
"Sebentar ya aku mau urusin dulu biaya administrasi, Cynthia kamu mau ikut?" tanya Daffin. Dirinya akan tidak tenang jika membiarkan dua orang itu di ruangan yang sama.
"Aku tunggu di sini aja," tolak Cynthia sambil tersenyum.
Dengan terpaksa Daffin pun mengangguk, berjanji tidak akan lama pergi dan segera kembali. Sebelum benar-benar keluar, Daffin bahkan sempat mengusap kepala pacarnya itu di hadapan Elisa.
Selepas kepergian Daffin, suasana di kamar rawat itu menjadi sepi. Cynthia lalu mendorong kursi rodanya sendiri mendekati ranjang yang di tiduri Elisa. Ia ingin bicara dengan perempuan itu.
"Cynthia, kamu serius jadian dengan Daffin?" Tidak menyangka, ternyata Elisa duluan yang memulai bertanya.
"Iya, Daffin pasti sudah cerita ya."
"Hm, dan aku benar-benar cemburu juga sakit hati saat tahu ini. Aku merasa kesal saja pada diriku yang terlalu terlambat dan menyia-nyiakan dia," jawab Elisa sambil tersenyum kecut.
"Apa kamu akan merebut dia dari aku?"
Ditanyai seperti itu oleh Cynthia, membuat Elisa tertawa kecil. Bukan tawa sinis dengan banyak makna, tapi tertawa sedih, menertawai dirinya sendiri yang pasti akan sangat menyedihkan jika melakukan itu.
Sebenarnya Elisa bisa saja, tapi merasa percuma karena Daffin adalah lelaki yang setia. Pria itu juga terlihat benar-benar sayang pada Cynthia, Elisa bisa menyadarinya sendiri. Hanya Ia terlalu gengsi untuk mengungkapkan.
"Kalau kamu menyia-nyiakan dia seperti aku dulu, aku bisa saja merebut Daffin," kata Elisa.
Cynthia terlihat menahan senyumannya, "Jangan-jangan kamu sakit karena patah hati ya?" tanyanya setengah meledek.
"Mungkin? Aku terlalu larut dalam kesedihan, sampai tidak memikirkan diri sendiri," gumam Elisa mengakui.
Cynthia merasa Elisa sekarang lebih tenang, tidak lagi ketus juga padanya. Mereka bisa mengobrol dengan santai, walau terlihat sama-sama gengsi dan tetap meninggikan ego.
"Sebenarnya aku cemburu melihat Daffin sekarang bisa perhatian pada perempuan lain," celetuk Elisa.
"Tapi perempuan itu pacarnya, dan tentu saja dia berhak," sahut Cynthia meluruskan.
__ADS_1
"Hm memang, itulah kenapa sekarang aku mengakui kesalahan."
"Maksudnya?"
Perlahan Elisa memiringkan kepala menatap Cynthia yang duduk di kursi roda. Tatapannya itu terlihat dalam, seperti banyak menyimpan rasa. Berat sekali untuk mengatakan ini, tapi Elisa sudah lelah juga berjuang dan pasti akan gagal.
"Kau tenang saja Cynthia, aku tidak akan mengganggu lagi hubungan kamu dengan Daffin," ucap Elisa.
"Kau serius? Kenapa? Apa sudah tidak cinta lagi pada Daffin?" tanya Cynthia agak terkejut.
"Bukan begitu, tapi aku sudah lelah meluluhkan hati dia. Aku terlalu terlambat, sekarang Daffin sudah memilih kamu. Jadi semuanya terasa percuma saja," jawab Elisa lirih.
Tentu saja Cynthia senang mendengar itu, tapi hatinya masih ragu karena Elisa tiba-tiba menjadi baik begini. Ia tahu sebesar apa perempuan itu menyukai Daffin, Elisa memang terlambat mengakui perasaannya sendiri.
Tetapi Cynthia akan senang jika Elisa menepati janjinya, itu berarti Cynthia tidak usah terlalu risau juga dengan kedekatan dua sahabat itu. Lagi pula jujur saja rasanya melelahkan sekali kalau terus bermusuhan.
Ceklek!
"Hei maaf aku agak lama, aku tadi beli makanan di depan dulu," ucap Daffin yang sudah kembali. Terlihat menenteng dua kresek, satu berisi makanan dan satu lagi minuman.
