
Kepulangan Rania ke rumah langsung dibantu para pelayan, Oma juga ikut pulang dan katanya akan menginap beberapa hari. Rania pun langsung dipindahkan ke kamarnya. Candra belum pulang, jadi Rania pulang dengan Oma tadi.
"Nona bagaimana keadaannya?" tanya mbok Nina.
"Sudah agak baikan mbok, cuman aku harus lebih hati-hati lagi soalnya takut kenapa-napa," jawab Rania.
"Semoga Nona dan Tuan kecil selalu dalam lindungan Tuhan ya, mbok juga akan ikut jagain Nona."
Mendengar itu membuat Rania melengkungkan senyumamnya, "Iya mbok, makasih."
Sebenarnya Rania tidak terlalu mengantuk, tadi siang saja di rumah sakit sempat tidur. Perempuan itu pun meminta di antar mbok Nina ke halaman belakang, ingin bersantai di sana.
"Oma dimana ya mbok?" tanya Rania sambil memperhatikan sekitar.
"Mbok kurang tahu, tadi ketemu pas Nona pulang dari rumah sakit aja."
Sesampainya di halaman belakang, pandangan Rania langsung tertuju pada Oma dan Livia. Ternyata mereka berada di sana, sepertinya sedang mengobrol. Rania pun tidak meminta bantuan mbok Nina lagi, akan menjalankan kursi rodanya sendiri.
Kebetulan posisi duduk Livia dan Oma Amara membelakangi nya, jadi mungkin mereka belum sadar. Saat semakin dekat Rania malah tidak sengaja mendengar obrolan mereka, membuatnya pun berhenti menarik kursi rodanya.
"Bagaimana pendapat Oma pada Rania? Pasti Oma suka ya pada dia?" tanya Livia.
"Dia perempuan yang sopan dan sedikit pemalu, berbeda terbalik dengan kamu. Saat pertama bertemu, Oma sudah bisa menebak bagaimana sifatnya itu," jawab Oma.
"Aku lihat Oma semakin dekat saja dengan Rania, aku jadi sedikit cemburu," celetuk Livia.
Oma Amara pun terkekeh kecil, "Kenapa kamu cemburu sayang?" tanyanya lembut.
"Aku merasa Rania mengambil semua yang aku punya, pertama Mas Candra lalu Oma. Apa Oma juga lebih menyayangi dia dari pada aku?"
Dada Rania seperti tersentak saat mendengar itu, perempuan itu pun semakin duduk dengan tidak nyaman. Sebenarnya Rania ingin pergi karena tidak enak juga menguping seperti ini, tapi tubuhnya terasa kelu sampai tidak bisa bergerak.
Kenapa Rania selalu ada dalam posisi seperti ini?
"Livia kamu jangan bicara seperti itu, mau Oma ataupun Candra tetap punya kamu kok," ucap Amara memberikan pengertian.
"Tapi aku takut kehilangan kalian," lirih Livia.
__ADS_1
Amara lalu menyandarkan kepala Livia di bahunya, tangannya pun mengusapi punggung perempuan itu, "Ada dalam posisi ini pasti sangat berat untuk kamu, yang sabar ya nak."
"Aku juga sudah berusaha sabar, tapi kadang aku selalu menangis putus asa karena harus menghadapi cobaan seperti ini."
"Oma gak akan berubah, kasih sayang Oma pada kamu tetap sama. Kamu tetap yang nomor satu bagi Oma, begitu pun pasti untuk Candra."
Rania menggigit bibir bawahnya, entah kenapa hatinya menjadi sakit saat mendengar itu. Tetapi kenapa? Seharusnya Ia biasa saja, selama ini kan selalu lebih mementingkan perasaan Livia.
Merasa tidak sanggup menguping lagi, Rania pun berusaha memutar kursi rodanya untuk pergi dari sana. Tetapi karena terlalu buru-buru dan tidak hati-hati, rodanya itu malah menabrak sebuah pot bunga sampai menimbulkan suara.
"Rania?" tanya Amara baru menyadari. Wanita paruh baya itu pun segera beranjak menghampiri.
Rania mengangkat kepalanya sambil tersenyum kikuk, "Maaf Oma aku gak sengaja," ucapnya.
