sempat berpesan pada Elisa untuk makan dahulu, perempuan itu hanya mengangguk saja.


Setelah masuk ke dalam mobil, bukannya langsung menjalankan, Daffin malah terdiam melamun. Keputusannya ini tidak salahkan? Daffin hanya khawatir Ia masih bimbang dengan hatinya.


"Aku jangan berpikir begini dan meragukan Cynthia, aku yakin dia juga memang menyukai aku. Untuk Elisa.. " Daffin sempat terdiam beberapa saat, "Sepertinya aku memang sudah tidak ada perasaan apapun lagi pada dia," lanjutnya.

__ADS_1


Merasa hatinya lebih baik, Daffin pun menyalakan mesin mobilnya lalu mengemudikan pergi dari sana. Nanti sebelum tidur mungkin Daffin akan ber teleponan dengan Cynthia, biasanya pasangan kekasih seperti itu kan? Maklum saja, ini kan pertama kalinya bagi Daffin menjalin hubungan.


__ADS_2