Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Tidak Bisa Menebak


__ADS_3

"Ini rumah siapa?" tanya Rania saat mobil masuk ke sebuah gerbang.


"Rumah aku lah," jawab Leon.


"Berarti di dalam ada Mama kamu dong? Gimana kalau Mama kamu tahu?" tanya Rania panik. Bisa-bisa nanti Ia langsung di laporkan pada Candra.


"Tenang aja, Mama aku pasti udah tidur. Lagian besok juga dia mau ke luar kota beberapa hari, jadi kamu bisa di sini dulu," jawab Leon berusaha menenangkan.


Leon lalu turun dari mobil dan langsung membawakan tas besar Rania, kasihan melihat Ibu hamil itu kesusahan membawa barang berat. Leon lalu mengajak Rania masuk, perempuan itu sempat tidak mau tapi Ia paksa terus akhirnya mau juga.


Rumah Leon cukup besar dan bagus, ya walau tidak semewah rumah Candra. Pria itu mengajaknya ke sebuah kamar tamu yang ada di belakang. Posisinya memang di belakang sekali, jadi sepertinya Gina pun tidak akan tahu.


"Kamu bisa istirahat di sini," ujar Leon.


Rania memperhatikan sekitar kamar itu, kamarnya tepat berhadapan dengan kolam renang dan menurutnya cukup nyaman. Rania tidak menyangka setelah dirinya kabur masih bisa tidur di tempat yang aman dan nyaman.


"Kenapa Leon?" tanya Rania pelan.


"Kenapa apanya?"


"Kenapa kamu mau bantu aku? Apa kamu lagi rencanain sesuatu lagi? Atau kamu buat drama seolah aku lagi ada main lagi sama kamu ke Candra?" tuduh Rania sambil membalikan badan menghadapnya.


"Terserah kamu saja Rania, aku capek jelasin dari tadi. Kamu gak mau percaya juga, tapi aku juga sadar diri kenapa kamu bisa se kecewa ini sama aku," kata Leon sambil menghela nafas berat.


Melihat ekspresi serius di wajah pria itu, membuat hati Rania sempat goyah. Ia tidak mau langsung percaya pada Leon, karena bisa saja pria itu kembali mempermainkan nya. Untuk sekarang Rania akan diamkan dulu, lihat saja besok apakah ada kejadian atau tidak.


"Sudah malam, kamu juga pasti ngantuk, tidurlah," ucap Leon.


"Hm."


"Kamar mandi ada di pojok, kamu bisa gunain yang di sana aja." Leon memberitahu karena khawatir perempuan itu kebingungan.


"Gimana kalau misal Mama kamu nemuin aku di sini?" tanya Rania khawatir.


"Aku akan cegah, aku akan jagain kamu. Besok jangan dulu keluar kamar sebelum aku kesini, ngerti?"


Rania mengangguk pelan, "Baiklah," ucapnya.


Sebelum pria itu pergi, Rania malah kembali memanggil namanya, "Terima kasih Leon."

__ADS_1


Rania juga tidak tahu kenapa sampai mengatakan ini, tapi setelah Ia berpikir lagi kehadiran pria itu sedikit membantunya. Tidak terbayang tanpa Leon, mungkin sekarang Rania sedang luntang-lantung di jalan. Tidak ada tempat tidur yang aman dan nyaman.


Memang Rania belum tahu apa maksud Leon membantunya, tapi Rania harap pria itu tidak membuat masalah lagi. Entah apa pertolongannya juga tulus atau tidak, sekarang Rania hanya ingin istirahat dulu karena merasa lelah.


"Sayang kita pulang ke desa besok aja ya, sekarang Mama capek banget," gumam Rania sambil mengelus perutnya.


Rania pun tidur dengan cukup nyenyak, dan baru pertama kalinya di esok hari Ia bangun kesiangan, yaitu jam enam pagi. Rania tidak berani keluar kamar, karena takut bertemu dengan Gina. Ia pun berusaha menahan rasa pipisnya, selain itu juga merasa haus dan lapar.


Tok tok!


"Rania ini aku," bisik seseorang dari luar.


Mengetahui jika itu adalah Leon, segera Rania pun membukakan pintunya. Pria itu tersenyum lebar kepadanya sambil masuk membawa nampan berisi makanan dan segelas air putih. Rania sampai menelan ludahnya kasar melihat sepiring nasi goreng yang menggugah selera.


