Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Menemukan Cinta Sejati 6


__ADS_3

"Bagus deh kalau kaya gitu, berarti gue gak perlu minta cuti lama karena lo juga bisa urusin gue di sana," sahut Cynthia.


Daffin yang mendengar itu dibuat terdiam memikirkan, tapi ada benarnya juga yang dikatakan Cynthia. Berbeda lagi kalau berbeda Kampus, mungkin Daffin akan lebih repot.


Sepertinya semua kejadian ini sudah di takdirkan Tuhan, buktinya saja mereka bisa sampai satu Kampus. Entah apalagi yang akan terjadi, tapi Daffin berharap hidupnya lancar-lancar saja.


"Iya nanti kalau kamu butuh bantuan aku siap nolong kok, itu kan sudah jadi tugas aku," ucap Daffin.


"Lo jangan marah atau kesel kalau gue ngerepotin, ya salah lo sendiri sudah buat gue lumpuh begini," ujar Cynthia mengeyel.


"Iya-iya."


Lagi pula kan Daffin sadar akan kesalahannya, sudah menjadi konsekuensi nya harus merawat Cynthia. Mungkin mereka baru kenal, tapi bisa saja semakin lama menjadi akrab.


"Tunggu, kamu mau habisin mie ayamnya?" tanya Daffin baru sadar.


"Iya lah gue kan laper," jawab Cynthia.


"Tapi kan tadi aku bilang bagi dua, aku juga belum makan." Daffin langsung menghela nafas berat setelah mengatakan itu.


Cynthia malah mengedikkan bahunya seolah tidak peduli, "Lo beli aja lagi sana, lo kan bisa jalan jadi gampang. Nah gue? Kaki--"


"Ya sudah kalau gitu aku beli lagi aja nanti," sela Daffin.


Mendapat sindiran terus menerus itu jujur saja membuat Daffin tidak nyaman. Ia tahu dirinya salah, tapi kan Daffin juga sudah mengakui bahkan mau bertanggung jawab. Sepertinya Cynthia masih kesal padanya.


"Ambilin gue minum dong, haus," perintah Cynthia.


Daffin melirik ke gelas berisi air putih di meja yang ada di sisi ranjang. Padahal tidak jauh, digapai dengan tangan juga pasti sampai. Tetapi Daffin dengan baik hati menurut memberikan gelas itu pada Cynthia.


"Sekarang gendong gue, gue pengen pipis," kata Cynthia sambil membuka selimutnya.


"Apa?" pekik Daffin agak terkejut.


"Ck gue kan gak bisa jalan, kalau bisa juga sendiri aja. Lo kan bilang bakal bantuin!" decak Cynthia kesal melihat kelemotan pria itu.

__ADS_1


Bukan begitu, tapi Daffin sedikit terkejut saja dengan permintaannya yang satu itu. Daffin sih tidak masalah membantu apapun, hanya yang satu ini kan agak intim.


Daffin lalu berdiri dari duduknya, dan Cynthia bergeser mendekatinya lalu merangkul kan tangannya di leher. Dengan sedikit gugup, Daffin pun menggendong perempuan itu ke kamar mandi di sana.


"Ngapain masih di sini? Mau lihat gue pipis?" celetuk Cynthia setelah di dudukan di atas kloset duduk.


"Hah? E-enggak lah," bantah Daffin sambil tersenyum canggung.


"Ya sudah sana keluar, nanti dipanggil kalau sudah. "


Daffin pun mengangguk dan segera keluar dari kamar mandi, tidak lupa pastinya menutup pintu lagi. Saat memegang dadanya, bisa mendengar detakan cepat di sana. Kenapa Daffin gugup ya?


Mungkin bisa juga karena dirinya selama ini belum pernah sedekat itu dengan perempuan. Percaya atau tidak, di usianya sampai sekarang Daffin belum pernah menjalin hubungan layaknya pasangan kekasih.


Drrt!


Ponselnya yang di saku bergetar, tanda ada sebuah pesan masuk. Melihat satu nama itu, langsung membuatnya tersenyum lebar. Isi pesannya memberitahu jika perempuan itu sudah sampai di Jakarta dan menuju rumahnya.


"Daffin gue sudah selesai!" teriak Cynthia dari dalam kamar mandi.


