Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 31


__ADS_3

Mendapat rengekan memohon begitu, membuat Daffin lagi-lagi menghela nafas melihat sikap Elisa yang cukup menyebalkan hari ini. Padahal tadi sudah janji akan bersikap tenang, tapi ternyata tidak.


"Kita akan pulang selesai makan," ucap Daffin berusaha tegas.


"Tapi--"


"Kalau kamu gak mau makan, kamu bisa tunggu di mobil," sanggah Daffin tidak serius.


Sebenarnya Daffin tidak mau bersikap dingin begini pada Elisa, tapi sepertinya sahabatnya itu sesekali harus di tegasi. Mungkin saja Daffin terlalu memanjakan, alias selalu menuruti kemauan Elisa.


"Ya sudah suapin aku," ujar Elisa tiba-tiba.


Daffin kira perempuan itu akan beranjak pergi meninggalkannya, tapi ternyata tidak dan malah meminta hal itu. Tanpa sadar Daffin melirik Cynthia, dari tadi perempuan itu hanya diam saja.


"Kamu makan sendiri aja," ucap Daffin pelan.


"Sumpit aku kan sudah jatuh dan kotor, jadi aku pengen disuapin aja," jawab Elisa sambil tersenyum lebar, seperti senyuman banyak arti.


"Tinggal minta lagi aja sama pelayan," celetuk Cynthia yang baru membuka suara. Hanya gemas saja melihat Elisa nyang selalu mencari perhatian.


Sebelum Daffin mengangkat tangan akan memanggil pelayan, Elisa langsung menahannya, "Aku akan makan kalau kamu suapin," rengeknya.


"Kamu ini ada-ada saja, kaya anak kecil," ucap Daffin sambil menggelengkan kepala.


"Hehe biarin, kan manjanya sama kamu doang." Elisa terlihat kembali melirik Cynthia, tapi dengan senyuman sinis seolah mengejek.


Akhirnya Daffin pun mau tidak mau menyuapi Elisa, di selingi dengannya pastinya. Terkadang pria itu melirik Cynthia, terlihat tenang sekali saat makan.


Daffin lalu sengaja menyimpan sedikit kimchi di atas kimbab yang akan disuapkan Cynthia. Perempuan itu hanya menatapnya sebentar, lalu memakan kimbab nya.


"Ternyata makanan Korea gini enak juga ya," kata Daffin mencairkan suasana.


"Hm," Cynthia hanya berdehem malas.


"Gak salah kamu ngajak kesini, lain kali kita bisa makan di sini lagi, mungkin?" Daffin seperti sedang mengkode.

__ADS_1


Elisa lalu menggoyangkan tangan Daffin, "Kalau mau kesini, aku juga harus ikut ya. Aku juga kan suka makanan pedas gini," pintanya.


Daffin hanya mengangguk pelan sambil melirik Cynthia, seolah merasa sedikit canggung jika perempuan itu melihatnya yang mengizinkan begitu saja. Entah kenapa Daffin merasa tidak enak hati saja pada Cynthia.


Sebenarnya Daffin tidak terlalu enak makan, dirinya merasa tertekan saja di posisi ini. Daffin merasa tidak enak hati Cynthia yang memperhatikan tingkah Elisa yang manja begitu padanya. Apa itu berarti Daffin takut membuat Cynthia salah paham?


Selesai makan siang, mereka memutuskan langsung pulang. Terlebih dahulu akan mengantar pulang Elisa, karena kebetulan jarak rumahnya paling dekat. Sempat perempuan itu menolak dan ingin ikut dulu, tapi Daffin beralasan tidak akan kembali lagi.


"Kamu nanti kalau udah anterin dia langsung pulang ya, jangan main atau lama-lama di rumah dia," kata Elisa membujuk, dia di sini sudah pasti Cynthia.


"Iya-iya," Daffin hanya menjawab itu, walau dengan tidak pasti.


"Nanti kalau sudah sampai di rumah jangan lupa kabarin aku, oke?" Karena Elisa harus memastikan saja.


Daffin berdehem pelan lalu pria itu pamit pergi, sempat Daffin membaca raut wajahnya Elisa yang terlihat cemas. Seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu, tapi apa?


Saat masuk mobil, Daffin tersenyum pada Cynthia yang masih duduk di bangku belakang. Sempat Ia tawarkan untuk pindah ke depan, tapi perempuan itu menolak.


