Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 36


__ADS_3

Selama Mamanya di Jakarta tentu Daffin ingin terus bersama dan tidak berjauh-jauh. Untung saja Candra itu berbaik hati memberikan Daffin izin, Papanya memang baik sekali.


Malam itu Daffin dan Devina pun bersiap ikut pergi ke rumah Oma mereka. Daffin membawa mobilnya sendiri, agar tidak repot. Ia akan nyaman kemana pun, asal bersama Mamanya.


"Ya ampun cucu Oma ini, kamu makin tinggi dan ganteng aja," puji Oma nya sambil mencubit pipi Daffin gemas.


"Hehe makasih Oma, Oma juga cantik," balas Daffin.


Pluk!


"Jangan bercanda ah, Oma ini sudah tua dan keriput, mana ada cantik?" Oma nya jadi merasa sedang diledek, tapi Ia tetap senang mendapat pujian begitu dari cucu tampannya.


Di rumah Oma dan Opanya ini, tentu Daffin punya kamar sendiri. Selesai berganti pakaian, Ia ke dapur untuk membuat kopi yang akan menemaninya mengerjakan tugas Kampus. Ternyata di sana pun sedang ada Mamanya.


"Mah boleh minta buatin kopi susu gak? Aku mau ngerjain tugas," pinta Daffin.


"Oh boleh, kamu ternyata memang anak kecil ya," celetuk Rania dari pantri.


"Anak kecil gimana maksudnya?" Daffin jadi bingung sendiri dipanggil begitu.


"Iya kaya anak kecil yang sukanya kopi ada susunya, jadi manis," sahut Mamanya menjelaskan.


"Ah Mama bisa saja, tapi kan aku emang sukanya kopi begitu. Aku gak suka kopi pait, gak enak," jawab Daffin.


Selesai membuat kopi dan teh untuknya, Rania pun menghampiri Daffin di meja makan. Anaknya itu juga tidak langsung pergi, sepertinya mereka akan mengobrol.


"Mah aku mau cerita sama Mama," ucap Daffin. Ia harus meminta pendapat Mamanya tentang hal itu.


"Cerita apa? Katakan saja," kata Rania menunggu. Ia tentu akan mendengarkan dengan baik.


Daffin terdiam beberapa saat, merasa gugup saja untuk cerita tentang hal yang menyangkut perasaannya. Tetapi sepertinya hanya Rania yang bisa membantunya mendapatkan jawaban.

__ADS_1


"Tapi Mama jangan ketawain aku ya, aku serius. Sebenarnya sekarang aku lagi galau," ungkap Daffin jujur.


Rania yang mendengar itu berusaha menahan tawanya, Ia tidak mau membuat Daffin jadi badmood dan tidak jadi cerita. Mungkin ini pertama kalinya Daffin se jujur ini kepadanya, dan topiknya cukup penting.


"Aku ngerasa bingung dengan perasaan aku sekarang, aku butuh pendapat Mama untuk aku tahu gimana perasaan aku yang sebenarnya, " lanjut Daffin.


"Ada apa? Ceritakan saja dengan jelas, jangan malu," desak Rania mulai menatapnya serius.


"Mama tahu kan aku ada rasa suka sama Elisa?"


Dan Rania pun langsung mengangguk pelan, Ia memang bisa tahu jika putranya ini diam-diam menyukai teman kecilnya itu. Sebagai Ibu tentu saja bisa langsung peka, walau Daffin belum pernah cerita.


"Sekarang Elisa juga sudah tahu kalau aku ada perasaan sama dia, ternyata reaksi Elisa cukup baik dan dia mulai mendekati aku. Seharusnya aku senang, tapi aku malah merasa terbebani," ungkap Daffin sambil menghela nafas berat.


"Loh kenapa terbebani? Kamu sudah ceritakan semua kepada dia kan? Apa kalian sudah jadian?" tanya Rania mendesak.


"Enggak Mah, ada perempuan lain yang beberapa hari ini terus aku pikirkan. Saat Elisa mengungkapkan dia senang aku menyukai dia, aku malah memikirkan perempuan lain," jawab Daffin menjelaskan.


"Siapa?"