Daffin mencoba menahan rasa senangnya, Ia memasukan lagi ponselnya itu. Setelahnya membuka pintu dan kembali menggendong Cynthia menuju ranjang.


"Hah? Gak papa kok," bantah Daffin.


"Masa? Bukan karena kesenengan gendong cewek cantik dan seksi kaya gue kan?" tanya Cynthia kepedean.


"Bukan kok," geleng Daffin jujur.


Pria itu melirik sekilas jam tangannya, kalau dipikir sih sudah lumayan lama juga Ia berada di sini. Tetapi sayangnya Tante Citra itu belum kembali, padahal Daffin ingin pulang sekarang untuk bertemu sahabat kecilnya itu.


"Kenapa sih? Kaya lagi gelisah gitu?" tanya Cynthia.


"Em apa aku boleh pulang sekarang? Tapi Mama kamu belum balik ya, aku telepon dia dulu ya?"


Sebelum Daffin membawa ponselnya, langsung ditahan oleh Cynthia. Mereka pun beberapa detik saling bertatapan dengan tangan bersentuhan, tapi Cynthia lebih dulu melepaskan sambil berdehem pelan.

__ADS_1


"Udah gak usah telepon dia, kalau mau pulang ya pulang aja. Kenapa? Takut dimarahin Mama ya?" tanya Cynthia.


"Enggak gitu, tapi aku gak enak aja tinggalin kamu sendiri di sini. Sebelum aku beneran pulang, apa kamu butuh sesuatu lagi?" tanya Daffin perhatian, tidak bisa pergi begitu saja.


"Gak ada sih, gue juga ngantuk pengen tidur. Sudah sana pulang aja."


Mendengar itu membuat Daffin bernafas lega, merasa senang saja karena diizinkan. Untung saja Cynthia juga tidak menahannya, jadi Daffin pun bisa pergi dengan tenang.


"Ya sudah kalau gitu aku pulang dulu ya, nanti besok janji bakalan kesini lagi," ucap Daffin.


"Iya sudah sana pergi. Pasti anak Mommy ya? Sampai pulang aja gak boleh sore-sore," ledek Cynthia sambil tersenyum sinis.


Daffin hanya melambaikan tangan seolah membantah tanpa mengatakan apapun, Ia pun pergi keluar dari ruang rawat itu untuk segera pulang ke rumahnya. Bisa dipastikan jika sahabat perempuannya sudah sampai di rumahnya.


Sepanjang perjalanan Daffin mencoba tetap fokus menyetir, walau Ia ingin cepat sampai di rumah tapi tetap menjalankan mobilnya dengan kecepatan stabil. Daffin tidak mau kejadian buruk itu terulang.


Sesampainya di rumah Daffin segera masuk, dan pandangannya langsung bertemu dengan perempuan manis yang duduk menunggunya di sofa. Keduanya lalu saling mendekat dan langsung berpelukan.


"Elisa aku seneng banget akhirnya kamu kesini, itu berarti kamu juga bakalan kuliah di sini kan sama aku?" tanya Daffin bersemangat.


"Lepasin dulu, aku gak bisa nafas," kata Elisa dengan suara tertahannya.


Daffin pun langsung melepaskan pelukan sambil terkekeh kecil. Habisnya Ia terlalu senang bertemu sahabatnya dari desa itu datang ke Jakarta, Daffin merasa tidak akan sendirian lagi.


"Iya lah aku sudah mutusin kesini, apalagi kalau bukan Kuliah bareng kamu," jawab Elisa sambil tersenyum, "Kamu seneng kan?"


"Iya lah aku seneng banget, makasih ya sudah mutusin yang tepat," ucap Daffin.


"Hei Tuan jangan percaya diri, aku kesini pindah itu untuk Kuliah, untuk masa depan aku. Bukan karena kamu, apalagi sampai gak mau jauh-jauh sama kamu," kata Elisa sambil menepuk pelan dada bidang Daffin.


"Hahaha iya-iya lah terserah," kekeh Daffin.


Tetapi yang pasti Daffin tetap senang karena Elisa itu mau juga ikut Kuliah bersamanya di Jakarta. Dari kecil mereka benar-benar terus bersama, dan sampai sekarang pun tetap bersama. Sahabat yang tidak terpisahkan.


***

__ADS_1



Visual Cynthia - Daffin - Elisa


__ADS_2