Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 10


__ADS_3

Kelas sudah berakhir, seperti rencana tadi mereka akan ke rumah sakit dahulu. Sebenarnya Elisa terlihat enggan, hanya saja Daffin terus memaksa dan akhirnya mau juga.


"Oh iya Daffin aku mau tanya sesuatu dong," kata Elisa sambil menghadapkan tubuh padanya.


"Tanya apa?" Daffin tetap fokus menyetir, tidak menoleh sedikit pun.


"Kamu sama Satria udah temenan deket belum?"


"Ya lumayan sih, paling deket sama laki-laki di kelas sama Satria. Emangnya kenapa?" tanya Daffin balik.


"Dia udah punya pacar belum? Tapi kayanya Satria udah punya pacar ya, masa aja cowok hitam manis kaya dia belum punya pacar." Elisa itu bertanya tapi malah menjawab dengan dugaannya sendiri.


Akhirnya Daffin pun baru melirik Elisa, bisa melihat wajahnya yang jadi cemberut. Terlihat kernyitan di kening Daffin, kenapa juga Elisa itu menanyakan hal ini?


"Kayanya Satria belum punya pacar, dia gak suka deket gitu sama cewek di Kampus. Tapi gak tahu, mungkin aja ada di luar," jawab Daffin.


"Nanti kamu bisa tanyain ke dia gak? Tapi jangan bilang dari aku ya," pinta Elisa sambil terkekeh kecil.


"Emangnya kenapa kamu tanya Satria udah punya pacar atau belum, Jangan-jangan.."


Elisa lalu memukul pelan tangan Daffin, "Ih Daffin kamu ini emang peka banget ya dari dulu aku suka sama siapapun pasti langsung tahu."


Daffin tersentak sendiri mendengar itu, ternyata dugaannya benar jika Elisa menyukai Satria. Ada perasaan sedih di dadanya, rasa cemburu karena ternyata yang Elisa sukai adalah Satria.


Baru saja tadi pagi Daffin bahagia sendiri dengan dugaannya saat merasa Elisa pernah menyukainya, tapi ternyata itu hanya khayalan saja, karena nyatanya Elisa tidak pernah tertarik kepadanya.


"Kalian kan baru pertama kali ketemu, kok bisa-bisanya kamu suka sama dia?" tanya Daffin penasaran sambil berusaha tetap fokus menyetir.


"Gak tahu, aku suka aja sama Satria. Mungkin karena bisa langsung akrab sama aku, pas kita ngobrol juga nyambung," jawab Elisa sambil tersenyum-senyum membayangkan.


Entahlah apa hanya itu yang membuat Elisa tertarik pada Satria. Saat mengobrol tadi pun dengan Elisa, Daffin merasa mereka tidak lama. Dan sikap Satria itu memang begitu pada semua orang, mudah akrab.

__ADS_1


"Gimana kalau mizal dia sudah punya pacar?" tanya Daffin menduga.


"Ih jangan gitu dong, kan kamu juga bilang sendiri belum pasti. Semoga aja Satria itu belum punya pacar ya, soalnya aku udah suka banget sama dia."


Daffin hanya berdehem pelan mendengar itu, menutupi perasaannya yang patah hati. Ini bukan pertama kali Ia sakit hati, sudah beberapa kali. Tetapi anehnya yang kali ini terasa tidak terlalu sakit.


"Menurut kamu aku sama Satria cocok gak?" tanya Elisa kepedean.


"Enggak tahu," jawab Daffin sambil mengedikkan bahu.


"Ih dasar. Kamu kan sudah deket tuh sama Satria, menurut kamu dia cowok baik-baik gak?"


"Kayanya dia bukan cowok nakal gitu, katanya setiap malam juga selalu kerja part time di Kafe bar, buat nambah biaya hidup katanya," jawab Daffin.


"Aduh emang ya kerja keras banget, jadi makin suka deh sama Satria."


Daffin hanya tersenyum kecut mendengar itu, terlihat cengkraman di setir mobilnya mengerat. Elisa itu apa tidak sadar ya sudah membuatnya cemburu dan memanasi nya dari tadi? Daffin kan jadi sedih.


