Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Berusaha Menghindar


__ADS_3

Setelah menemukan surat itu, Rania memutuskan membawanya. Semalam itu pun Rania tidak bisa tertidur karena terus memikirkan nya. Hanya bingung apakah isi surat itu benar atau tidak, tapi di sana sampai ada tanda tangan Candra di atas materai dan disetujui oleh Livia.


Besok paginya Rania bangun dengan wajah lesunya, terlihat lingkaran hitam di sekitar matanya tanda jika semalam tidak tidur. Bagaimana bisa tidur karena kepalanya terus memikirkan isi surat itu. Ingin Rania tanyakan, tapi kepada siapa? Kalau pada Candra langsung ya tidak mungkin.


"Selamat pagi Nona," sapa mbok Nina ceria seperti biasa. Wanita paruh baya itu menyimpan pancakes dan segelas susu di depannya.


"Pagi juga mbok," balasnya lesu.


Kepala mbok Nina sedikit miring, "Semalam Nona tidur nyenyak, kan?" tanyanya.


"Mbok sadar aku semalam tidak bisa tidur nyenyak?" tanya Rania balik.


"Mbok bisa lihat dari wajah Nona yang lesu, ada mata panda juga," jawabnya sambil terkekeh kecil.


Rania hanya tersenyum tipis tanpa berniat menjelaskan kenapa Ia tidak tidur nyenyak. Malahan Rania semalam tidak tidur di kamar Candra, melainkan di kamarnya yang ada di lantai bawah. Rasanya sesak saja berada di sana, Rania terus menangis.


"Katanya Tuan Candra akan pulang lebih cepat, malam ini sudah pulang lagi," ujar mbok Nina memberitahu.


"Eh serius mbok?" tanya Rania terkejut. Entah kenapa, tiba-tiba hatinya merasa cemas.


"Iya, Nona pasti sudah kangen sama Tuan Candra ya?" goda mbok Nina.


"Ihh enggak kok," bantah Rania.


Kangen? Lucu sekali, malahan Rania tidak mau bertemu pria itu dalam waktu cepat. Bagi Rania ini akan sangat canggung, walau pria itu tidak akan sadar dan tahu bagaimana isi hatinya.


"Mbok," panggil seseorang dengan keras.


Menyadari itu adalah suara Livia, membuat perasaan Rania semakin tidak nyaman. Rania pun mencoba bersikap tenang dan melanjutkan makan, walau sebenarnya tidak terlalu nafsu. Tetapi saat Livia duduk di depannya, membuat Rania sampai tersedak makannya sendiri.


"Ukhuk!"


"Eh kau kenapa?" tanya Livia bingung.


Mbok Nina pun segera menghampiri dan membantu Rania minum, "Makannya pelan-pelan Non, jadinya keselek," tegur nya.

__ADS_1


Saat sedang minum Rania sempat melirik Livia, ternyata perempuan itu memperhatikannya dari tadi, membuat Rania pun segera mengalihkan pandangan. Setelah merasa tenggorokannya tidak sakit, Rania berdehem pelan dengan kepala menunduk.


"Katanya kemarin malam mati lampu ya mbok?" tanya Livia sambil mengalihkan pandangan.


"Oh iya Nyonya, sampai dini hari katanya," jawab mbok Nina dari pantri yang sedang mencuci piring.


"Tadi aku lihat petugas lagi beneran tiang listrik di depan gerbang kompleks, mungkin ada yang putus karena pohon tumbang," ujar Livia.


"Oh begitu ya Nyonya, pantas saja lama. Memang sih semalam hujan juga deras banget, jadi kayanya tumbang karena itu sama angin yang besar."


Selama mereka mengobrol, Rania tidak ikut sedikit pun karena tidak tahu harus mengatakan apa. Ingin sekali kalau bisa pergi dari sana, tapi sarapannya belum habis dan pasti akan ditanyai ini itu.


"Kamu kenapa Rania? Sakit?" Baru kali ini Livia yang memulai topik, sampai membuat Rania tersentak sendiri.


"A-aku gak papa kok," jawab Rania tanpa menatap.


"Tapi wajah kamu agak pucat, beneran gak papa?"


