
Setelah keluar dari ruang rawat itu, pandangan Rania langsung tertuju pada Yoga yang duduk di bangku panjang. Saat Ia berdiri tepat di depannya, Yoga yang dari tadi memainkan ponselnya pun baru menyadari. Pria itu lalu berdiri.
"Sudah selesai?" tanya Yoga.
"Sudah," jawab Rania.
"Kamu baik-baik saja kan Rania?"
Ada yang menanyakan keadaannya seperti itu, membuat dada Rania tersentak dan perlahan kedua matanya pun berkaca-kaca. Perlahan air matanya yang sudah dari ditahannya pun luruh juga, bahunya pun mulai terguncang.
Rania bisa merasakan tubuhnya ditarik dengan pelan, dan kini Ia ada dalam pelukan Yoga. Pria itu tidak mengatakan apapun, hanya mengusapi punggungnya berusaha menenangkan. Ternyata pura-pura kuat sangat tidak enak, Rania hanya memendamnya sendirian.
"Sudah selesai nangisnya?" tanya Yoga sedikit menggoda.
Rania yang malu pun memukul pelan tangan pria itu. Saat pelukan mereka merenggang, dengan cepat Rania menghapus air mata di pipinya. Benar-benar memalukan, bisa-bisanya Rania se cengeng itu di depan orang lain.
"Kamu laper gak? Kita cari makan yuk," ajak Yoga. Apalagi ini sudah siang, sudah masuk jam makan siang.
"Dimana?" tanya Rania.
"Terserah, kamu lagi pengen makan apa?" Biasanya kan Ibu hamil selalu banyak mau.
Rania berpikir sebentar, "Aku lagi pengen makan sate, gimana?"
"Boleh yuk, aku terserah kamu aja."
Saat Yoga menggandeng tangannya, membuat Rania terkejut sendiri dan malah diam. Yoga pun baru menyadari dan langsung melepaskan sambil meminta maaf dan menyengir lebar. Rania hanya tersenyum tipis. Jadinya mereka berjalan bersisian dengan sedikit jarak.
Rasanya sudah lama Rania tidak di Jakarta, tapi masih tahu suasana di siang harinya sangat panas dan gerah. Rania benar-benar lebih cocok tinggal di desa ternyata. Mereka pergi dengan menaiki mobil, berkeliling dahulu untuk mencari restoran yang menjual menu makanan itu.
"Aku belum sempat pamit sama Kak Livia, mungkin nanti lewat pesan aja," gumam Rania.
Yoga menoleh sekilas, "Tapi aku lihat kalian gak saling musuhan ya," celetuknya.
__ADS_1
"Hah? Kenapa kita musuhan?"
"Biasanya kan istri pertama dan ke dua selalu gak mau kalah," jawab Yoga asal.
Rania menggeleng pelan, "Kayanya kamu terlalu banyak nonton sinetron deh," ledek nya berhasil membuat Yoga tertawa.
Yoga lalu cerita jika dirinya memang tahu dari awal kalau Candra itu sudah sempat menikah, dan anehnya malah menikahi Rania di desa. Tetapi apalah daya dirinya yang orang asing, tidak berhak ikut campur masalah atasannya.
"Kalau aja waktu itu Mas Yoga ngasih tahu aku kalau Mas Candra punya istri, mungkin hidup aku gak akan se rumit ini," ujar Rania sambil tersenyum kecut.
"Tunggu, jadi kamu gak tahu juga kalau Pak Candra itu punya istri?" tanya Yoga bingung.
"Aku gak tahu, gak ada yang ngasih tahu juga."
Entah kenapa Yoga jadi merasa bersalah, kalau saja waktu itu Ia beritahu mungkin Rania pun tidak akan ada dalam masalah rumit begitu. Mungkin juga Yoga yang lebih dahulu mendapatkan hatinya. Ah pikirannya ini terlalu jauh, semua sudah terjadi.
"Untuk masalah keluarga dan hubungan asmara Pak Candra memang cukup privasi, apalagi pada orang desa. Yang mereka tahu Pak Candra orang kaya dari Jakarta, sudah itu saja," kata Yoga yang diangguki Rania.