"Kamu baru bangun?" tanya Leon memperhatikan wajah bantal perempuan itu.


"Iya aku bangun kesiangan," Jawab Rania.


"Mungkin kamu capek banget. Ya sudah sekarang sarapan dulu, pasti laper."


Rania sempat melirik ke arah pintu, "Aku boleh ke kamar mandi dulu gak? Gak kuat," ucapnya menahan malu.


Pria itu segera menyuruh Rania masuk ke kamar mandi, sedang dirinya berdiri di lorong rumah berjaga-jaga. Saat sedang asik bersantai, suara deringan di ponselnya mengalihkan perhatian. Itu dari Kakak perempuannya, segera Leon pun mengangkat nya.


"Hallo ada apa?" tanyanya langsung.


["Leon ada masalah, ini gawat."]


"Masalah apa? Kenapa terdengar panik begitu?" Leon juga jadi ikut khawatir.


["Kamu bisa bantu Kakak cari Rania? Dia tidak ada di rumah pagi ini, sudah tanya ke siapa pun gak ada yang tahu."]


Leon tersentak mendengar itu, ternyata ini lah masalah yang membuat Kakaknya terdengar cemas. Kalau saja Livia itu tahu jika Rania sedang bersamanya, Kira-kira bagaimana reaksinya?


"Jadi maksudnya Rania pergi?" tanya Leon.


["Sepertinya begitu, pakaiannya juga di lemari berkurang. Sekarang Candra sedang mencari nya."]


"Kenapa bisa?" tanya Leon sekalian, Rania juga kan belum menjelaskan.

__ADS_1


["Aku tidak tahu."]


Benarkah? Tetapi sepertinya masalah ini cukup rumit sampai Rania melarikan diri. Ternyata benar perempuan itu pergi diam-diam, pasti Livia dan Candra sedang cemas di sana. Leon semakin penasaran alasan kenapa Rania melarikan diri.


["Nanti kabari aku kalau kamu menemukan Rania, kalau bisa langsung bawa dia pulang."]


"Iya, sudah dulu."


Setelah panggilan berakhir, Leon malah melihat Mamanya yang menghampirinya. Detak jantungnya menjadi cepat, Leon pun langsung berusaha menahannya.


"Mau kemana Mah?" tanya Leon.


"Mau lihat kolam, kotor atau enggaknya. Nanti Mama mau nyuruh pembantu bersihin kolam pas Mama pergi," jawab Gina.


"Aku tadi lihat sih kolamnya masih bersih, mungkin nanti aja," sahut Leon.


"Oh gitu, ya sudah nanti aja. Kamu ngapain diem di sini? Gak sarapan?"


"Sebentar lagi, lagi ngadem aja."


"Ngadem kok di lorong," sindir Gina.


"Terserah aku ah," sahut Leon.


Gina menggelengkan kepalanya, "Mama mau berangkat sekarang, besok sore baru pulang. Kamu jangan nakal dan buat masalah ya?" nasihatnya.


"Ya elah Mah, aku bukan anak kecil lagi. Sudah sana pergi aja, Mama hati-hati," ucap Leon.


Setelah memastikan Mamanya itu benar-benar pergi, Leon pun kembali ke belakang dan masuk ke kamar itu. Ternyata Rania sudah di dalam, perempuan itu yang sepertinya ketahuan sudah makan lebih dulu sampai terdiam.


"Gak papa santai aja, lanjut makannya," ucap Leon. Melihat ekspresi terkejut Rania, membuat Leon terhibur karena lucu.


"Kamu gimana?" tanya Rania.


"Aku bisa makan di dalam, itu kan khusus aku bawain buat kamu," jawab Leon.


Leon lalu mengatakan jika Mamanya sudah berangkat, bisa melihat Rania bernafas lega mungkin sekarang bisa merasa tenang. Leon pun melaporkan jika dirinya tadi di telepon Livia.


"Dia tanyain kamu dan bilang sama aku kalau misal nemuin kamu harus langsung bawa pulang," kata Leon dengan ekspresi serius.

__ADS_1


"Terus apa kamu akan anterin aku ke sana?" tanya Rania.


__ADS_2