Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 61


__ADS_3

"Saya hanya tidak mau hubungan di antara Cynthia dan Daffin goyah karena kesalahan saya dulu," lanjut Citra setulus hati.


Candra terlihat tersenyum tipis. Melihat wanita paruh baya di depannya sampai berani mengatakan itu, membuatnya yakin jika Citra sudah berubah.


"Jujur saja saat awal Daffin mengatakan dia ada hubungan dengan putri anda, di situ saya sempat ragu. Tapi Daffin dan Cynthia sama-sama meyakinkan saya kalau mereka saling mencintai," jelas Candra mengungkapkan.


"Pasti anda ragu kepada putri saya karena saya ya?" tanya Citra memberankan diri.


"Bisa dibilang begitu, tapi sekarang saya sudah tidak ragu lagi. Saya juga salah waktu itu sempat berpikir begitu, mereka benar-benar bisa membuktikan pada saya," jawab Candra sambil menatap pasangan muda di depannya.


Mendengar itu membuat Daffin dan Cynthia merasa lega, itu berarti mereka sudah di restui oleh Candra. Keduanya pun saling bertatapan lalu membalas senyuman satu sama lain.


Ternyata acara makan malam pertemuan antar keluarga ini sangat baik, mereka bisa lebih mengenal satu sama lain dan membicarakan hal yang penting. Seperti sekarang, meluruskan kesalahpahaman.


"Terima kasih Pak Candra sudah memaafkan saya," ucap Citra terharu. Ia memang sudah berubah sekarang, ingin tobat.


"Anda tidak perlu minta maaf dan sungkan begitu Bu Citra. Lagi pula anda juga waktu itu sudah berbaik hati tidak melaporkan putra Kami ke polisi," sahut Livia dengan senyuman menenangkan nya.


Mereka pun kembali melanjutkan makan malam, kali ini suasananya lebih tenang dan tidak secanggung tadi. Topik obrolan pun sudah berubah, Citra dan Livia langsung nyambung saat membicarakan soal fashion.


"Ekhem Daffin, apa kamu sudah terpikirkan untuk serius dengan Cynthia?" tanya Candra sedikit menggoda.


"Maksud Papa apa? Menikah begitu?" tanya Daffin balik terkejut.


"Belum sampai tahap menikah juga, tapi kalian bisa mulai dari bertunangan dulu. Kalau kalian memang sudah saling mempercayai satu sama lain, tidak ada salahnya," kata Candra.


"Nah iya betul, bisa tunangan aja dulu. Kalau nikah kayanya nanti saja sudah lulus, bagaimana?" usul Livia ikut setuju dengan rencana suaminya.


Daffin malah terdiam merasa bingung harus menjawab bagaimana, Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Daffin tidak menyangka Papanya mengusulkan itu padanya, bertunangan juga menurutnya menjalani hubungan yang serius.

__ADS_1


"Mungkin nanti kami akan bicarakan lagi Om Tante, sekarang kami masih menikmati suasana ini. Lagi pula pacaran dan tunangan juga tetap sama kok," ucap Cynthia yang baru membuka suara.


"Ya sudah kalau begitu, kalian bisa bicarakan nanti berdua," ujar Candra tidak mau terlalu memaksa juga.


Saat Cynthia menatap Daffin, mereka pun kembali membalas senyuman satu sama lain. Memang mereka masih nyaman seperti ini, tapi pasti juga sama-sama sudah memikirkan ke tahap yang serius.


Hanya saja sekarang sepertinya belum tepat, toh usia mereka masih terbilang muda. Mereka juga ingin fokus kuliah dulu, apalagi baru mau semester dua. Pacaran juga baru beberapa bulan.


Para perempuan terlihat sedang mengobrol santai di gazebo yang ada di halaman belakang, mereka terlihat asik sekali mengobrol sambil ditemani makanan ringan.


"Pah, aku mau bicara sama Papa," ucap Daffin menghampiri pria itu yang sedang bersantai sendirian di dekat kolam ikan.


"Katakan saja," ucap Candra tanpa menatap.


