Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Istri Rahasia


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Rania. Kenapa Livia tidak bisa tidur? Rania lalu langsung menduga sesuatu, apa mungkin berkaitan dengan Candra yang tidur dengannya?


"Aku pergi dulu," ucap Livia memilih pergi tanpa memberikan jawaban pada pertanyaan Rania tadi.


Rania menatap kepergian perempuan itu dalam diam dan helaan nafas berat. Jika pun benar Livia itu tidak bisa tidur karena memikirkan Candra yang tidur bersamanya, Rania merasa tidak enak hati. Padahal Candra pun jarang tidur bersamanya, pria itu kan harus adil. Tetapi lagi-lagi Rania selalu merasa segan dan tahu diri akan posisinya.


"Rania, kamu dari mana?" tanya Candra yang tidak sengaja terbangun. Mencoba memfokuskan matanya pada perempuan itu yang masuk ke kamar.


"Tadi aku haus Mas," jawab Rania lalu naik lagi ke atas ranjang.


"Kamu ambil sendiri? Kenapa gak nyuruh aku aja?"


"Mas kan lagi tidur."


Bukankah biasanya suami itu harusnya di repotkan ya? Rania ini memang berbeda sekali, tapi sikapnya itu lah yang membuat Candra tidak enak hati. Kernyitan terlihat di kening Candra saat memperhatikan ekspresi wajah perempuan itu yang menjadi murung.


"Kenapa Rania? Ayo tidur lagi, masih malam," tegur Candra.


"Mas, tadi di dapur aku lihat Kak Livia."


"Livia belum tidur juga?" tanya Candra sedikit terkejut.


"Iya, katanya Kak Livia gak bisa tidur." Rania lalu terpikirkan sebuah rencana, "Gimana kalau sekarang Mas cek ke kamar Kak Livia?"


"Hah? Em itu--"


"Mas pastiin aja dulu Kak Livia sudah tidur atau belum, mungkin aja Kak Livia kenapa-napa gitu?"


Candra menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Tapi gimana kalau semisal Nenek lihat?" tanyanya.


"Gak akan, Nenek kan sudah tidur. Masa aja Nenek juga naik ke lantai atas, Mas tenang aja."


"Terus kamu gimana?"


"Ya aku bakal tidur lagi," jawab Rania sambil berusaha tersenyum.


Candra terdiam beberapa saat sedang memikirkannya, dan sepertinya Ia memang harus mengecek istri pertamanya itu untuk memastikan apakah baik-baik saja. Akhirnya Candra pun memutuskan ke kamar utama, dengan meninggalkan Rania di sini.


"Ya sudah, aku ke atas dulu ya," ucap Candra.


"Iya, sudah sana." Rania malah mendorong Candra untuk pergi, tapi setelah Candra akhirnya benar-benar keluar kamar, senyuman palsu di bibirnya pun otomatis menghilang.

__ADS_1


Tatapan Rania menyendu dengan senyuman mirisnya. Padahal Ia sendiri yang mendorong Candra untuk pergi pada istri pertamanya itu, tapi kenapa jadi sakit hati sendiri ya? Apakah Rania berharap Candra bertahan di sini bersamanya? Ternyata menjadi orang yang tidak enakan itu sangat tidak nyaman.


"Tidak apa-apa, Mama gak sendirian. Kan ada kamu ya sayang," ucap Rania sambil mengusap perutnya. Perempuan itu pun mencoba tidur lagi, walau suasananya tidak sehangat tadi.


Besok paginya seperti biasa Rania selalu bangun subuh-subuh. Ternyata Neneknya pun sudah bangun, bahkan sedang membantu mbok Nina di dapur menyiapkan sarapan. Mereka terlihat sudah akrab, membuat Rania yang melihatnya jadi senang sendiri.


"Kamu sudah bangun nak?" tanya Neneknya.


"Hehe iya Nek," jawab Rania, Ia pun duduk di kursi makan.


"Nona Rania ini memang rajin bangun pagi, selalu nemenin mbok di dapur juga jadi gak kesepian," ucap mbok Nina menceritakan.


"Mungkin Rania sudah biasa, soalnya dari kecil juga sudah biasa bangun subuh," sahut Nek Ima.


