Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 2


__ADS_3

Rasanya Daffin sedikit gugup karena hari ini Ia akan masuk ke Kampus ternama di Ibu kota. Hari pertama dirinya menjadi mahasiswa baru. Papanya itu memang sudah merencanakan masa depan yang cerah untuknya.


"Sarapan dulu Daffin, biar nanti semangat belajarnya," kata Livia sambil menyimpan sepiring pancakes di hadapannya.


"Makasih Mah, Mama juga sarapan. Em kalau Papa dimana?" tanya Daffin sambil memperhatikan sekitar.


Tidak lama yang dicari pun datang, Candra langsung menyapa semua orang di sana dengan riangnya. Semenjak Daffin datang ke rumah ini, entah kenapa rasanya semakin hangat saja keluarga ini.


"Kamu gugup pertama masuk Kampus?" tanya Candra di sela kunyahan nya.


"Lumayan gugup, apalagi ini di Jakarta dan aku harus bisa membiasakan diri dengan lingkungan di sini," jawab Daffin.


Perbedaan hidup di Kampung dengan di Jakarta tentu akan sangat berbeda. Tetapi bukan berarti Daffin ini sangat katro, Ia juga pandai memilih pakaian dan banyak tahu apa yang sedang tren.


"Nanti juga pasti di sana akan banyak teman baru, tapi Papa harap kamu bisa pilih-pilih teman juga ya. Papa gak mau anak baik-baik kaya kamu malah temenan sama berandalan," nasihat Candra.


"Iya, Papa tenang aja. Aku akan fokus belajar di sini, gak mau sia-sia in kesempatan yang Papa kasih," ucap Daffin sambil tersenyum.


Melihat putranya yang sangat patuh dan penurut begitu, membuat Candra bangga dan lega sendiri. Ia yakin masa depan Daffin akan se cerah seperti yang di bayangkan nya.


"Papa punya sesuatu untuk kamu, ayo," ajaknya sambil beranjak berdiri dan pergi dari sana.


Daffin yang sudah selesai sarapan juga ikut berdiri mengikuti Papanya itu yang keluar rumah. Di depan rumah terlihat ada sebuah mobil dengan merek yang sangat Ia kenali. Lamborghini Aventador S Roadster. Dengan warna putih yang membuatnya terlihat keren.


"I-ini.. "


"Tahun lalu Papa belum sempat kasih kamu hadiah, jadi ini adalah hadiah dari Papa untuk kamu," ucap Candra.


Daffin langsung menatap terkejut Papanya, "Pah ini terlalu berlebihan, aku.. Aku gak bisa," tolak nya.


"Loh kenapa? Apa kamu gak suka mobil ini?" Candra lalu membatin, bukankah Lamborghini ini idaman semua anak remaja ya?

__ADS_1


"Bukan gak suka, malah aku suka banget. Tapi hadiah ini terlalu mahal, Papa gak perlu keluarin uang sebanyak itu untuk aku," jawab Daffin meluruskan.


Harga mobil keren ini bisa sampai puluhan miliyar, dan menurut Daffin itu terlalu berlebihan hanya untuk hadiah ulang tahun untuknya. Daffin suka mobil mewah ini, sangat-sangat suka.


"Daffin, terima saja. Kamu itu anak kesayangan Papa kamu, gak salah dong Papa kamu ngasih hadiah besar begini," ujar Livia sambil menepuk bahunya.


"Iya, lagian Papa sendiri kok yang inisiatif beliin buat kamu. Bukan kamu yang minta," angguk Candra. Malahan putranya itu selalu segan dan tidak suka minta aneh-aneh padanya.


Setiap tahun Candra selalu bertanya kepada Daffin apa kado yang diinginkan darinya. Daffin selalu minta yang biasa, seperti sepatu atau yang paling mahal handphone. Padahal Candra kan seorang pengusaha, uangnya banyak.


"Papa sangat berharap banyak sama kamu Daffin, karena kamu satu-satunya pewaris yang Papa punya."


Sepertinya besarnya nominal harga mobil ini juga sebesar harapan Papanya kepadanya. Setelah Daffin pikirkan lagi, akhirnya Ia pun menerima hadiah itu. Sambil berjanji di dalam hati akan selalu membanggakan Papanya.


