
Saat kelas pertama selesai, Daffin beranjak keluar kelas. Elisa sempat bertanya Ia akan kemana, Daffin pun memilih berbohong dengan alasan ingin ke toilet, padahal nyatanya Ia ingin bertemu Cynthia.
Kalau Elisa itu tahu, sudah pasti akan ikut dan mengganggu. Sekarang Daffin ingin bertemu Cynthia dulu, dari pagi belum bertemu dan entah kenapa Ia rindu. Saat tiba di kelasnya, Daffin pun langsung bertanya pada salah seorang.
"Oh mau ke Cynthia ya? Masuk aja, lagian belum ada dosen masuk kok," kata mahasiswa itu.
"Makasih ya." Kata Daffin.
Dengan perasaan gugup Daffin pun masuk ke kelas yang lumayan sepi itu, walau masih ada beberapa orang di sana. Perhatian Daffin langsung tertuju pada salah seorang yang duduk di kursi roda, sedang menulis di bukunya.
"Ekhem Cynthia, aku mau bicara," ucap Daffin sambil berdehem keras.
Cynthia perlahan mengangkat kepala nya, agak terkejut dengan kedatangan tiba-tiba pria itu. Sempat Ia juga melirik ke belakang Daffin, tapi tidak menemukan Elisa. Tumben sekali pikirnya, biasanya selalu ikut kemana pun.
"Ada apa?" tanya Cynthia dengan ekspresi dinginnya.
"Tadi pagi aku ke rumah kamu, kenapa sudah berangkat duluan?" tanya Daffin mulai basa-basi. Pria itu juga bahkan duduk di kursi kosong di depan nya.
"Mulai hari ini, gak usah antar jemput gue lagi," kata Cynthia.
"Hah kenapa?"
"Gue gak mau ganggu hubungan lo sama Elisa, dia juga pasti keberatan gue terus sama pacarnya. Sekarang, lo juga bisa bebas Daffin," jawab Cynthia dengan tatapan dalamnya.
Daffin terdiam beberapa saat, tentu saja syok mendengar itu. Itu berarti, Cynthia ingin mengakhiri kebersamaan mereka? Hubungan keduanya sudah sangat dekat, walau tidak lebih, tapi Daffin nyaman selama ini.
"Cynthia, kamu salah paham. Aku dan Elisa gak ada hubungan apapun," ucap Daffin berusaha meyakinkan.
Waktu di rumah Daffin pun Cynthia sudah diberikan penjelasan, dan saat itu Cynthia sempat percaya. Tetapi saat melihat Daffin dan Elisa yang malah berpelukan sampai mengabaikannya, Cynthia merasa ragu lagi.
__ADS_1
"Lo jangan bilang gitu Daffin, gak papa jujur aja. Kalau Elisa denger, dia pasti bakal sedih, " ucap Cynthia pelan. Kenapa Ia malah memikirkan perasaan Elisa? Padahal sekarang hatinya juga sedih.
Daffin menggeleng lalu memberanikan diri menggenggam tangan Cynthia yang berada di atas meja, "Tapi aku dan Elisa beneran gak ada hubungan apapun, kita masih berteman."
Melihat Daffin yang se kekeuh itu ingin meyakinkannya, Lagi-lagi membuat perasaan Cynthia goyah. Kenapa juga Daffin terlihat tidak ingin Ia salah paham ya? Membuat Cynthia jadi berharap saja.
"Soal kemarin aku minta maaf, aku sempet lupain kamu," Lanjut Daffin dengan suara lebih rendahnya.
"Gak usah minta maaf, gak papa," kata Cynthia pelan.
"Terus kenapa kamu pulang gitu aja? Aku sampai nyariin kamu, tapi kata Devina kamu sudah pulang naik taxi," tanya Daffin meminta penjelasan, takut saja Cynthia ngambek.
"Gak papa, cuman pengen pulang aja. Kan di sana juga udah lama," jawab Cynthia bohong. Nyatanya Ia sakit hati terus melihat kebersamaan Daffin dengan Elisa.
Untuk beberapa saat keduanya terdiam dengan saling menatap satu sama lain. Daffin pun masih menggenggam tangan Cynthia, bahkan mengusap-usapnya. Tanpa bisa ditahan, detak jantung keduanya menjadi tidak karuan.