"Iya Nona Rania memang rajin orangnya."


Rania lalu beranjak dari duduknya keluar dari dapur, Ia akan berjalan-jalan di komplek. Pagi-pagi begini udaranya masih segar, belum banyak orang juga jadi Rania lumayan nyaman. Untung saja Ia memakai sweater rajut, jadi tidak terlalu kedinginan.


"Neng mau kemana?" tanya seorang Ibu-Ibu yang sedang menyapu di depan rumahnya.


"Em lagi jalan-jalan Bu," jawab Rania sambil tersenyum berusaha ramah.


"Iya Bu."


"Berapa bulan sekarang?"


"Sudah lima bulan."


"Lumayan sudah kelihatan. Tapi Ibu baru pertama kali lihat adik ini, apa tetangga baru di komplek ini?" tanya Ibu itu penasaran.


"Enggak juga, saya sudah lumayan lama di sini."


"Oh ya? Tapi Ibu baru lihat," gumam si Ibu sambil menggaruk kepalanya. Padahal selalu di luar berkumpul dengan tetangga lain, tapi merasa baru pertama kali melihat perempuan muda itu.


"Iya Bu, saya memang jarang keluar rumah," sahut Rania menjelaskan.


"Pantesan. Memangnya rumahnya dimana?"


"Rumah Pak Candra."


"Hah? Maaf, memangnya neng ini siapanya Pak Candra ya?"

__ADS_1


"Saya is-" Rania tidak melanjutkan perkataannya, mulai menyadari sesuatu.


Jika semisal Ibu ini tidak tahu siapa dirinya, sudah pasti tidak tahu juga statusnya yang sebagai Istri Candra. Ada perasaan sedih yang Rania rasakan karena dirinya seperti tidak dianggap orang lain, Candra pun sepertinya memang menyembunyikan statusnya ini di mata orang lain. Rania pun akhirnya memutuskan untuk tidak jujur.


"Saya kerabatnya," jawab Rania bohong.


"Oh begitu, tapi serumah?"


"I-iya." Rania jadi bingung sendiri harus menjelaskan apalagi.


Merasa khawatir Ibu itu terus menanyai banyak hal dan Ia yang tidak sengaja membocorkan, Rania pun memutuskan pamit pergi dari sana. Rania tidak mau banyak cerita, khawatirnya memang tidak ada yang tahu statusnya ini. Di pukul enam paginya, Rania pun memutuskan pulang ke rumah.


"Astaga Rania, kamu dari mana saja?" tanya Candra langsung menghampiri, dari tadi menunggu kepulangan istrinya ini.


"Aku tadi jalan-jalan sebentar di luar Mas," jawab Rania. Kenapa pria itu terlihat khawatir sekali?


"Kenapa gak bilang dulu?"


"Maaf, Mas juga mungkin lagi tidur."


"Tetep aja aku khawatir, kamu juga perginya sendiri. Jalan-jalan nya gak jauh kan?"


Rania menggeleng, "Enggak kok, sampai tugu aja terus balik lagi."


"Lain kali kalau mau keluar bilang dulu ya, jangan pergi gitu aja. Bukan cuman aku yang khawatir, tapi yang lain juga," tegur Candra dengan nada rendahnya.


"Iya Mas maaf."


Rania menundukan kepala, menduga jika sepertinya Candra sedikit marah dengan sikap lancangnya. Rania menyangkut kan dengan mungkin saja Candra itu tidak mau Ia keluar rumah karena akan bertemu tetangga, mereka kan tidak tahu siapa Rania itu.


"Ayo sarapan, semua sudah menunggu di meja makan," ajak Candra sambil menarik tangannya.


Di meja makan hanya ada Neneknya, entah kemana Livia itu. Untuk saat ini Rania tidak mau duku menanyakan perempuan itu, entah kenapa ada perasaan sakit hati saja.


Cemburukah? Selain karena semalam Candra yang tidak kembali, juga statusnya yang sebagai istri di sembunyikan. Jadi yang orang lain tahu, istri Candra ya hanya Livia seorang.


Perasaan Rania ini apakah wajar atau berlebihan?


"Rania sudah selesai jalan-jalannya?" tanya sang Nenek.


"Sudah Nek," jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2