Rania tidak bisa membayangkan jika ada yang tahu kalau sebenarnya Ia adalah istri kedua Candra, mungkin warga desa akan semakin menjelek-jelekkannya. Rania harap dirinya bisa hidup tenang, Ia sudah lelah mendapat masalah terus.
"Masa cuman pesan sate sapi doang?" tanya Yoga pada Rania.
"Tapi kan aku maunya cuman itu," sahut Rania.
"Enggak, kita pesan yang lain juga." Yoga lalu menyebutkan beberapa lauk lain sebagai pendamping makan mereka.
Setelah menyebutkan pesanannya, pelayan itu pun pergi. Yoga lalu tersenyum lebar pada Rania, sedang Rania hanya menggeleng pelan dan pasrah saja.
"Bukannya katanya Mas Yoga itu orang Jakarta ya?" tanya Rania baru ingat ini.
"Emang bener, aku lahir dan tinggal lama di Jakarta. Tapi kan sekarang sudah pindah ke desa, di sana juga sudah mau tinggal dua tahun," jawab Yoga.
"Tapi keluarga Mas Yoga di Jakarta kan?"
__ADS_1
"Kedua orang tua aku di Jakarta, mau berkunjung ke mereka?" tawar Yoga.
"Hah? Em gimana yah."
"Jangan gugup, santai aja. Mereka baik kok, apalagi kalau lihat wanita yang lagi hamil pasti selalu heboh."
Akhirnya Rania pun mau diajak Yoga untuk bertemu kedua orang tuanya. Tidak apalah, sekalian silaturahmi saja dengan keluarga dari temannya ini. Yoga saja dekat dan akrab dengan Neneknya, kenapa Rania tidak?
Hampir setengah jam lamanya mereka harus menunggu pesanan sampai, setelah tiba langsung menyantapnya dengan lahap. Keduanya sama-sama lapar, apalagi setelah sampai di Jakarta dengan perjalanan panjang belum makan apapun.
"Makasih ya Mas Yoga sudah anterin aku ke sini untuk ketemu Mas Candra," ucap Rania di sela makannya.
"Sama-sama, tapi kan aku dulu yang nawarin kamu. Jadi gimana, masalah kalian sudah selesai?"
Rania mengangguk pelan, "Sudah, aku juga sudah bicara dengan Kak Livia dan Oma Amara. Mereka dengan berbesar hati memberikan aku izin untuk berpisah dengan Mas Candra."
Tidak bisa bohong di dalam hati Yoga senang mendengar itu, tapi kan pasti masih lama mereka benar berpisah. Sekarang Candra masih koma dan tidak sadarkan diri, belum tentu juga pria itu menerima ajakan berpisah dengan Rania.
"Rania, bagaimana kalau semisal Pak Candra tidak mau bercerai dengan kamu?" tanya Yoga memastikan.
"Kenapa tidak? Itu berarti dia jahat dan tidak punya hati," jawab Rania tanpa ragu.
"Maksudnya?"
Rania pun memutuskan menghentikan makannya, memfokuskan pandangan ke depan, "Ada banyak alasan kenapa kami harus berpisah. Kalau dia tetap mempertahankan aku, dia egois dan membuat aku semakin tersakiti. Lalu Kak Livia, Mas Candra seharusnya bersyukur memiliki istri seperti dia."
Sekarang Rania pun tahu kenapa Candra mau bertanggung jawab waktu itu, bahkan katanya senang saat mendengar Ia hamil. Candra hanya menginginkan bayinya, itu karena Livia tidak bisa memberikan keturunan. Sepertinya anak mereka untuk calon warisnya di masa depan.
"Kamu sangat baik Rania," puji Yoga.
Rania sampai tersentak sendiri mendengar itu, "Kamu lagi ngejek aku ya?"
"Enggak kok, yang aku bilang itu pujian. Kamu di sini memikirkan semua orang, juga tidak jahat pada diri kamu sendiri." Yoga jadi semakin kagum kepadanya.
__ADS_1
"Aku harap juga begitu," gumam Rania. Semoga saja keputusannya ini tepat.