"Kenapa Papa tadi mengusulkan itu? Meminta aku dan Cynthia tunangan." Daffin sudah tidak bisa menahan lagi, dari tadi ingin menanyakan ini pada Papanya.


Candra pun baru menoleh menatapnya, "Memangnya kenapa? Kamu cinta kan sama pacar kamu itu?"


Jika di perhatikan lagi Candra terlihat tersenyum tipis mendengar perkataan putranya itu. Merasa terharu saja karena Daffin mendengar dengan baik setiap nasihatnya dan keinginannya. Candra merasa dihargai.


"Menurut Papa hanya itu saja tidak akan menghambat belajar dan masa depan kamu. Lagian kamu juga pasti butuh hiburan, maksudnya kebahagiaan sendiri. Kalau terlalu fokus belajar juga tidak baik," jawab Candra.


"Aku pikir Papa akan posesif untuk masa depan aku," gumam Daffin.


Seperti cerita-cerita di novel biasanya kan begitu, apalagi Ia anak satu-satunya Candra, yang paling di harapkan. Walaupun diberikan izin begitu, Daffin tidak akan semena-mena. Toh dirinya juga memang belum siap.


"Tapi Papa juga tidak paksa kamu kok, itu terserah kamu dan Cynthia saja," lanjut Candra sanbil menghembuskan asap rokoknya ke udara.


"Sepertinya kami masih suka begini, kalau tunangan sepertinya takut merasa saling terbebani," ucap Daffin.

__ADS_1


Daffin lalu memperhatikan Papanya itu yang berjongkok di sisi kolam, mencelupkan tangannya ke dalam air dan para ikan cantik itu pun langsung menghampiri nya.


"Pah, makasih ya," ucap Daffin dari dalam hati.


"Makasih apa?"


"Makasih sudah restuin aku dengan Cynthia, aku pikir aku masih harus memberikan Papa bukti lebih supaya Papa bisa yakin pada dia." Daffin sebenarnya gugup sekali mengatakan ini, tapi Ia memilih jujur.


Candra lalu kembali berdiri, pria itu sebelumnya membuang rokoknya ke tanah dan tidak lupa menginjaknya dengan sandal. Kedua pria berbeda usia itu lalu berdiri saling berhadapan, seperti bisa melihat diri sendiri dalam usia berbeda.


"Tidak perlu berterima kasih, lagian sebagai orang tua seharusnya kan mendukung," kata Candra sambil tersenyum.


Jujur saja hati Candra awal goyah saat melihat Daffin yang mengajari Cynthia belajar berjalan waktu itu di halaman belakang. Mereka terlihat saling menyayangi, Daffin juga dapat menjaga Cynthia dengan baik.


Moment itu mengingatkan dirinya pada masa lalu. Dulu Candra juga kan sempat lumpuh karena kecelakaan, dan Livia dengan sabar menemaninya sampai sembuh dan bisa jalan normal lagi. Ia saat itu benar-benar sangat mencintai istrinya, seperti saat awal mereka bertemu saja.


"Pah, kenapa? Kok diam aja?" tanya Daffin menegur sambil melambaikan tangannya di depan wajah.


"Hah? Ekhem gak papa kok," Bantah Candra.


Obrolan mereka lalu terhenti melihat para perempuan mendekat. Cynthia lalu memberitahu pada mereka jika Ia dan Mamanya akan pulang sekarang. Livia sempat menawarkan menginap, tapi katanya lain kali saja.


Sebelum benar-benar pergi mereka pun sempat pamitan lagi, Daffin pun ikut keluar karena yang akan mengantarkan pulang. Cukup lama juga mereka main di rumahnya, pulang saat waktu sudah mau pukul sepuluh malam.


"Mama bilang nanti kapan-kapan kalian katanya yang makan malam di rumah kami," ajak Cynthia di tengah perjalanan.


"Benarkah? Ayo aja sih," ucap Daffin langsung setuju.


Citra yang duduk di belakang terdengar tertawa kecil, "Aduh jadi malu, tapi nanti maaf ya kalau menu nya biasa, terus rumahnya agak sempit," katanya.

__ADS_1


"Gak papa kok, kami tetap senang," ujar Daffin sambil tetap fokus menyetir.


__ADS_2