Rania malah tersenyum tipis, lalu mengusap tangan Daffin yang berada di atas meja. Putranya ternyata sudah dewasa, di usianya sekarang memang bebannya akan bertambah karena kisah asmara.


"Mama jadi penasaran bagaimana Cynthia itu, yang bisa buat kamu berpaling dengan mudah dari cinta pertama kamu," ucap Rania.


"Iya besok kalian ketemu, aku juga sudah kabari dia dan dia mau saja. Aku jadi gugup mau kenalin dia ke Mama," ujar Daffin sambil tersenyum malu-malu.


"Haha kenapa gugup? Kaya mau kenalin ke calon mertua ya? Gak papa lah, Mama kan gak galak dan baik sama siapapun."


Daffin mengangguk pelan setuju, Ia juga harap besok berjalan lancar dan Cynthia bisa akrab dengan Mamanya. Sepertinya mereka akan nyambung, walau awalnya Cynthia selalu agak pendiam.


"Daffin, sebenarnya kamu bisa mendapat jawaban dari hati kamu itu dengan mudah. Sepertinya Mama tidak usah bilang, Mama ingin kamu menentukan pilihan itu sendiri," ucap Rania sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Tapi aku takut salah Mah, aku ngerasa susah memilih di antara Elisa dan Cynthia."


Memang sih baru hanya sekedar pacaran, tapi Daffin selalu ingin serius dan tidak mau main-main menjalin hubungan. Apakah Ia harus memilih cinta pertamanya atau orang yang selalu hadir di kepalanya?


Daffin lalu izin pada Mamanya itu untuk ke kamar karena ingin mengerjakan tugas. Rania hanya mengangguk mempersilahkan. Daffin sebenarnya tidak terlalu puas curhat, karena ternyata Rania malah memintanya sendiri mencari jawaban.


Waktu berjalan dengan cepat, besok harinya Daffin sudah bersiap untuk ke Kampus. Hari ini kelasnya hanya dua dan itu pun sampai siang saja, rencananya nanti akan mengajak Elisa juga Cynthia ke rumah saat makan siang. Mamanya sendiri yang masak langsung.


"Selamat pagi Daffin," sapa Elisa saat memasuki mobil dan duduk di sebelahnya.


Daffin tersenyum tipis, "Pagi juga, kamu kelihatan ceria gitu pagi ini," ujarnya.


"Hehe iya dong harus, biar kamu juga ikut ceria," katanya lalu tersenyum lebar sampai matanya itu menyipit.


Daffin berdehem pelan lalu menatap ke depan untuk menjalankan mobil. Ia bukan sedang salah tingkah, tapi agak malu Elisa bersikap semanis itu kepadanya. Kalau dulu jantungnya pasti berdetak cepat, tapi sekarang kenapa biasa saja ya?


Tentunya Daffin juga tidak lupa menjemput Cynthia di rumahnya. Ia turun terlebih dahulu membantu perempuan itu lalu di duduk kan di kursi belakang. Setelahnya Daffin pun kembali masuk untuk menjalankan kendaraannya.


"Sepulang dari Kampus kita langsung ke rumah kamu kan Daffin?" tanya Elisa kembali mengajaknya mengobrol.


"Iya, Mama aku ajak kalian makan siang," Jawabnya.


Kernyitan terlihat di kening Elisa, "Kalian? Maksudnya-"


"Iya aku ajak Cynthia juga, Mama aku pengen ketemu Cynthia," jawab Daffin langsung tahu.


Daffin sempat melirik Elisa lewat ekor matanya, perempuan itu tadi terdengar berdecak pelan. Mungkin Elisa agak kesal karena Ia mengajak Cynthia, sempat menganggap hanya Elisa saja yang di undang.


Daffin lalu beralih melirik Cynthia lewat kaca kecil di atas. Saat pandangan mereka bertemu, langsung membalas senyuman satu sama lain. Entah kenapa, hanya itu saja mampu membuatnya jadi gugup.


"Cynthia kamu pulang jam berapa hari ini?" tanya Daffin.

__ADS_1


"Aku juga hari ini kelasnya cuman sampai siang, jadi bisa pulang bareng," jawab Cynthia di belakang.


"Oke deh bagus, nanti kita langsung berangkat ya," kata Daffin riang.


__ADS_2