"Besok kamu terapi lagi, aku harap kaki kamu ada kemajuan lagi," ucap Daffin.
"Nanti aku jemput ya di jam biasa, kamu siap-siap aja."
Padahal Cynthia tadi sempat bilang tidak usah mengurusi nya lagi, tapi Daffin ini terlihat tidak peduli dan tetap ingin menjalankan kewajibannya seperti biasa. Tahukah pria itu, kegigihannya menbuat Cynthia terharu.
"Apa dia juga bakalan ikut? " tanya Cynthia, kalau misal Elisa ikut lebih baik Ia pergi dengan Mamanya saja.
"Kamu gak mau Elisa ikut?"
Cynthia pun memilih menjawab jujur, "Lo tahu sendiri kita gak akrab, kalau dia ikut selalu ganggu. Kalau misal Elisa ikut, mending gue pergi sama Nyokap aja."
"Enggak, besok kita pergi berdua. Aku janji Elisa gak akan ikut," sanggah Daffin cepat.
__ADS_1
Cynthia dibuat tersenyum mendengar itu, tapi berusaha Ia tahan. Ia seperti sedang dibela Daffin, pria itu terlihat ingin meyakinkan dirinya. Baiklah, besok Cynthia akan melihat perkataannya.
Melihat teman-teman kelasnya mulai masuk, sepertinya jam pelajaran kedua akan di mulai, membuat Cynthia langsung menarik lagi tangannya. Sayang sekali, padahal jujur Ia masih ingin berlama-lama dengan Daffin.
"Mending lo balik ke kelas, kayanya kelas gue sebentar lagi mau dimulai," perintah Cynthia.
"Ya sudah kalau gitu aku pergi dulu, tapi nanti jam terakhir jangan dulu pulang ya. Tunggu aku, aku pasti jemput kamu di sini," kata Daffin sungguh-sungguh.
"Iya," ucap Cynthia pasrah.
Lihatkan, betapa mudahnya Daffin itu membuat Cynthia kembali percaya. Padahal kemarin Ia sempat kesal karena di acuhkan, tapi Daffin datang dan meminta maaf duluan. Siapa juga yang tidak bisa luluh?
Saat Daffin akan masuk ke kelasnya sendiri, Ia tersentak melihat Elisa berdiri di ambang pintu sambil melipat tangannya di dada. Ekspresi masamnya itu membuat Daffin jadi gugup, pasti Elisa akan bertanya ini itu.
"Dari mana kamu? Kok dari toilet lama banget!" tanya Elisa ketus menginterogasi.
"I-iya soalnya perut aku sakit, kayanya kemarin habis makan yang pedes," bohong Daffin sambil menepuk-nepuk perutnya.
"Bukannya kemarin pas kita makan-makan gak ada makanan pedes ya?" tanya Elisa berusaha mengingat lagi.
"Kalau pas makan siang sih emang gak ada. Tapi malemnya Devina ke kamar aku, kita nonton film sambil makan cemilan pedes punya dia. Ya biasalah anak gadis, lagi suka-sukanya cemilan pedes," kata Daffin berusaha meyakinkan.
Daffin lalu membatin di dalam hati, kenapa dirinya rela berbohong begini ya? Padahal bisa saja jujur dan terus terang kalau tadi sudah menemui Cynthia. Mungkin Daffin hanya malas jika Ia dan Elisa ribut, perempuan itu sekarang suka sensian.
Tetapi tentu Daffin tidak bisa seperti ini terus. Ia jadi serasa seorang pacar yang sedang menyembunyikan perselingkuhannya, padahal kan nyatanya tidak begitu. Daffin harus lebih berani lagi.
"Aku bosen nungguin kamu dari tadi di sini, aku kira kamu pergi kemana dulu tanpa aku," gerutu Elisa sambil menghela nafas berat. Apalagi yang paling di khawatirkan nya Daffin bertemu Cynthia.
"Kenapa nungguin aku sih? Santai aja, kan bisa main HP juga. Yuk ah masuk, bentar lagi Pak Dosennya dateng," ajak Daffin.
__ADS_1
Elisa lalu menatap dalam Daffin, tentu saja Ia akan sabar menunggu Daffin agar bisa mencintainya lagi. Elisa akan berusaha menebus semuanya, berharap Daffin masih ada rasa kepadanya.