
"Elisa kamu apa-apaan sih?!" bentak Daffin.
Tubuh Elisa sampai tersentak mendengar nada suara Daffin yang tinggi, baru pertama kalinya Ia mendapat bentakan seperti itu. Dan tanpa bisa ditahan, kedua matanya mulai berkaca-kaca.
"Elisa aku--"
"Aku benci sama kamu!" pekik Elisa lalu berlari pergi dari sana.
Daffin ikut terkejut mendengar itu, tapi Ia mengerti jika sepertinya Elisa terlalu terkejut dibentaknya. Mau bagaimana lagi, Daffin hanya merasa sikap perempuan itu keterlaluan pada Cynthia.
Mengingat perempuan yang satu itu, Daffin pun langsung membantu Cynthia berdiri dengan menggendongnya dan mendudukan di kursi rodanya. Cynthia terlihat sesekali meringis, membuatnya jadi merasa bersalah.
"Apa ada yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang ya?" tanya Daffin.
"Gak usah, gue gak papa kok," jawab Cynthia sambil mengibaskan tangannya.
"Masa kamu gak papa? Kamu kan lagi lumpuh, tapi tadi malah di tarik jatuh sama Elisa. Maafin dia ya, aku juga kaget pas dia ngelakuin itu," ucap Daffin dari lubuk hati mewakilkan.
Padahal selama ini Elisa adalah orang yang lemah lembut, tapi Daffin merasa memang akhir-akhir ini sikap sahabatnya itu agak berbeda. Daffin tidak mengerti sendiri kenapa Elisa jadi berubah.
"Kayanya dia cemburu sama lo karena meluk gue tadi," celetuk Cynthia sambil tersenyum sinis.
Daffin menggeleng pelan, "Enggak mungkin dia cemburu, dia itu gak ada perasaan apapun sama aku," gumamnya.
"Masa? Terus kenapa tadi tingkahnya kaya orang yang cemburu?"
Entahlah, tapi Daffin tidak menganggap Elisa sampai ke tahap cemburu. Perempuan itu kan sekarang sedang tertarik pada Satria, sedang dirinya selama ini hanya selalu dianggap sebagai teman saja.
"Lo gak mau kejar dia?" tanya Cynthia sambil melirik ke belakang, yang sudah pasti tertuju pada Elisa.
"Sekarang aku lebih mentingin kamu, kamu beneran gak papa?" tanya Daffin bersikap dewasa.
Perhatian Daffin lalu teralih saat melihat telapak tangan Cynthia yang kotor, dengan perhatiannya Ia pun mengusapnya sampai bersih. Daffin lalu mengajaknya untuk masuk saja ke dalam rumah.
__ADS_1
Mendengar suara guntur di luar, membuat Daffin yakin jika sebentar lagi akan turun hujan. Memang sih hari ini mendung, belum ada cahaya matahari dari tadi pagi juga. Maklum saja sedang musim hujan.
"Apa kamu sering ditinggalin sendiri begini di rumah?" tanya Daffin.
"Sering kok, Nyokap gue emang jarang banget di rumah. Kalau dulu sih gak papa, tapi kalau sekarang gue bakal kerepotan karena kaki gue kan lumpuh," jawab Cynthia sambil menepuk kakinya.
"Maaf ya gara-gara aku--"
"Ck udahlah bosen banget gue denger lo minta maaf terus, lagian mungkin ini emang udah takdir. Tapi gue berharap sih semoga nanti bisa jalan lagi," sela Cynthia.
"Kamu tenang aja, aku akan terus temenin kamu sampai kamu bisa jalan normal lagi," ucap Daffin sambil tersenyum.
Tidak lama hujan pun turun juga, Daffin lalu beranjak untuk melihat keluar dari jendela. Tiba-tiba Ia kepikiran pada Elisa, dimana kira-kira sahabatnya itu sekarang ya? Daffin takut Elisa kehujanan.
"Lo mau cari dia? Sana pergi aja, pasti lo khawatir sama dia," kata Cynthia.
"Terus kalau aku pergi, kamu sama siapa?" Siang kan masih agak lama, Daffin juga tidak akan tenang meninggalkan Cynthia sendirian di rumah.
"Gak papa, gue kan cewek kuat jadi bisa lakuin sendiri. Udah sana pergi, nanti si cerewet itu makin ngambek lagi."