Kenapa wanita itu sok perhatian sekali? Melihat sikapnya yang berubah seperti itu, membuat Rania jadi canggung sendiri. Perempuan itu pun kembali teringat akan isi surat perjanjian itu, dimana mereka berdua yang memang sama-sama ikut menjaga bayinya.


"Kenapa?" tanya Livia.


"Gak tahu, gak bisa tidur aja." Setelah itu Rania terdiam tanpa berniat melanjutkan obrolan lagi.


Livia pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Pagi ini merasa sedikit aneh dengan tingkah Rania yang lebih banyak diam, Livia pun sadar jika perempuan yang sedang hamil itu berusaha tidak menatapnya balik. Ada apa?


"Oh iya semalam Nona tidur di kamar Nyonya," ujar mbok Nina yang baru ingat.


Kedua mata Rania langsung terbelak mendengar itu, Ia pun menatap mbok Nina dengan pandangan sedikit memelas nya. Kenapa mbok Nina malah cerita sih? Padahal Rania inginnya mereka tidak tahu.


"Oh ya? Kenapa?" tanya Livia sambil menatap Rania.


"Soalnya kan di kamar Nyonya ada lampu emergency, kasihan Nona Rania katanya gak bisa tidur kalau di yang gelap. " Mbok Nina sama sekali tidak mengerti dengan kode tatapan Rania, jadi terus bercerita.


"Oh begitu."

__ADS_1


Saat ditatap Livia, Rania hanya tersenyum kikuk lalu meminum susunya beberapa tegukan. Seharusnya Ia bersikap biasa saja, tapi entah kenapa merasa khawatir kalau Livia sadar jika ada sesuatu yang Ia ambil dari kamar itu. Semoga saja tidak deh.


"Ta-tapi aku gak jadi tidur di kamar Kakak," ucap Rania.


"Kenapa?"


"Gak enak aja, soalnya kan itu kamar Kakak sama Mas Candra, takut gak sopan," jawab Rania.


Livia terlihat menghela nafasnya, "Gak masalah kok, yang penting kamu di sana gak aneh-aneh."


Rania langsung menelan ludahnya kasar mendengar itu, padahal pasti Livia pun tidak bermaksud menyindir nya karena telah membawa surat itu di kamar. Rania harus tenang dan jangan bersikap berlebihan.


"Enggak kok Kak, di atas juga cuman sebentar," sahut Rania.


Livia mengangguk pelan lalu beranjak dari duduknya. Wanita itu sudah menyelesaikan sarapannya, akan ke kamar untuk istirahat karena semalam bekerja sampai larut malam dan tadi pagi baru sampai. Selepas kepergian Livia, Rania tanpa sadar menghela nafas lega.


"Nona kenapa?" tanya mbok Nina. Dari tadi Ia sadar dengan sikap tidak nyaman Rania saat bersama Livia.


"Gak papa kok mbok." Rania lalu teringat sesuatu, "Mbok kenapa bilang sama Kak Livia kalau semalam aku tidur di kamar atas?" tanyanya agak merengek.


"Em maaf apa sebelumnya Nona memang sudah bilang sama Nyonya atau Tuan mungkin?" Sungguh mbok Nina tidak bermaksud melaporkan, khawatir jadi membuat salah paham setelah ini.


"Bukan gitu, tapi tadinya aku mau mbok jangan cerita kalau aku sempat mau tidur di kamar atas," ucap Rania agak memelan.


"Kenapa memangnya?"


Kepala Rania menggeleng, "Enggak papa, tapi ya mau gimana lagi sudah terjadi," gumamnya.


Seharusnya Rania katakan dari awal, tapi Ia juga tidak tahu kalau Livia akan pulang sepagi ini dan sarapan bersama. Rania tidak menjelaskan lebih juga alasannya ingin menyembunyikan ini, tapi semoga mbok Nina tidak salah paham sampai menganggapnya telah aneh-aneh di kamar atas.


"Aku sudah selesai sarapannya, makasih mbok," ucap Rania yang setiap hari selalu mengatakannya.


"Iya sama-sama Nona."


Setelah ini Rania tidak tahu akan melakukan aktivitas apa, tapi sepertinya Rania akan mengurung diri di kamar saja menghindar bertemu dengan Livia dan Candra.

__ADS_1


__ADS_2