
Sesampainya di rumah Daffin langsung segera mencari keberadaan Mamanya itu. Saat Ia tanyakan kepada pelayan, katanya semua sedang di halaman belakang. Daffin pun segera pergi ke sana.
Senyumannya melebar melihat ternyata benar semua keluarga sedang di sana, mereka seperti sedang menyiapkan alat pembakaran, apakah akan makan besar? Daffin pun berjalan pelan menghampiri dengan detak jantung cepatnya.
"Assalamu'alaikum semuanya," ucapnya agak keras.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak.
"Mah Pah tuh Kak Daffin sudah pulang," teriak Devina ikut senang sendiri.
Saat sudah dekat dengan Rania, Daffin pun langsung memeluk Mamanya itu erat. Rasanya senang dan juga terharu bisa bertemu lagi, perasaan rindu selama beberapa bulan tidak bertemu pun langsung terobati.
"Daffin bagaimana kabar kamu? Mama lihat kamu baik-baik saja, kamu betah di sini?" tanya Rania dengan suara lembutnya.
Daffin meregangkan pelukan mereka, "Aku betah tinggal di sini, Papa sama Mama Livia baik dan perhatian sama aku," jawabnya jujur.
"Syukurlah kalau begitu, Mama ikut lega dengarnya," ucap Rania sambil tersenyum. Ia juga sudah yakin sih Daffin akan betah tinggal di rumah Papa kandungnya.
"Mah, aku kangen banget sama Mama," rengek Daffin manja.
"Haha kamu kaya anak kecil aja, tapi Mama juga kangen kok sama kamu. Biasanya kan dulu selalu ada yang bantuin Mama, tapi sekarang sudah gak ada," kata Rania.
"Ah Mama mah, jadi aku dikangenin nya cuman karena gak ada yang bantu-bantu di toko?" gerutu Daffin lalu pura-pura ngambek.
Tepukan di bahunya, membuat kepala Daffin menoleh. Melihat itu Yoga, membuat Daffin pun segera memeluknya dan kedua lelaki itu tertawa. Daffin juga tentu merindukan Papanya ini, tapi merasa malu mengatakan.
"Gimana Pah di perjalanan? Apa Papa yang nyetir?" tanya Daffin.
"Iya Papa yang nyetir, soalnya pengen nikmatin waktu bareng keluarga. Lumayan lah agak pegel-pegel perjalanan jauh, biasanya kan selalu di supirin," jawab Yoga sambil meregangkan badannya sebentar.
__ADS_1
Daffin lalu berbisik di telinganya, "Tenang aja, nanti malam minta pijit sama Mama."
"Hahaha bisa saja kamu, tapi boleh juga usulannya," celetuk Yoga lalu keduanya kembali tertawa bersamaan.
Candra yang memperhatikan interaksi di antara Daffin dan Yoga dibuat sedikit cemburu, anaknya itu ternyata sangat dekat juga dengan Papa tirinya. Memang sih, toh mereka sudah tinggal bersama sangat lama.
Lamunan Candra lalu terhenti saat mendengar teguran kecil di sebelah nya, Rania memberitahu jika apinya terlalu besar. Candra pun segera menyiramkan sedikit air, jika apinya terlalu besar nanti yang ada daging steak nya malah gosong.
"Kalian mau menginap malam ini di sini?" tanya Candra yang sudah pasti pada Rania.
"Kayanya enggak, nanti setelah makan-makan mau langsung ke rumah Mama," jawab Rania. Rumah Mama di sini tentu mertuanya.
Livia lalu mencubit pelan pipi Devina, "Terus kamu juga mau ikut ya?" tanyanya.
"Hehe iya Mah, aku juga mau ikut pulang. Aku kan di sini sudah lama," jawab Devina sambil tersenyum lebar.
Rania tentu saja senang melihat anak-anaknya disambut dengan baik di rumah ini, apalagi oleh Livia. Wanita yang satu itu dari dulu memang baik, jadi Rania tidak khawatir Daffin dan Devina jauh darinya.
