Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Kembali Pulang


__ADS_3

Mendengar Leon akan mengantarnya pulang ke kampung, membuat Rania merasa terharu. Tetapi Ia tidak bisa menerima kebaikan pria itu dan menolaknya.


"Aku khawatir kalau kamu naik bus sendirian. Kamu lagi hamil, terus perjalanan juga jauh, " ucap Leon.


"Tapi untuk ke tempat tinggal aku di kampung jauh," kata Rania masih beralasan.


"Aku gak masalah kok, aku ikhlas anterin kamu pulang."


Leon lalu membawa tangan Rania, "Mungkin itu terakhir kalinya kita ketemu, dan aku ingin memberikan kesan yang baik untuk kamu."


Benar juga, mungkin ini lah terakhir kalinya mereka bertemu. Rania semakin yakin jika Leon memang tulus kali ini mau membantunya, sampai repot juga mengantarnya pulang ke kampung halaman.


"Makasih ya Leon. Aku gak tahu harus balas gimana," ucap Rania.


"Yang penting kamu dan bayinya sehat aja aku udah seneng, dia juga kan calon ponakan aku," sahut Leon sambil tersenyum lebar.


Rencananya mereka pun akan berangkat ke kampung halaman di pukul lima sorean. Leon ada meeting sebentar, tidak di luar karena online. Setelah itu harus mengerjakan beberapa pekerjaannya, jadi baru bisa santai di sore hari.


Waktu pun berjalan dengan cepat, tidak terasa sudah jam lima sore lebih lagi. Rania juga sudah bersiap dan memastikan tidak ada barang tertinggal. Mereka pun berangkat, sambil berdoa di dalam hati semoga selamat sampai tujuan.


"Gimana kalau misal Mas Candra sudah nungguin aku di sana ya?" tanya Rania khawatir.


Leon yang sedang menyetir menoleh sekilas, "Iya juga ya, apa aku telepon dia dulu?"


"Mau apa? Nanti Mas Candra malah curiga lagi." Rania kan harus berjaga-jaga.


"Aku sekalian mau ngasih pekerjaan, kan aku magang di tempat kerja dia. Tapi gak akan dikasih sekarang, mau alesan ada urusan di luar kota," ucap Leon menjelaskan.


"Boleh deh," angguk Rania yang sepertinya itu ide bagus.


Rania hanya diam saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun saat Leon dan Candra ber teleponan. Leon benar-benar berakting dengan baik, bahkan tanpa menyinggung nya sedikit pun.

__ADS_1


"Oke Kak Candra lagi di kantor sekarang, itu berarti dia gak nyusulin kamu ke kampung," ujar Leon setelah panggilan berakhir.


Rania yang mendengar itu pun bisa bernafas lega, tapi tentu Ia harus tetap berjaga-jaga. Mungkin besoknya Rania akan langsung minta pindah, bisa saja kan Candra itu menyusulnya se waktu-waktu.


Sepanjang perjalanan itu mereka tidak banyak mengobrol, hanya sesuatu yang penting saja. Rania pun lebih banyak tidur, sedangkan Leon tetap fokus menyetir. Di pukul tujuh malamnya, mereka baru sampai di sana.


"Rania bangun, kita sudah sampai." Leon menepuk-nepuk pelan pipi perempuan itu.


Perlahan kedua mata Rania terbuka, langsung menguap lebar setelah terbangun. Saat Ia melihat luar dari kaca mobil, senyumannya pun langsung terukir lebar. Ini sudah di jalan menuju rumahnya.


"Maaf ya Leon aku banyak tidur, sedangkan kamu nyetir," ucap Rania tidak enak.


"Gak papa, kamu pasti capek." Leon cukup pengertian pada Ibu hamil.


Leon ikut memperhatikan sekitar jalan yang sepi dan gelap, banyak juga pepohonan rindang. Selain itu jalanan cukup terjal dan ada beberapa yang rusak, sangat berbeda dengan di Ibu kota.


"Kalau di pagi hari pasti pemandangannya bagus," kata Rania.


