Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Memilih Bersembunyi


__ADS_3

Sudah sepekan lamanya Rania tinggal di rumah bibinya itu, selama itu juga merasa nyaman dan betah. Terkadang Neneknya pun selalu berkunjung, walau tidak bisa setiap hari karena jaraknya yang lumayan jauh.


Tok tok!


Ketukan pintu rumahnya membuat Rania yang tadi sedang menyulam baju menghentikan kegiatan. Perempuan itu pun beranjak untuk membukakan pintu, senyumannya langsung terukir melihat yang datang adalah Neneknya.


"Rania, Nenek buatin pindang ikan buat kamu," ucap Ima. Wanita itu menyimpan kresek di meja.


"Wih harum, jadi laper hehe," sahut Rania.


"Ya sudah makan sekarang aja. "


"Enggak deh, buat nanti makan malam aja. Barusan malah aku baru nyemil, masa sekarang sudah makan lagi," kata Rania yang harus menahan diri.


Semenjak hamil nafsu makannya memang tinggi, bukan hanya untuk dirinya tapi juga bayi di perutnya. Tidak apa-apa badannya sekarang agak gemukan, yang terpenting kan bayinya sehat.


"Kamu jangan diam di rumah terus, sesekali main keluar," ucap Ima.


"Iya aku juga kadang jalan-jalan di depan rumah," ucap Rania.


"Cuman di depan rumah, itu mah bukan jalan-jalan."


Rania hanya menyengir kuda mendengar itu. Ya mau bagaimana lagi, Rania merasa sedikit takut kalau jalan-jalan terlalu jauh. Selain takut bertemu para warga lalu ditanyai banyak hal, juga yang utama bertemu Candra.


Mengingat pria itu, Rania pun langsung menanyakan kepada Neneknya, "Nek apa ada tanda-tanda atau kabar Candra akan ke kampung?" tanyanya.


"Sampai saat ini sih enggak, Nenek yang selalu jaga-jaga di rumah juga selalu nihil," ujar Ima.


"Pokoknya kalau misal Mas Candra datang dan tanyain aku, Nenek bilang aja gak tahu ya?" bujuknya, itulah rencananya.


"Iya kamu tenang saja, lagian Nenek juga gak akan serahin kamu ke dia lagi." Bukan hanya Rania yang kecewa, tapi Ima juga lebih kecewa pada Candra.


Kalau tahu seperti ini, lebih baik Ima minta Rania cerai dari beberapa waktu lalu saja. Ima selalu menyesali keputusannya yang waktu itu meminta Candra untuk bertanggung jawab pada Rania, tapi Ia juga tidak tahu ceritanya akan seperti ini.


"Mulai besok Nenek akan kerja lagi di kebun teh," ucap Ima memberitahu.

__ADS_1


"Bukannya Nenek sudah berhenti kerja? Nenek juga sudah tua, jangan capek-capek."


"Nenek harus kerja, uang tabungan akan habis setelah kamu melahirkan nanti. Hitung-hitung tabungan untuk calon cicit Oma, apalagi kamu pasti harus hidupin dia dengan baik."


Tatapan Rania menyendu, perlahan kedua matanya pun berkaca-kaca, "Maafin aku ya Nek, aku malah nyusahin Nenek," ucapnya pelan.


"Tidak Rania, kamu tidak pernah merepotkan Nenek. Nenek malah senang kamu pulang, karena Nenek yakin kamu di sini bisa hidup lebih bahagia," kata Ima dengan tulus, dan mereka pun berpelukan.


Nenek Ima bilang tidak bisa berlama-lama di sana karena sudah sore dan takut keburu malam. Rania sudah tawarkan untuk menginap, tapi kan besok pagi-pagi Neneknya harus berangkat bekerja.


Melihat langit di sore hari yang terlihat indah dengan warna senjanya, membuat Rania jadi ingin jalan-jalan sebentar. Suasana di pedesaan selalu segar, Rania merasa bahagia di sini. Kalau dulu di Jakarta selalu di rumah, selalu tidak diperbolehkan keluar.


"Tolong!"