Hubungannya dengan Livia dan Candra masih berjalan baik, mereka tidak pernah lagi ada masalah. Kejadian masa lalu juga sudah berlalu sangat lama, sekarang ada masa depan yang lebih pasti.
"Apa Devina pernah nakal di sini? Dia soalnya agak aktif, takut buat masalah," tanya Rania khawatir sendiri takut merepotkan.
"Enggak kok, malahan Devina selalu bantuin aku rapihin beberapa majalah juga baju-baju di kamar," jawab Livia sambil tersenyum.
"Gak papa, dia juga kan di rumah terus dan gak ada kegiatan. Tumben juga Devina rajin, kalau di rumah di suruh beresin kamar aja gak mau," kata Rania sedikit menggoda putrinya.
Devina mendengar itu langsung mengerucutkan bibirnya, "Ih Mama, aku rajin kok," rengeknya.
Para lelaki lalu bertugas memanggang daging dan sosis-sosisan, sedang para perempuan menyiapkan piring-piring juga minuman. Untung saja malam ini tidak hujan, bahkan langit terlihat indah dengan taburan bintang.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya makanan pun jadi juga. Semuanya langsung di pindahkan ke meja makan yang sudah di siapkan, lalu duduk di kursi masing-masing.
"Bagaimana kuliah kamu Daffin? Lancarkan? " tanya Yoga penasaran dengan peningkatan putranya itu.
"Lancar kok Pah, sekarang masih lumayan santai lah belajarnya, jadi masih dinikmati," jawab Daffin sambil tersenyum.
Candra lalu menyahut, "Iya, tapi nanti di akhir-akhir akan mulai mumet. Tapi jangan khawatir dan terlalu di pikirin, semuanya akan berjalan begitu saja," katanya.
Makan malam ini terlihat ramai sekali, berbeda dari biasanya. Suasana halaman belakang pun sangat ramai oleh dua keluarga kecil yang bersatu itu. Banyak hal yang mereka obrolkan, karena sudah lumayan lama juga tidak bertemu.
"Oh iya Mama hampir lupa, Elisa dimana sekarang?" tanya Rania yang kebetulan duduk di sebelah putranya.
"Elisa sekarang ngontrak di tempat khusus perempuan gitu, ya jaraknya gak terlalu jauh sih dari sini. Nanti aku ajak dia ke rumah Papa Yoga deh," kata Daffin.
"Boleh-boleh, kalau bisa sekalian juga ya sama Cynthia. Mama pengen ketemu Cynthia, pengen bicara langsung sama dia," pinta Rania. Juga pastinya yang lebih utama meminta maaf.
Daffin mengangguk pelan, "Oke besok aku ajak mereka bareng ke rumah," angguknya.
Candra lalu bertanya akan berapa lama Rania dan Yoga di Jakarta, ternyata lusa juga katanya akan pulang lagi karena di Kampung Yoga sibuk banyak pekerjaan. Selain itu Devina juga persiapan mau masuk sekolah.
Daffin sebenarnya sedih karena itu berarti waktunya dengan Mamanya hanya sebentar. Tetapi Ia sendiri yang sudah memilih jalannya, Daffin harus kuat karena Ia juga bukan lagi anak kecil.
"Pah, untuk beberapa hari apa aku boleh tinggal bareng Mama di rumah Oma? Hanya sampai mereka pulang lagi ke Kampung," pinta Daffin agak malu-malu.
Candra tidak langsung menjawab, pria itu malah tersenyum tipis. Ya walaupun Daffin sudah dewasa, tapi pasti tetap merindukan sosok Mama nya. Candra mengerti, Daffin hanya ingin memuaskan diri sebelum berjauhan lagi dengan Rania.
"Boleh kok, pergilah. Tapi nanti jangan ikut pulang ke Kampung ya, kamu kan lagi kuliah," jawab Candra di selingi sedikit gurauannya.
"Haha ya enggak akan lah Pah," bantah Daffin jadi tertawa merasa konyol sendiri jika melakukan itu.
__ADS_1