"Sate sama lontong nya, kamu pasti laperkan?" tanya Daffin berbaik hati.
"Kamu juga beli buat kamu sendiri kan?" Cynthia tidak enak kalau makan sendirian, Ia memang sedang lapar sih.
"Beli dong, aku juga laper," jawab Daffin riang.
Daffin sempat memberitahu Elisa jika perempuan itu tidak bisa dulu makan, tadi juga sudah Ia tanyakan pada dokter. Setelahnya Daffin mengajak Cynthia ke sofa, beralih ke sana untuk makan lebih nyaman.
Ternyata Daffin hanya membeli satu bungkus, tapi katanya porsinya agak banyak karena untuk mereka berdua. Jadinya Daffin pun menyuapi Cynthia, jika ada saus di bibirnya dengan perhatian juga mengusap kan dengan tisu.
Elisa tentu saja memperhatikan interaksi mereka, perasaannya campur aduk sekali sekarang. Daffin terlihat manis sekali memperlakukan Cynthia, jika saja posisinya bisa ditukar. Sayangnya tidak akan mungkin, karena Daffin hanya menyukai Cynthia.
__ADS_1
"Kamu malam ini mau nginep di sini?" tanya Cynthia pelan, takut didengar Elisa.
"Enggak tahu, tapi mungkin bukan aku yang jagain Elisa," jawab Daffin di sela kunyahan nya.
"Terus siapa yang jagain dia?"
"Aku mungkin bakal minta pembantu di rumah buat jagain Elisa di sini. Kalau aku yang nginep, nanti ada yang cemburu lagi," kata Daffin sambil mengulum senyumannya.
"Oh ya? Siapa tuh yang cemburu?" tanya Cynthia sambil mendekatkan wajahnya menantang.
"Pacar aku lah, aku gak mau dia mikir aneh-aneh. Lagian aku harus hargai perasaan dia. Walaupun aku di sini juga gak akan aneh-aneh, tapi tetap saja aku harus jaga batasan dengan perempuan lain, sekalipun itu sahabat kecil aku," jawab Daffin panjang lebar.
Mendengar jawaban Daffin yang dewasa membuat Cynthia tidak bisa menahan haru lalu memeluk pacarnya itu. Inilah yang diinginkan nya, Daffin benar-benar sangat memprioritaskan dirinya dan menghargai perasaannya. Cynthia semakin dibuat jatuh cinta saja.
"Makasih ya Daffin, makasih sudah ngertiin aku. Aku memang khawatir kalau kamu yang nginep di sini, aku pasti gak akan tenang," bisik Cynthia.
Daffin tersenyun sambil mengusapi punggung Cynthia, "Memang sudah jadi tugas kita untuk saling menghargai pasangan," Katanya.
"Iya," angguk Cynthia.
Di pukul enam sorenya, mereka memutuskan pulang karena sudah lama juga di sana. Daffin masih mengingat ekspresi sedih dan pasrah Elisa saat Ia mengatakan dirinya tidak akan menginap, tapi digantikan pembantu di rumah. Tetapi untung saja Elisa pun menerima saja.
Melihat sahabatnya itu yang sekarang jadi agak berbeda, sempat membuat Daffin bingung. Ia kira Elisa akan merengek dan memohon pada dirinya untuk menjaganya malam ini, tapi ternyata tidak. Daffin lega, karena pacarnya dengan sahabatnya pun tidak bertengkar.
"Tadi pas aku pergi untuk bayar administrasi, apa kalian sempat ribut?" tanya Daffin penasaran. Mereka sedang di perjalanan pulang sekarang.
"Enggak, tapi aku bicara sama Elisa sebentar. Kamu juga pasti ngerasa kaget kan dengan perubahan dia?" ujar Cynthia lalu bertanya balik.
"Memangnya kalian bicara apa?"
Cynthia pun kembali menceritakan apa saja yang dibahasnya dengan Elisa saat Daffin keluar. Daffin yang mendengar saja sempat tidak percaya, tapi Cynthia yang cerita dengan lancar membuatnya yakin jika pacarnya itu tidak bohong.
__ADS_1
"Apa mungkin Elisa lagi sakit ya?" tanya Daffin menduga dengan perubahan sahabatnya itu.
Cynthia mengedikkan bahunya, "Gak tahu, kita lihat aja nanti. Apa bener dia gak akan centil lagi sama kamu," jawabnya.