"Makasih banyak ya Pah, aku kaya mimpi bisa dapat mobil bagus begini," ucap Daffin sambil tersenyum tipis.


"Sama-sama, Papa senang kalau kamu juga suka," sahut Candra.


"Kamu bisa nyetir kan?" tanya Livia memastikan.


Daffin menoleh ke belakang, "Bisa kok Mah, diajarin Papa Yoga dari pas umur lima belas tahun," jawabnya.


"Bagus, berarti kamu juga bakalan terbiasa."


Entahlah, tapi Daffin merasa akan sedikit berbeda rasanya mengendarai mobil biasa dengan mobil mewah ini. Ya Daffin harap sih bisa menggunakannya dengan baik, karena kalau sampai lecet sedikit pun Ia akan merasa bersalah.


"Sudah sana berangkat, nanti kamu telat lagi ke Kampus," suruh Candra sambil melambaikan tangan.


"Pakai mobil ini?" Daffin masih bertanya lagi, pria itu masih speechless saja.


"Iya lah, masa mobilnya kamu simpan di garasi. Ayo pamerin sama temen-temen kamu itu, Papa yakin pasti banyak yang bakalan langsung mau jadi temen kamu," celetuk Candra sambil terkekeh kecil.

__ADS_1


Daffin yang mendengarnya hanya tersenyum tipis, sayangnya Ia tidak mau jadi pusat perhatian dan tidak mau juga jadi terkenal. Tetapi entahlah apa nanti akan membuat kehebohan atau tidak di Kampus karena Ia mengendarai Lamborghini Aventador ini.


"Kalau gitu aku berangkat dulu ya Mah Pah," ucap Daffin. Pria itu lalu masuk ke dalam dan memakai seatbelnya.


Awalnya saat menjalankan Daffin hanya pelan-pelan karena berusaha membiasakan diri. Merasa jalanan cukup lenggang, pria itu mencoba menjalankan lebih kencang.


Mendengar suara mobilnya yang menjadi keren, membuat Daffin tertawa merasa senang sendiri. Pria itu pun menjalankan mobilnya lagi dengan lebih kencang. Ah ternyata rasanya begini, sangat-sangat menyenangkan.


"Papa benar-benar tahu selera aku," gumam Daffin sambil memukul pelan setir mobilnya.


Memiliki dua Papa menurut Daffin sangat menyenangkan. Candra dan Yoga sama-sama baik kepadanya, mereka memperlakukannya seperti anak. Tetapi memang tetap saja Papa kandung yang terbaik.


Ckitt!


Brak!


"Astaga!" pekik Daffin terkejut sendiri.


Daffin segera membuka seatbelnya lalu turun dari mobil. Ia terlalu kencang mengendarai mobilnya sampai tidak sadar menabrak seseorang yang melintas. Tentu saja kecelakaan itu menarik perhatian orang lain.


"Tolong panggilkan ambulance, korban kecelakaan terluka cukup parah!" teriak seorang warga yang dekat dengan korban.


Rasanya sekarang Daffin panik sekali, juga merasa takut. Ia lalu berusaha mendekati korban yang tergeletak itu, dan ternyata seorang perempuan. Terlihat seperti se usianya, sepertinya pingsan.


"Mas ini gimana sih? Kalau nyetir yang bener dong!" omel seorang Bapak-Bapak.


"Iya mentang-mentang pakai mobil bagus begitu, jadi sok-sok an ya di jalanan!" timpal yang lain.


Daffin menundukan kepalanya, "Saya minta maaf, tapi saya janji akan tanggung jawab dan siap mendapatkan konsekuensi," katanya bersungguh-sungguh.


Untung saja ambulance cukup cepat datangnya, jadi korban itu pun langsung dibawa ke rumah sakit. Daffin lalu mengikutinya di belakang, sambil berdoa di dalam hati semoga perempuan yang Ia tabrak tidak kenapa-napa.

__ADS_1


"Ya Tuhan, aku ini kenapa sih? Bodoh-bodoh!" gerutunya sambil mencengkram rambutnya kasar.


__ADS_2