Rania terkekeh kecil, "Iya ini kan memang di hutan, gak banyak dumah di sekitar sini."


Selanjutnya Rania pun menunjukan arah pada Leon, khawatir tersesat dan membuat perjalanan semakin lama. Beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai juga di depan rumah milik Neneknya.


Rania lalu turun bersama Leon, pria itu juga sampai membawakan tas besarnya. Untung saja keadaan di sekitar sana sepi, jadi tidak ada warga yang menyadari. Setelah Rania ketuk pintu rumah beberapa kali, akhirnya terbuka juga.


"Rania?!" pekik Nenek Ima terkejut melihat kehadiran cucunya itu.


"Nenek," panggil Rania setengah merengek.


Dan kedua perempuan itu pun saling berpelukan erat, air mata pun tidak bisa dibendung merasa senang bisa bertemu lagi. Leon yang memperhatikan di belakang hanya tersenyum, tidak tahu harus apa.


"Nak kenapa kamu pulang? Kamu kesini sama siapa?" tanya Nek Ima sambil meregangkan pelukan.

__ADS_1


Rania lalu memegang bahu Leon, "Ini adiknya Kak Livia, dia yang anterin aku pulang Nek," jawabnya.


Karena tidak nyaman juga mengobrol di luar, mereka terlebih dahulu masuk. Nek Ima pun dengan sigap membawakan air dan beberapa cemilan untuk tamunya dari kota itu.


"Kenapa pulangnya gak sama nak Candra?" tanya Nek Ima yang sudah kembali.


Rania dan Leon pun sempat saling bertatapan, "Ceritanya panjang Nek, aku dan Mas Candra ada masalah," laporan ya.


"Masalah apa?"


Melihat cucunya yang terdiam dengan kedua mata berkaca-kaca seperti akan menangis, membuat Ima pun mendekat dan mengusapi punggungnya. Sepertinya masalahnya cukup besar, karena Rania sampai pulang.


"Cerita sama Nenek, Nenek akan dengarkan semuanya," bujuknya dengan suara lemah lembut.


Tetapi Rania tidak langsung menjelaskan, merasa khawatir membuat Neneknya itu kembali kecewa dan sedih. Hatinya bergejolak sekali sekarang, Rania merasa bimbang.


"Rania cerita saja, aku pikir Nenek kamu juga harus tahu," desak Leon ikut merayu.


Kalau bisa ingin Leon saja yang menjelaskan, karena tidak tega juga melihat Rania yang rapuh begitu. Kalau menjelaskan lagi, khawatir membuatnya menangis. Tetapi Leon tidak mau banyak ikut campur, nanti dianggap tidak sopan lagi.


"Aku menyerah Nek, aku udah gak mau lagi sama Mas Candra. Dia terus bohongin aku, aku.. Aku gak bisa maafin dia kali ini," ucap Rania sesekali terisak.


"Dia bohongi kamu apalagi?" tanya Nek Ima.


"Sepertinya setelah bayi ini lahir, Mas Candra akan langsung menceraikan aku. Dia lalu akan membawa bayi ini, dan menjauhkan dari aku yang Ibu kandungnya. Dia cuman mau bayi ini Nek," lanjut Rania.


Dada Ima ikut tersayat sakit mendengar itu, Ia pun kembali membawa Rania ke pelukan dan mereka pun menangis bersama. Malangnya nasib Rania yang harus bertemu Candra, pria itu memberikan mimpi buruk kepadanya.


"Kenapa nak Candra setega itu pada kamu? Nenek pikir dia anak yang baik, tapi ternyata dia serakah," ujar Nek Ima.


Leon yang dari tadi hanya diam memperhatikan menundukan kepala karena merasa tidak tega sendiri melihat dua wanita itu. Ia merasa kasihan pada Rania, berpikir jika Candra memang sudah keterlaluan.

__ADS_1


Sekarang Leon sudah dibukakan hati dan matanya, perasaan benci pada Rania pun sudah hilang. Malahan sekarang Leon serasa ingin melindungi Rania dari Candra, tidak membiarkan Kakak Iparnya itu mempermainkan lagi.


__ADS_2