
Perlahan hubungan Rania dan Yoga pun semakin dekat, lebih tepatnya Yoga lah yang selalu lebih dahulu menghampiri Rania di rumahnya. Pria itu membuat berbagai macam alasan supaya bisa datang bertemu perempuan itu.
Tok tok!
"Tunggu sebentar," teriak Rania dari dalam.
Saat membuka pintu, tebakan Rania langsung tepat jika itu adalah Yoga. Pria itu hanya menyengir lebar padanya lalu melenggang masuk begitu saja, terlihat di kedua tangannya menenteng dua paperbag yang entah apa isinya.
"Aku beliin kamu makanan," ucap Yoga memberitahu. Pria itu mengeluarkan isi dari paperbag nya.
Rania pun mendekat dan berdiri di depannya. Isi makanan itu ada berbagai macam kue, "Kenapa banyak banget belinya?" tanyanya.
"Ya gak papa, kamu kan katanya suka laper jadi buat nyemil," sahut Yoga.
"Jadi itu semuanya buat aku?"
"Iya," angguk Yoga, "Di rumah aku sudah banyak, jadi buat kamu aja."
Rania menghela nafasnya melihat kebaikan Yoga, pria itu sangat murah hati dan selalu membelikannya apapun tanpa Rania minta sedikit pun. Rania pun baru duduk di depannya, dengan pelan karena perutnya semakin besar.
"Kenapa kamu baik banget?" tanya Rania.
"Emangnya kamu gak suka aku baik begini?"
"Bukan gitu, tapi kamu terlalu baik sama aku," jawab Rania yang sulit menjelaskan sendiri.
Semenjak awal pertemuan itu, hampir setiap hari Yoga selalu datang ke rumahnya. Entah itu hanya singgah sebentar atau kadang membawa makanan. Sekarang mereka pun sudah tidak canggung lagi.
"Aku cuman sedikit khawatir ada warga yang curiga," gumam Rania pelan.
Yoga yang sedang melihat-lihat kue pun terhenti, "Apa mereka pernah bilang sesuatu yang buruk sama kamu?"
"Enggak, tapi aku gak enak kalau ada yang lihat dan curiga."
Mau bagaimana pun yang semua orang tahu status Rania itu masih istri Candra, rasanya tidak pantas sekali ada lelaki lain yang sering main ke rumahnya, apalagi tinggal sendirian.
Walaupun rumahnya dengan rumah warga lain berjauhan, tapi tetap saja pasti pernah ada yang melihat Yoga yang berada di rumahnya. Rania pernah trauma dulu di jelek-jelekkan, sekarang khawatir lagi.
__ADS_1
"Maaf ya kalau aku buat kamu gak nyaman," ucap Yoga sambil menekan bibirnya.
"Bu-bukan gitu, tapi--"
"Apa aku ganggu kamu?" sela Yoga memastikan.
Rania memggeleng, "Kamu gak ganggu kok, aku malah senang bisa punya teman karena selalu kesepian di sini. Tapi aku gak tahu gimana tanggapan orang lain di luar, padahal kita juga gak ngapa-ngapain," ucapnya menjelaskan.
Yoga mengangguk mengerti dengan ke khawatiran perempuan itu. Benar juga, Yoga terlalu bahagia sampai tidak mau memikirkan tanggapan orang lain. Jika yang mereka bicarakan adalah dirinya sih tidak masalah, tapi kalau Rania jangan sampai.
"Emangnya kamu gak punya pacar?" tanya Rania.
"Enggak, kalau aku punya pacar gak akan sering main kesini," jawab Yoga sambil tersenyum.
"Masa? Kok bisa?"
Sebelah alis Yoga terangkat, "Emangnya aku kenapa?" tanyanya penasaran dengan pandangan perempuan.
"Ya kamu kan sudah usia matang, terus punya pekerjaan bagus dan mapan juga. Selain itu kamu juga ganteng dan baik," jawab Rania, terlihat pipinya jadi agak sedikit merah menahan malu karena sudah memuji lelaki lain.