"Cynthia maaf aku telat, tadi ada kelas tambahan di jam akhir," ucap Daffin tidak enak.


Cynthia menurunkan buku novel yang sempat di bacanya, lalu beralih menatap pria itu, "Nanti lain kali kalau mau telat gitu kabarin dong, gue kan di sini butuh lo, jadinya kerepotan sendirian dari tadi," sahutnya kesal.


"Iya sorry, nanti aku pasti kabari kok. Tapi emangnya Mama kamu kemana?"


"Dia sudah pulang dari tadi juga, gue sendirian di sini. Tadi gue sempat jatuh pas turun dari brankar, untung aja ada suster yang denger dari luar."


Mendengar itu membuat Daffin terkejut dan langsung mendekati, "Terus kamu gak papa kan? Apa ada yang terluka?"


Cynthia menggeleng, "Ada sih, tanganĀ  kayanya ke gores pas pegangan jadi berdarah dan lukanya lumayan panjang."


Daffin pun repleks membawa tangan kanan perempuan itu untuk melihatnya lebih jelas. Cynthia memang memakai baju pasien lengan pendek, dan lukanya dari dekat pergelangan sampai siku. Ternyata benar panjang, tapi sudah di perban.

__ADS_1


"Kalau misal aku belum kesini, suruh suster aja untuk jagain kamu takut kamu lagi butuh sesuatu. Kamu jangan sungkan, kamu kan dirawat di kamar VVIP ini," ucap Daffin.


"Ck males ah, lagian gue kan udah punya asisten sendiri, dan itu lo!" dengus Cynthia sambil menunjuk dadanya.


"Ekhem maksudnya apa ya?" tanya Elisa yang baru membuka suara. Perempuan itu lalu mendekat dan berdiri di sisi Daffin.


Cynthia menaikkan sebelah alisnya sambil memperhatikan penampilan perempuan asing itu, "Dia siapa? Kenapa lo bawa kesini?" tanyanya sinis.


"Maaf aku bawa dia kesini, tapi Elisa emang sahabat aku," jawab Daffin.


"Sahabat? Masa? Bukan pacar?" Entah kenapa, saat menanyakan ini nada suara Cynthia jadi agak ketus.


"Bukan kok, Elisa ini sahabat aku dari kecil. Dia juga se Kampus sama kita, baru masuk hari ini." Daffin berusaha menjelaskan dengan baik.


Cynthia kembali melirik Elisa, menatapnya dalam dengan banyak pertanyaan di kepalanya. Merasa ragu saja dengan hubungan dua orang itu, tapi Cynthia juga malas mencari tahu. Nanti dianggap kepo lagi.


"Gue gak suka lo bawa orang asing kesini, terserah itu mau sahabat atau siapapun," ucap Cynthia blak-blakkan.


Daffin dibuat menelan ludah kasar mendengar itu, "Maaf aku gak tahu, " gumamnya pelan.


Elisa kembali berdehem, membuat dua orang itu menatapnya, "Jadi Daffin, dia ini siapa? Pacar kamu?" tanyanya sambil melirik sinis Cynthia.


"Bukan, dia yang aku tabrak. Aku kan sudah cerita sama kamu," jawab Daffin.


"Serius dia yang kamu tabrak?" Elisa sampai terkejut sendiri, ternyata perempuan itu sangat cantik. Elisa pikir wajahnya biasa saja, kalau seperti ini Elisa selalu merasa tersaingi.


"Tunggu, tapi kok dia bilang kamu asistennya? Maksudnya gimana?" tanya Elisa lagi.


"Iyalah, dia sekarang jadi babu gue. Dia kan yang udah buat gue lumpuh, jadi Daffin harus tanggung jawab dengan ngurusin gue terus." Cynthia lah yang menjawab, lalu tersenyum sinis pada Elisa. Kira-kira apa reaksi perempuan itu?


Kedua mata Elisa langsung terbelak, "Loh kok gak sopan gitu sih bilangnya? Enak aja, Daffin bukan babu kamu lah!" protesnya.

__ADS_1


__ADS_2