
Entahlah apa sekarang kehidupan Rania bisa dibilang bahagia atau tidak, rasanya campur aduk sekali. Banyak drama dan permasalahan di rumah tangganya. Hubungannya dengan Candra dan Livia sebenarnya baik-baik saja, tapi tetap saja mereka tidak bisa dikatakan ada dalam suasana seperti itu.
"Ngelamun aja nih," tegur seseorang sambil menepuk bahunya.
Saat Rania menoleh ternyata itu Leon, membuatnya tanpa sadar tersenyum, "Leon kamu di sini?" tanyanya.
"Iya dong, aku sengaja kesini soalnya kangen sama kamu."
"Apa?"
Bukannya menjelaskan, Leon malah duduk begitu saja di sebelah Rania. Pria itu lalu mengeluarkan sesuatu dari balik saku jaketnya, ternyata sebuah coklat dan langsung diberikan saja pada perempuan itu.
"Serius ini buat aku?" tanya Rania.
"Iya lah, buat siapa lagi dong? Hari ini kan hari valentine. Katanya seseorang itu harus ngasih sesuatu yang spesial buat orang yang dia suka," jawab Leon setengah mengkode.
"Hah?"
Leon terkekeh kecil melihat ekspresi kebingungan di wajah perempuan itu, merasa tidak bisa menahan rasa gemasnya lagi Leon pun mengacak puncak kepala Rania membuat perempuan itu setengah merengek lalu merapihkan lagi rambutnya.
"Kamu belum punya pacar emangnya Leon?" tanya Rania.
"Belum," jawab Leon setengah acuh.
"Kenapa?"
"Karena aku sudah sukanya sama seseorang."
"Oh ya siapa?" tanya Rania penasaran. Kalau misal ada yang Leon suka, kenapa tidak berikan hadiah ini saja pada orang yang disukainya itu?
Leon pun kembali menatap Rania, kali ini tatapannya terlihat dalam, "Kamu."
"Apa?!" pekik Rania, tapi tidak lama Ia tertawa canggung, "Kamu masih sama konyolnya ya Leon, dari dulu selalu saja godain aku," kekehnya.
Rania selalu menganggap Leon itu hanya bercanda, sikap pria itu kan dari awal memang begitu, tidak serius. Namanya juga teman, jadi Rania pun sudah terbiasa. Walaupun selalu dirayu pun, Rania tidak pernah terbawa perasaan.
"Kamu sih gak pernah serius, aku beneran kok," ujar Leon.
"Jangan gitu ah Leon, gak enak kalau ada yang dengar," tegur Rania. Walaupun hanya sekedar bercandaan, tetap saja menurutnya tidak benar.
"Kamu gak suka?"
__ADS_1
"Hah?"
"Padahal aku sudah berusaha nunjukin loh, emangnya sampai saat ini kamu gak sadar gimana perasaan aku yang sebenarnya?"
Kedua mata Rania berkedip dengan pelan, merasa berdebar sendiri mendapatkan pertanyaan seperti itu. Rania semaki terkejut saat Leon membawa sebelah tangannya dan di genggamnya, pria itu juga mengelus punggung tangannya dengan pelan.
"Aku suka sama kamu Rania," ucap Leon blak-blakkan.
Bukannya tersentuh, Rania malah tertawa canggung, "Apaan sih Leon? Jangan bercanda ah."
"Kenapa kamu selalu ngira aku bercanda? Aku sekarang lagi serius loh ungkapin perasaan ke kamu."
"Jadi kamu serius?" tanya Rania pelan.
"Iya," angguk Leon.
Rania pun repleks melepaskan tangannya yang dari tadi digenggam. Untuk beberapa saat perempuan itu terdiam, tidak menyangka sendiri dengan sikap Leon, hari ini terasa berbeda. Ingin sekali Rania bantah, tapi gerak-gerik Leon memang terlihat serius.
"Tapi aku kan sudah menikah, Mas Candra suami aku," gumam Rania berusaha menyadarkan.
"Aku tahu, tapi perasaan seseorang itu gak bisa ditahan, kan? Aku selama ini selalu memendam, sekarang aku ungkapkan saja pada kamu," sahut Leon.
