
Makan malam tadi cukup tidak nyaman, bahkan mungkin baik Rania, Candra maupun Livia sama-sama tidak nafsu makan karena merasa canggung dengan Nenek Ima. Salah mereka sendiri yang berakting seperti itu, tidak siap-siap dan skenarionya juga sangat dadakan.
Tok tok!
"Rania, boleh aku masuk?"
Suara Candra dari luar kamar mengalihkan perhatian Rania, perempuan itu pun beranjak untuk membukakan pintu, "Silahkan Mas, kenapa harus minta izin?" tanyanya sambil tersenyum tipis.
Candra yang mendengar itu menjadi malu sendiri sampai mengusap tengkuknya, "Hehe takut ganggu kamu," jawabnya asal.
Keduanya lalu duduk di sisi ranjang, untuk beberapa saat saling terdiam dengan perasaan canggung. Saat mata mereka bertemu, langsung mengalihkan dengan cepat merasa malu sendiri. Kenapa tiba-tiba jadi begini?
"Ada apa Mas?" tanya Rania membunuh keheningan.
"Malam ini aku tidur di sini ya. Tidak malam ini saja sih, tapi selama Nenek Ima sedang di rumah."
Rania mengangguk pelan, "Silahkan."
Entah kenapa, hati Rania merasa tidak enak dan sedikit sakit saja dengan kata-kata Candra. Jadi maksudnya pria itu hanya ingin tidur se kamar dengannya saat ada Neneknya saja? Jika pun tidak ada, Candra sangat jarang sekali tidur bersamanya. Bukan apa-apa, tapi Rania merasa pria itu hanya sedang main aman.
"Lalu bagaimana dengan Kak Livia?" tanya Rania pelan. Bodoh sekali, kenapa juga Rania memikirkan perasaan wanita itu? Sedangkan di sini saja hatinya sedang sedih.
"Malahan dia yang ngusir aku dari kamar, katanya takut Nek Ima lihat."
"Mas takut dimarahin Nenek ya kalau sampai tahu Mas bohong?"
"Hah? Em itu--"
"Kenapa Mas harus takut? "
Kernyitan terlihat di kening Candra, tentu saja Ia takut jika sampai Nenek Ima tahu rahasianya yang sebenarnya. Selain karena sudah berbohong ke sekian kali, tentu yang paling Candra khawatirkan adalah harga dirinya sendiri dan nama baiknya. Apakah Candra sekarang terlihat seperti orang yang egois?
"Kamu jangan bilang sama Nenek ya Rania," pinta Candra.
"Aku gak tahu Mas."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kalau terus bohong sama Nenek, aku ngerasa gak enak dan berdosa."
Candra yang mendengarnya jadi tertohok sendiri, "Apalagi aku, kan aku yang minta kamu untuk rahasiain ini."
Setelah itu suasana di sana semakin canggung, ternyata obrolan dengan topik ini cukup membuat hati tidak nyaman. Bukan ribut besar, tapi perbedaan pendapat dan isi hati itu yang membuat mereka tidak menyatu.
"Sudah malam, tidur lah," perintah Candra pada istrinya itu, Ibu hamil kan harus tidur cukup.
"Iya, selamat malam."
Dengan perhatiannya Candra pun sampai menyelimuti Rania sampai leher. Tetapi Candra tidak pergi, sedang memperhatikan perut perempuan itu yang terlihat bulat dan mulai besar. Perlahan sebelah tangannya terulur menyentuh, dan mengusapnya pelan.
"Apa dia sudah menendang?" tanya Candra penasaran.
"Belum, kan baginya masih kecil," jawab Rania. Merasa geli sendiri saat Candra menanyakan hal itu, bentuk bayinya saja masih belum sempurna.
"Nanti kalau dia nendang, beritahu aku ya."
"Haha iya, memangnya kenapa?"
"Bukan cuman Mas, tapi aku juga," sahut Rania sambil membalas senyumannya.
Candra lalu mematikan lampu utama dan naik ke atas ranjang, berbaring di sebelah Rania. Saat Candra bergeser untuk memeluknya, perempuan itu hanya diam tidak bereaksi apapun. Candra tanpa sadar tersenyum tipis, reaksi Rania ini sangat berbeda sekali dengan Livia yang selalu menolak.
