
"Rumah kamu bagus banget, mewah kaya kerajaan gitu ya," celetuk Elisa sambil memperhatikan sekitar, dari awal masuk terus terpana.
"Kamu bisa saja, tapi kan ini bukan rumah aku. Rumah Papa aku," kata Daffin polos.
Elisa lalu memukul tangannya pelan, "Ck sama aja lah, Papa kamu kan orang tua kamu. Tapi mau di desa ataupun di Jakarta rumah kamu emang sama-sama bagus sih."
Daffin hanya tersenyum mendengar pujian seperti itu, Ia sama sekali tidak merasa berbangga diri menjadi orang kaya atau sampai bersikap sombong. Daffin harus selalu rendah hati.
"Oh iya kamu tadi dari mana sih? Aku nungguin di sini lumayan kesel, soalnya sendiri," tanya Elisa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sorry, aku dari rumah sakit," jawabnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Loh siapa yang sakit? Apa kamu lagi sakit?" Elisa pun langsung memegang kedua tangan Daffin dan mengecek tubuhnya.
Mendapatkan sikap perhatian seperti itu membuat Daffin terkekeh kecil, merasa senang saja jika Elisa sudah khawatir berlebih begitu kepadanya.
"Bukan aku yang sakit, tapi.. Aku akan cerita sesuatu sama kamu. Sebenarnya aku dapat masalah, kamu harus tahu ini." Daffin lalu menarik tangan Elisa untuk duduk di sofa.
Tetapi sebelum memulai cerita, Daffin meminta pada seorang pelayan untuk membuatkan minuman untuknya juga beberapa cemilan. Daffin kan belum makan, tadi makanannya diambil Cynthia.
"Ada apa sih? Kok kaya serius gitu?" tanya Elisa bingung.
"Dua hari pas aku pindah ke Jakarta, aku sudah buat masalah yang bisa dibilang cukup serius. Aku benar-benar malu sama Papa karena sudah ngerepotin dia," kata Daffin dengan helaan nafas berat.
"Masalah? Masalah apa?"
Elisa membatin merasa meragukan perkataan Daffin. Ia sangat mengenali sahabatnya itu, Daffin itu anak baik-baik dan tidak suka membuat masalah. Elisa merasa ini cukup serius.
"Jadi aku gak sengaja nabrak perempuan, dia sempat kritis dan gak sadarin diri. Terus yang paling parah, sekarang dia lumpuh sementara," ucap Daffin menceritakan.
Bukannya mendapat amarah dari Elisa, sahabatnya itu malah tertawa keras sambil bertepuk tangan. Daffin tahu perempuan itu pasti meragukan ceritanya, mereka kan sama-sama mengenal satu-sama lain.
"Apaan sih? Kamu sekarang mau jadi pengarang cerita ya?" tanya Elisa sambil berusaha menghentikan tawanya.
__ADS_1
"Aku serius Elisa, nama perempuannya Cynthia. Dia seumuran kita dan aku paling kaget karena ternyata dia juga satu Kampus dengan aku."
Melihat ekspresi wajah serius Daffin, membuat Elisa langsung menelan ludah kasar. Sepertinya sahabatnya itu benar tidak bohong, tapi rasanya sulit juga mempercayai.
"Kok bisa?" tanya Elisa pelan.
"Aku gak sengaja, saat itu aku juga salah karena terlalu seneng dikasih mobil baru sama Papa. Tapi itu bukan salah aku sepenuhnya, karena dia juga nyebrang gitu aja," jawab Daffin mencoba membela diri.
"Kamu gak bohong kan Daffin? Tapi masa sih kamu sampai nabrak orang gitu?"
"Aku serius, nanti besok kita ke sana ya lihat Cynthia," ajak Daffin.
Elisa rasanya ingin memarahi Daffin, tapi Ia saja sekarang dibuat tidak bisa berkata-kata dengan ceritanya itu. Ada rasa kasihan juga pada Daffin, pasti syok sekali karena sebelumnya tidak pernah membuat masalah.
"Terus Tante Rania sudah tahu?" tanya Elisa.
"Kayanya sudah, Papa yang bilang. Tapi sampai saat ini Mama gak bisa dihubungin, mungkin dia marah sama aku," gumam Daffin pelan.