"Iya-iya."
Daffin pun keluar dari rumah itu, Ia berlari kecil menuju mobilnya dan memasukinya. Sebelum mengemudikan, Daffin akan menghubungi nomor Elisa terlebih dahulu, tapi sayangnya tidak diangkat walau aktif.
Daffin hanya berpikir mungkin saja Elisa sudah pulang dengan menaiki taxi, jadi Ia pun tidak perlu mencari. Tetapi beda lagi jika Elisa belum pulang, kalau begitu sekarang pasti sedang kehujanan dan diam di suatu tempat berteduh.
"Aduh Elisa kok gak diangkat sih? Dia pasti ngambek sekarang," gerutu Daffin.
Di ketiga kalinya akhirnya Daffin menyerah juga, akhirnya pria itu memutuskan untuk mencari Elisa. Daffin mengendarai mobilnya dengan pelan sambil terus memperhatikan sekitar jalanan.
Mobilnya lalu terhenti saat melihat siluet seseorang berteduh di bawah pohon. Elisa sendirian di sana sambil memeluk tubuhnya. Dedaunan pohon besar itu tidak mampu menampung air, tetap saja air hujan mengenai tubuhnya.
"Elisa!" panggil Daffin keluar dari mobil.
__ADS_1
Pria itu lalu berlari mendekat dan berdiri di sebelah Elisa. Tetapi Elisa langsung memalingkan wajahnya, Daffin hanya menghela nafas berat dan berusaha menyiapkan kata-kata untuk membujuk.
"Kenapa telepon dari aku gak diangkat?" tanya Daffin langsung.
"Untuk apa? Aku kira kamu gak akan peduli sama aku dan lebih mentingin dia," ucap Elisa ketus masih enggan menatap.
Daffin mengernyitkan keningnya, "Kamu ngomong apa sih? Tentu aja aku juga khawatir sama kamu. Apa kamu sekarang sudah mengakui kesalahan?"
"Kesalahan apa?" tanya Elisa balik.
"Kamu harus minta maaf sama Cynthia karena tadi sudah tarik dia jatuh. Kamu ini keterlaluan Elisa, dia kan sedang lumpuh!" omel Daffin.
Elisa lalu baru menatapnya, tapi dengan garang, "Aku gak mau minta maaf sama dia, sampai kapanpun juga!"
"Apa?"
"Emang dasar si Cynthia itu perempuan gatal, aku yakin dia lagi cari kesempatan di atas kelemahannya itu buat deketin kamu. Nanti bisa-bisa kamu juga masuk perangkap dia dan jatuh cinta," ucap Elisa bersungut-sungut.
"Kamu ngomong apa sih? Aneh," dengus Daffin, tidak habis pikir dengan tuduhan Elisa itu.
"Pokoknya kamu jangan terayu sama Cynthia, aku yakin dia deketin kamu karena cuman mau harta kamu aja Daffin. Dia itu kan orang miskin, terus--"
"Cukup Elisa, kamu itu terlalu berlebihan. Kamu kenapa sih akhir-akhir ini jadi berubah? Kamu gak kaya dulu Elisa," sela Daffin.
Elisa langsung dibuat terdiam mendengar itu, tatapannya pun menjadi sendu. Memang Ia pun menyadari jika sekarang dirinya lebih mudah terpancing emosi, tidak sesabar dulu lagi. Mungkin ini karena faktor perceraian kedua orang tuanya.
"Kamu gak akan tinggalin aku juga kan Daffin? Kaya kedua orang tua aku," tanya Elisa dengan suara serak seperti menahan tangis.
"Elisa aku--"
"Sekarang cuman kamu yang aku punya, aku cuman bisa bergantung sama kamu, gak ada yang bisa aku andalkan lagi," kata Elisa.
Merasa tidak tega, Daffin pun membawa Elisa ke pelukannya. Tidak lama Ia bisa mendengar isakan pelan di dadanya, Elisa menangis dengan keras. Daffin bisa mengerti psikis sahabatnya ini, seharusnya tadi Daffin pun tidak menyinggung hal itu.
__ADS_1
"Aku gak akan ke mana-mana Elisa, aku akan selalu di samping kamu," bisik Daffin.