Langkah Rania terhenti saat mendengar suara itu, arah suaranya dari balik pohon besar tidak jauh darinya. Rania tanpa rasa takut pun menghampiri, kepalanya lalu menengok ke depan untuk mengintip. Ternyata seorang lelaki yang terduduk sambil memegang kaki kirinya.


"Kamu kenapa?" tanya Rania.


Pria itu mengangkat kepala, "Kaki aku ketusuk paku," jawabnya sambil sesekali meringis.


"Iya tadi lumayan dalem nancapnya, tapi pakunya masih nempel di kayu bekas," sahut pria itu.


Rania memperhatikan sekitar untuk meminta tolong, sayangnya di sana sepi sekali tidak ada siapapun. Terpaksa dirinya lah yang harus menolong, mungkin ini pun petunjuk untuk dirinya.


"Rumah kamu memangnya dimana?" tanya Rania.


"Lumayan jauh dari sini, tadi aku lagi lari sore dan malah ada kejadian kaya gini. Hah lagi sial," desahnya.


"Kebetulan rumah aku gak jauh dari sini, kita ke sana dulu aja buat bersihin luka kamu, takut infeksi." Rania tidak tega rasanya jika meninggalkan, lelaki itu butuh bantuan.


"Boleh deh," angguknya setuju.


Dengan hati-hati lelaki itu pun berdiri, dan langsung merangkul kan tangannya di bahu Rania. Pria itu juga membawa sebuah tongkat agar membantunya berjalan, mereka harus berjalan dengan pelan dan hati-hati.


"Maaf ya jadi ngerepotin kamu, apalagi kamu lagi hamil besar. Kamu gak papa, kan?" tanya pria itu di perjalanan.

__ADS_1


"Gak papa kok, emangnya tadi kamu sudah lama di sana?" tanya Rania balik.


"Lumayan sih, teriak minta tolong tapi gak ada siapapun."


"Di daerah sini memang agak sepi, rumah juga cuman beberapa."


Akhirnya mereka pun sampai juga di rumah Rania, setelah duduk di kursi depan langsung bernafas lega. Walaupun capek, tapi Rania tetap bergerak membawakan air dan lap untuk membersihkan luka itu.


Saat akan berjongkok, pria itu langsung menahan tangannya. Tatapan mereka pun sempat bertemu, tapi Rania langsung melepaskan sambil berdehem pelan. Kenapa suasana nya jadi canggung?


"Biar aku sendiri aja yang bersihin," ucap lelaki itu. Masa saja Ia merepotkan wanita hamil itu, memangnya Ia siapa?


"Oh ya sudah, kalau gitu aku bawa air minum dulu." Rania pun kembali masuk ke dalam untuk membawakan air dan obat merah.


Setelah kembali pria itu pun terlihat selesai membersihkan, walau ekspresi wajahnya masih meringis mungkin menahan linu. Rania lalu memberikan obat merah itu dan segelas air putih, setelahnya Ia duduk di kursi sebelahnya.


"Kayanya nanti kamu harus ke puskesmas untuk periksa lagi, takutnya kenapa-napa," ucap Rania.


"Iya nanti dari sini mau langsung ke puskesmas, saya juga sudah nyuruh temen buat jemput di sini."


Saat Rania sedang menikmati pemandangan di depan, Ia repleks menoleh karena merasa diperhatikan, dan ternyata benar. Pria itu memperhatikannya dalam, membuat Rania tidak nyaman.


"Aku seperti pernah ketemu kamu," ucap pria itu.


"Oh ya? Dimana?"


"Aku lupa lagi kita bertemu dimana, tapi yang pasti waktu itu kamu sama Pak Candra."


Mendengar satu nama itu, membuat Rania tersentak, "Ka-kamu kenal Pak Candra?" tanyanya.


"Kenal, dia kan bos aku."


Kedua mata Rania terbelak sebentar, perlahan detak jantungnya pun menjadi cepat. Setelah mendengar itu tanpa bisa ditahan detak jantungnya menjadi cepat.


"Oh iya aku baru ingat, astaga aku ini bodoh banget. Kamu ini istrinya Pak Candra, kan? Ya Tuhan, bisa-bisanya aku lupa sama bos aku sendiri." Lelaki itu sampai menepuk keningnya dan tersenyum canggung.

__ADS_1


__ADS_2