Rasanya tidak nyaman sekali ada dalam suasana canggung seperti ini. Rania melirik Leon lewat ekor matanya, menyadari jika pria itu terus menatapnya membuat Rania semakin tidak nyaman. Ingin sekali Ia pergi dari sana saja.
"Bagaimana apanya?" Rania berpura-pura tidak mengerti.
"Apa kamu juga ada perasaan ke aku?"
Rania pun repleks menoleh, "Gak mungkin," bantah nya.
"Apa?"
"Aku.. Aku gak ada perasaan lebih ke kamu, selama ini aku anggap kamu teman. Lagi pula aku sudah menikah, dan gak mungkin ada perasaan suka sama lekaki lain selain suami aku sendiri," jelas Rania.
Leon terlihat tersenyum kecut, "Aku kira kamu juga ada perasaan sama aku," ucapnya pelan.
Sebenarnya Rania tidak tega melihat wajah sedih Leon, Ia seperti baru saja menolak lelaki yang menyatakan cinta dengan tegas dan tanpa hati. Tetapi Rania pikir Leon memang salah, jadi Rania berusaha memperjelas semuanya agar tidak salah paham.
"Maaf Leon," kata Rania.
"Tidak apa-apa, aku mengerti kok. Lagi pula perasaan aku ini salah, kan?"
__ADS_1
"Iya salah, kamu bisa dapetin perempuan yang lebih baik dan cocok untuk kamu," balas Rania sambil tersenyum.
"Kamu gak penasaran gimana aku bisa suka sama kamu?"
Rania sedikit memiringkan kepalanya, "Memangnya gimana?"
Leon pun mulai cerita, bagaimana Ia bisa jatuh hati pada Rania. Saat awal bertemu Ia sudah terpesona akan kecantikan Rania yang polos itu, perlahan hubungan mereka semakin dekat dan membuat Leon nyaman.
"Tapi seharusnya kamu bisa menahan perasaan itu, kamu kan tahu sendiri kalau aku sudah menikah," ucap Rania. Ia saja selama bersama Leon selalu menahan batasan kok, agar jangan sampai perasaan terlarang itu hadir.
"Rania, kamu ini kayanya tipe yang setia ya."
"Sepertinya."
"Kalau semisal kamu bukan perempuan baik-baik, pasti kamu akan menerima aku dan kita bisa menjalin hubungan secara diam-diam," celetuk Leon sambil menyeringai.
Kedua mata Rania langsung terbelak, "Astaga, maksud kamu selingkuh?"
"Iya, kita bisa aja selingkuh. Lagian memangnya kamu bahagia jadi istri kedua?"
Kalau ditanya bahagia atau tidak ya seperti tadi, Rania tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Tetapi melihat dirinya yang masih berada di rumah ini, sepertinya Rania masih bisa bertahan.
"Aduh!" pekik Rania.
"Eh kamu kenapa?" tanya Leon.
"Mata aku sakit, kayanya tadi ada yang masuk." Rania mengucek-ngucek mata kirinya, tapi rasanya semakin sakit membuatnya meringis sendiri.
Leon pun bergeser semakin mendekat, menahan tangan perempuan itu untuk berhenti karena akan berbahaya bagi matanya. Leon pun meminta Rania membuka mata kirinya itu, walaupun hanya sedikit tapi Ia meniup-niup berusaha membantunya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?!"
Suara menggelegar itu membuat Rania dan Leon terkejut, mereka langsung melihat ke arah suara. Terlihat di sana Candra yang berdiri dengan wajah garangnya. Rania pun langsung berdiri, walau mata kirinya masih sakit dan belum bisa melihat dengan jelas.
"Mas," panggil Rania.
Candra berjalan mendekat, kedua tangannya terlihat terkepal, "Kamu apa-apaan Rania?" tanyanya tajam.
"Mas salah paham, aku dan Leon gak ngapa-ngapain kok," jawab Rania membela diri. Suaminya itu pulang saat tidak tepat, karena malah melihat adegan ambigu tadi. Kalau dilihat dari arah Candra, tentu akan menyangka aneh-aneh.
"Salah paham bagaimana? Kamu dan Leon ciuman, kan?" tuduh Candra.
__ADS_1
"Enggak Mas, demi Tuhan aku dan Leon gak begitu." Rania sampai tersentak sendiri mendengar tuduhannya.
"Kamu gak bisa ngelak, aku tadi lihat langsung!" tegas Candra marah.