"Selama ini aku terlalu fokus kerja di kampung ini, sampai untuk cari pasangan aja gak ada waktu. Sebenarnya sih banyak ya gadis-gadis di sini yang deketin, tapi mereka gak sesuai tipe aku," sahut Yoga jujur.
"Emangnya tipe istri kamu kaya gimana?"
Bukannya menjawab, Yoga malah menatap dalam perempuan yang duduk di depannya dengan senyuman manis. Rania awalnya tidak ngeh, tapi mendapatkan tatapan dalam seperti itu membuatnya salah tingkah sendiri.
Baru saja akan membuka mulut, tiba-tiba lampu mati membuat suasana pun menjadi gelap. Perlahan juga terdengar guntur dan tidak lama hujan turun dengan deras di luar. Yoga segera membawa ponselnya menyalakan senter.
"Ya ampun mati lampu," ucap Rania terkejut sendiri.
Yoga lalu beranjak mendekat ke jendela untuk melihat keluar, ternyata semua rumah mati lampu dan di luar terlihat lumayan seram karena gelap di tambah hujan deras. Yoga pun kembali menghadap ke Rania.
"Untung aja aku lagi di sini," ucapnya tanpa sadar.
"Hah?"
Tetapi Yoga malah menggeleng enggan menjelaskan karena terlalu malu. Tidak terbayang jika Ia tidak di sini, pasti akan terus memikirkan Rania dan mengkawatirkannya. Kondisi perempuan itu yang sedang hamil lah yang membuatnya serasa ekstra harus menjaga.
__ADS_1
"Kamu tadi kesini pakai motor, kan?" tanya Rania.
"Iya, soalnya mobil aku lagi di bengkel," jawab Yoga sambil menghela nafas berat merasa sedang sial.
"Bawa jas hujan gak?"
"Enggak," geleng Yoga dengan wajah memelas.
"Ya sudah tunggu aja di sini dulu, nanti kalau sudah reda hujannya bisa pulang. Mungkin lampu nyala juga sebentar lagi," ujar Rania berbaik hati.
Tetapi sayangnya sampai pukul sembilan malam pun lampu tidak menyala juga. Rania sudah menyalakan beberapa lilin di setiap sudut ruangan agar tidak terlalu gelap, untuk di kamarnya sendiri ada dua agar lebih terang.
"Kok hujannya gak reda-reda ya? Ck gimana aku pulang?" gumam Yoga menggerutu kecil. Pria itu dari tadi diam di depan jendela memperhatikan hujan.
Rania pun mendekat, "Pantesan aja tadi siang panas dan gerah banget, ternyata malamnya hujan."
"Iya, ditambah mati lampu lagi," sahut Yoga.
Mereka pun terdiam sambil memeluk tubuh masing-masing karena merasakan dingin. Setelah Rania pikir lagi, keberadaan Yoga saat ini memang cukup menguntungkan. Rania jadi tidak terlalu takut saat mati lampu begini, apalagi kan Ia tinggal sendirian.
"Gimana kalau aku terobos aja hujannya? Soalnya makin malem," kata Yoga melihat jam tangannya.
Tetapi Rania pikir itu bukan ide yang bagus, "Jangan ah, aku takut kamu kenapa-napa. Apalagi lagi mati lampu, jadi gak bisa lihat jalanan dengan jelas," ucapnya.
"Terus gimana dong? Kamu juga kan pasti mau tidur."
Rania menggigit bibir bawahnya karena terpikirkan sesuatu, hanya saja Ia cukup ragu untuk mengatakannya. Tetapi Rania juga rasanya tidak tega kalau mengusir Yoga, pria itu selalu baik kepadanya.
"Kamu nginep aja di sini malam ini, bisa tidur di kamar sebelah," kata Rania.
"Oke boleh, makasih ya."
Rania sempat terdiam terkejut karena Yoga langsung menerima ajakannya itu, bahkan dengan senyuman lebar. Apa Yoga memang sengaja ya ingin Rania menawarkan lebih dahulu? Sikap pria itu yang random lagi-lagi membuat Rania tersenyum.
"Ya sudah selamat malam, aku ke kamar duluan, " pamit Rania.
"Selamat malam juga," balas Yoga melambaikan tangan.
__ADS_1