"Gak papa, hati-hati. Kamu mau kemana?" Amara jadi canggung sendiri, apa Rania sudah dari lama di sini?
"Em cuman mau lihat-lihat taman, soalnya di kamar bosen," jawab Rania masih berusaha baik-baik saja.
"Mau jalan-jalan keluar? Biar Oma temenin ya?" tawarnya.
Rania pun segera menggeleng, "Enggak usah Oma, nanti ngerepotin lagi," tolak nya sopan.
Amara sempat menoleh ke belakang untuk melihat Livia, perempuan itu hanya mengangguk pelan seperti membiarkannya pergi. Setelahnya Amara mendorong kursi roda Rania pergi dari sana.
Untuk beberapa saat keduanya terdiam, Sama-sama merasa canggung untuk memulai obrolan. Padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini, tapi karena kejadian tadi yang saling menduga sesuatu jadi mengubah suasana.
"Kita jalan-jalan nya jangan terlalu jauh ya Oma, nanti Oma kecapean lagi dorong kursi roda aku," ucap Rania tidak enak sendiri.
"Enggak berat kok, lagian jalannya juga di sini bagus dan lurus. Tenang saja, Oma masih kuat," kata Amara.
Setelah itu Rania pun terdiam, merasa bingung harus mengobrol apalagi. Rania terlihat banyak diam karena sedang banyak pikiran, termasuk obrolan Amara dan Livia tadi. Hatinya masih sedih begitu saja, padahal seharusnya Rania sadar diri.
"Eh Oma Amara, sudah lama gak ketemu. Gimana kabarnya?" tanya salah seorang tetangga yang sepertinya hampir seusia Oma.
"Hai baik-baik, kamu gimana?"
"Aku juga baik, tapi minggu lalu sempat sakit, maklum udah tua." Perhatian wanita itu teralih pada perempuan yang duduk di kursi roda, "Ini siapa?" tanyanya.
__ADS_1
Amara mengernyitkan keningnya merasa bingung sendiri, memangnya tidak ada yang kenal Rania? Seharusnya kan mereka tahu kalau Rania itu istri kedua Candra, seperti baru pertama kali melihat saja.
"Ini Rania, cucu aku," ucap Amara mengenalkan, kedua tangannya mengusap bahu Rania.
"Cucu? Bukannya cucu kamu itu cuman Pak Candra ya?" tanyanya bingung.
"Iya, terus Candra men--"
"Oma tiba-tiba aku sakit perut," sanggah Rania dengan suara kerasnya.
Amara pun jadi panik mendengar itu, "Kamu kenapa Rania? Apa yang sakit?"
"Aku sakit perut, kita pulang sekarang aja ya?"
"Iya-iya kita pulang sekarang." Oma pun segera pamit pergi pada temannya itu, dan mendorong kursi roda Rania dengan lebih cepat dari tadi.
Rania sendiri tanpa sadar menghela nafas lega, merasa sedikit bersalah karena sudah berbohong. Melihat reaksi para tetangga kepadanya, membuat Rania tahu sampai saat ini dirinya masih disembunyikan. Oma Amara juga tadi terlihat bingung dan hampir memberitahu.
"Masih sakit?" tanya Oma, "Sabar ya sebentar lagi kita sampai."
"Em sudah gak terlalu kok Oma," cicitnya.
"Hah?" Oma pun repleks menghentikan langkah nya.
Rania mengangkat kepalanya untuk melihat wanita paruh baya itu, "Oma, aku mau bilang sesuatu," ujarnya.
"Apa?"
"Kayanya gak ada yang tahu kalau aku itu istri kedua Mas Candra. Aku juga jarang keluar rumah, jadi tetangga banyak yang baru lihat aku pertama kali dan mereka bingung."
Merasa belum paham Amara pun berjongkok di depan Rania, "Jadi mereka banyak yang belum mengenal kamu?"
"Iya, selain itu sepertinya mereka juga gak tahu kalau aku istri kedua Mas Candra."
"Loh kenapa?" tanya Amara terkejut.
"Mungkin Mas Candra yang sengaja sembunyiin, mungkin dia malu punya istri kedua kaya aku," ucap Rania pahit sambil tersenyum miris.
__ADS_1
Tatapan Amara pun menjadi sendu, "Rania, jangan bilang begitu nak."