Merasakan usapan lembut di bahunya, membuat Daffin menoleh pada Elisa. Melihat senyuman manis di bibir perempuan itu, membuatnya sedikit tenang dan membalas senyuman.
"Nanti aku bantu telepon Tante Rania ya? Kamu harus jelasin semuanya pada dia, ini juga kan bukan salah kamu," ucap Elisa berbaik hati.
"Makasih ya."
"Iya, kita kan sahabat jadi harus saling menolong."
Entah kenapa, ada perasaan mengganjal di dada Daffin saat dirinya hanya dianggap sahabat oleh Elisa. Mereka cukup lama berteman dan bersama, kemungkinan munculnya perasaan asmara itu pasti ada.
Tidak tahu sejak kapan perasaan tertarik itu hadir di dada Daffin, tapi yang pasti Ia benar menyukai Elisa. Hanya saja Daffin tidak berani mengungkapkan, akan menunggu waktu yang tepat.
"Nanti kamu akan tinggal dimana?" tanya Daffin mengalihkan obrolan.
"Gak tahu, tapi kayanya aku akan cari kontrakan. Nanti bantu aku cariin ya?"
__ADS_1
Daffin mengangguk pelan, tapi merasa kasihan dan khawatir jika tinggal berjauhan dengan Elisa. Sepertinya nanti Daffin akan bicara dengan Papanya, Ia harus membantu Elisa.
Di tengah obrolan mereka, kedatangan seorang wanita mengalihkan pandangan. Daffin dan Elisa langsung berdiri lalu menyalami tangan Livia. Sepertinya Mama tirinya itu baru pulang dari urusan di luar.
"Siapa ini Daffin?" tanya Livia.
"Perkenalkan nama saya Elisa, saya ini sahabatnya Daffin dari desa," jawab Elisa berusaha seramah mungkin.
"Elisa ini nyusulin aku ke Jakarta, soalnya dia katanya mau kuliah bareng aku di sini," sahut Daffin kepedean.
Elisa yang mendengar itu langsung menyenggol bahu pria itu, membuat Daffin pun tertawa. Rasanya kesal sekali terus di goda begitu, kepedean sekali pikirnya Daffin.
"Tante percaya kamu sahabatnya Daffin, soalnya Daffin gak pernah se narsis itu sama pedempuan lain," celetuk Livia dibuat tersenyum sendiri.
"Hehe iya Tante, dia itu kalau sama aku emang nyebelin banget. Pokoknya sifatnya beda banget kalau sama orang lain," ucap Elisa sambil tersenyum kikuk.
"Itu artinya dia nyaman sama kamu. Tunggu, Jangan-jangan kalian pacaran ya? Bukan cuman sahabat," tanya Livia sambil menunjuk.
Elisa dan Daffin pun langsung menggeleng dan membantah itu dengan membuat banyak alasan, Livia yang melihatnya kembali dibuat terhibur. Memang percintaan anak muda sangat menyenangkan.
"Papa kamu sebentar lagi juga pulang Daffin, jadi Elisa jangan dulu pergi ya, tunggu sampai Papanya Daffin pulang," kata Livia.
"Iya Tante, makasih," angguk Elisa.
Daffin lalu mengajak sahabat perempuannya itu ke kamarnya di lantai atas sambil menunggu Papanya pulang. Elisa dari tadi terus dibuat kagum dengan tempat tinggal baru Daffin ini, sangat bagus dan mewah.
Saat masuk ke kamarnya yang berbau maskulin itu, Elisa langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Perempuan itu tidak ada malu-malu nya, toh Ia dan Daffin kan sahabat.
"Kamu beruntung banget Daffin bisa lahir dari keluar sempurna kaya gini, masa depan kamu cerah," celetuk Elisa sambil menatap langit kamar.
"Kamu ngomong apa sih? Semua sudah di takdirin Tuhan," sahut Daffin dari arah kamar mandi.
Elisa hanya tersenyum kecut, jujur Ia iri dengan hidup Daffin yang memiliki keluarga harmonis. Apalah dirinya yang masih punya orang tua, tapi mereka tidak peduli kepadanya.
__ADS_1