"Besok kamu ada kelas kan?" tanya Daffin memulai lagi obrolan.


"Ada kok, nanti bareng aja ya biasa berangkatnya," jawab Daffin menawarkan dengan senang hati.


Cynthia terlihat memainkan jari tangannya, seperti sedang merasa gundah, "Gak usah deh, nanti malah ngerepotin lagi," tolak nya.


"Loh kok bilang gitu sih?" Tumben sekali pikirnya Cynthia kembali berkata begini.


"Bukan gitu, tapi gue suka kesel aja lihat sahabat lo itu yang nyindir-nyindir gue. Kalau aja gue gak lumpuh, gue juga sebenarnya gak mau repotin lo," Kata Cynthia dari dalam hati.


Tanpa sadar cengkraman tangan Daffin di setir mobil mengerat, hatinya menjadi tidak enak setelah Cynthia mengungkapkan itu.


Selama ini Cynthia selalu terlihat acuh, tapi pasti tetap saja sakit hati mendapatkan ejekan terus dari Elisa. Daffin juga merasa bersalah, karena Elisa itu kan sahabatnya.


"Aku minta maaf ya Cynthia, tapi aku akan selalu berusaha untuk tetap bertanggung jawab sama kamu," ucap Daffin tulus.


"Tapi dia pasti bakalan terus ngintilin lo ke mana-mana, sebenarnya gue gak terlalu suka ada dia," ujar Cynthia jujur.

__ADS_1


"Iya nanti aku akan usahakan supaya Elisa itu gak begitu terus, kamu yang sabar ya Cynthia," ucap Daffin sambil tersenyum menatapnya lewat kaca kecil di atas.


Cynthia menunduk berusaha menyembunyikan senyumannya, merasa terharu saja karena merasa Daffin itu seperti ingin melindunginya. Tetapi sepertinya Ia terlalu berlebihan berpikir begitu.


Sesampainya di rumah Cynthia, Daffin memilih langsung menggendonya masuk ke dalam rumah. Ternyata Citra sedang tidak ada, Daffin pun membawa Cynthia menuju kamarnya.


Trak!


"Eh apaan tuh?" tanya Daffin seorang diri.


Merasa Ia menginjak sesuatu, Daffin mengangkat kaki kirinya itu untuk melihat telapaknya. Kedua matanya terbelak melihat Ia ternyata menginjak kecoa, Daffin pun berteriak ketakutan.


Dan karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya, akhirnya mereka berdua pun jatuh bersamaan ke atas ranjang. Daffin langsung berhenti dari kehebohan nya setelah melihat posisinya sekarang.


Cynthia berada di bawahnya, sedang Ia menopang kedua tangan di sisi kepala perempuan itu. Hening beberapa saat, keduanya seperti sedang menyelami mata masing-masing.


"Kenapa sampai melongo gitu? Gue tahu gue cantik," ucap Cynthia memecah keheningan.


Kesadaran Daffin pun langsung kembali, pria itu beranjak menjadi duduk di sisi ranjang. Daffin berdehem pelan menghilangkan kecanggungan. Astaga, Ia hampir hilang akal tadi.


"Ya emang kamu cantik," sahut Daffin tanpa menatap.


"Terus kalau gue minta lo pilih, menurut lo cantikkan gue atau Elisa? Lo pasti gak bisa jawab," tantang Cynthia sambil menyeringai.


Tetapi tanpa diduga, Daffin menjawabnya tanpa lama, membuat Cynthia tersentak sendiri.


"Kamu," jawab Daffin.


"Haha lo pasti bercanda, cuman karena dia gak ada di sini kan makanya berani nyebut gitu?" Cynthia yakin si Elisa itu akan ngamuk kalau tahu Daffin malah memujinya.


"Enggak, aku serius. Kalian emang sama-sama cantik, tapi kalau menurut aku kamu lebih cantik," kata Daffin menjelaskan.


Suasana kamar pun kembali hening, tiba-tiba menjadi canggung satu-sama lain. Terlebih Daffin, pria itu sedang menggerutu di dalam hati merasa malu karena harus sejujur itu.


"Ekhem kayanya aku mau pulang sekarang, kamu juga pasti capek kan mau istirahat?" tanya Daffin mengalihkan obrolan.

__ADS_1


"I-iya, gue juga pengen tidur sih," angguk Cynthia yang ikut menghindar.


__ADS_2