"Mas maaf ya kalau kedatangan Nenek malah buat repot di sini," ucap Rania pelan namun masih bisa didengar.
"Hei kok ngomongnya begitu? Enggak kok," ucap Candra meluruskan, perempuan itu salah paham dan berlebihan.
"Tapi kita sampai harus berakting begitu, aku paling gak tega sama Kak Livia. "
Sebenarnya Candra pun sama tidak tega, tapi melihat reaksi Livia tadi saja terlihat santai dan seperti tidak terbebani, sepertinya Livia baik-baik saja. Hanya saja Candra pun tidak bisa memastikan karena ekspresi wajah Livia itu selalu datar, sulit membaca isi hatinya.
"Besok ajak Nenek jalan-jalan, kamu mau?" tawar Candra. Kasihan juga Nek Ima kalau selama di Jakarta hanya di rumah, Rania juga bisa sekalian keluar karena Nek Ima akan menjaganya.
__ADS_1
"Beneran Mas?" tanya Rania sambil menengadahkan kepalanya menatap Candra.
"Iya, kamu mau jalan-jalan kemana emangnya?"
"Gak tahu, aku gak tahu tempat bagus di Jakarta. Selama ini kan selalu di rumah."
Kalau dipikir sebenarnya kasihan juga istrinya yang satu ini, dari awal datang sampai sekarang hamil lima bulan tidak suka keluar. Rania mungkin menginginkannya, tapi Candra yang tidak mengizinkan dengan alasan terlalu khawatir dengan kandungannya.
"Kalau misal mau ke tempat wisata begitu ditemenin salah satu pelayan ya, biar dia jagain kamu sama Nenek," ucap Candra memberitahu.
"Iya Mas, jadi boleh besok?"
"Boleh lah, pergi aja. Tapi maaf ya aku gak bisa temenin, soalnya kan aku kerja."
"Iya gak papa kok." Lagi pula Rania tidak manja dengan meminta Candra pun harus ikut, ada Neneknya saja sudah cukup.
Keduanya pun memejamkan mata mencoba tidur, dan dengan mudahnya terlelap sanking terlalu nyaman tidur bersama. Di pukul dua dini harinya, Rania tidak sengaja terbangun karena merasa haus. Sebenarnya Ia malas ke dapur dan ingin minta bantuan suaminya saja, tapi melihat Candra yang dengan pulasnya tidur membuat Rania tidak tega membangunkan.
"Aduh kamu ini manja banget sayang," gunam Rania pada perut di bayinya. Untung saja bukan ngidam yang aneh-aneh, hanya ingin minum jus.
Suasana rumah dini hari itu temaram, tidak banyak lampu dinyalakan. Saat memasuki dapur, Rania sedikit tersentak melihat bayangan seseorang yang duduk di meja makan. Di sebelah sana memang agak gelap, tapi kalau diperhatikan lebih jelas itu adalah Livia.
"Jadi kapan kau ke Indonesia? Masih lama juga ya, tidak bisakah secepatnya?" Livia lalu tertawa kecil, "Kalau memang benar aku merindukanmu kenapa?"
Rania sebenarnya tidak mau menguping begini, tapi untuk masuk ke dapur rasanya jadi canggung sendiri dan khawatir mengganggu Livia yang sepertinya sedang ber teleponan itu. Rania juga tidak terlalu peduli dengan percakapan mereka yang terasa mengganjal itu.
Trak!
Karena tidak hati-hati, Rania sampai menyenggol sebuah hiasan kecil di meja. Rania pun membungkukan badannya dengan hati-hati untuk membawa barang itu dan meletakannya kembali di tempat.
"Rania, kamu sedang apa?"
Rania repleks menoleh melihat kedatangan Livia, ternyata Ia berhasil memancing perempuan itu. Rania jadi gugup karena khawatir dianggap sedang menguping, "A-aku mau ke dapur, haus," jawabnya sambil tersenyum kikuk.
"Oh gitu, kamu kebangun ya?"
__ADS_1
"Iya, kalau Kakak juga?"
"Enggak, aku belum tidur," jawab Livia.