
Livia lalu merengangkan pelukannya setelah sebelumnya menghapus air matanya. Ternyata Rania juga menangis, perempuan itu terlihat malu-malu sambil menghapus air matanya juga.
"Kamu mungkin butuh waktu berdua bicara dengan Candra, aku akan keluar sebentar," kata Livia.
"Tidak perlu Kak, aku--"
"Kamu jangan gugup, lagian dia juga sedang tidak sadar. Kapan lagi kan? Entah kapan kalian akan bertemu lagi," sela Livia. Ia tahu pasti Rania ada sedikit rasa kangen pada Candra.
Livia pun beranjak dari duduknya lalu keluar dari ruang rawat itu. Ia akan ke luar jalan-jalan sebentar mencari angin sekalian menenangkan hatinya yang tadi sempat sedih. Livia sangat berbesar hati memberikan ruang pada Rania.
Beralih kepada Rania, perempuan itu beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekat ke arah ranjang. Suara monitor detak jantung terdengar nyaring di sana, membuat perasaan Rania selalu cemas.
"Mas Candra, aku datang. Maaf aku sudah pergi begitu saja, apa Mas marah sama aku karena membawa bayinya pergi?" tanya Rania seorang diri.
Perlahan tangan Rania terulur menyentuh wajah Candra, terlihat ada beberapa luka di sana mungkin bekas kecelakaan. Rania mengusapi wajah pria itu pelan, tidak bisa berbohong hatinya membuncah merasa senang, bahkan bayinya pun sampai menendang kecil.
"Aku gak bisa pura-pura baik-baik aja setelah mengikhlaskan kamu, tapi aku juga gak bisa bertahan seperti ini terus. Kamu sudah berkali-kali mengecewakan aku, tapi anehnya aku gak bisa benci sama kamu," ujar Rania dengan suara seraknya.
Walaupun tidak membenci, tapi Rania bisa merasakan perasaan cintanya kepada Candra perlahan memudar. Apalagi mereka sudah lumayan lama berpisah, Rania pun sudah menikmati waktu sendirinya selama di desa.
"Seharusnya waktu itu kita tidak bertemu, dan kejadian itu pun tidak terjadi. Aku yakin kita akan bahagia dengan cara masing-masing. Tetapi kita tidak tahu rencana Tuhan, mungkin pertemuan kita pun ada maksudnya."
"Aku gak nyesel ketemu Mas Candra, banyak yang sudah aku pelajari selama ini. Terima kasih sudah menjadi suami yang siaga dan perhatian, aku gak tahu Mas melakukannya dengan ikhlas atau tidak, tapi aku menghargainya," ucap Rania panjang lebar.
Cukup banyak yang Rania ungkapkan, hatinya pun merasa lega begitu saja setelah bercerita. Entahlah apa Candra mendengarnya atau tidak, tapi Rania merasa nyaman seperti ini. Berbeda lagi kalau semisal Candra sadar, Rania malu.
"Aku harap setelah kita berpisah nanti, kita bisa menjalani hidup lebih bahagia. Aku juga akan berusaha merawat anak kita, ya walau tidak mungkin bisa sehebat kamu dalam memenuhi kebutuhan dia, tapi aku akan selalu berusaha keras."
Mendengar pintu ruang rawat terbuka, membuat Rania menoleh. Awalnya Ia pikir itu Livia yang sudah kembali, tapi ternyata itu Oma Amara. Detak jantung Rania kembali tidak beraturan, sekarang yang harus Ia hadapi adalah Oma Amara.
__ADS_1
"Rania, itu kamu?" tanya Amara sempat tidak percaya.
"Iya Oma, ini aku."
Amara terlihat tersenyum lega lalu memeluknya, "Ya ampun Rania, kamu ini dari mana saja? Oma khawatir banget sama kamu."
"Maaf Oma." Hanya itu saja yang bisa Rania katakan, tidak bisa menjelaskan lebih.
Amara meregangkan pelukannya lalu memperhatikan cucunya itu dalam, merasa perutnya pun semakin besar membuatnya senang sendiri karena itu berarti sebentar lagi cicitnya akan lahir.
"Katanya kamu pulang ke kampung kamu ya? Candra bilang kamu mau lahiran di sana. Kenapa gak di Jakarta?"
Kernyitan terlihat di kening Rania mendengar itu. Sepertinya Candra berbohong pada Oma, tidak mungkin juga berterus terang kalau dirinya melarikan diri. Haruskah Rania jujur saja?
"Aku memang pulang ke desa," sahut Rania.
"Oma gak dikabarin, jadi sedih deh."
"Alasan apa?"
Dengan berat hati Rania pun menjelaskan jika dirinya memutuskan akan berpisah dengan Candra. Rania tidak menjelaskan inti masalah sampai dirinya memutuskan mundur, Rania hanya beralasan sudah tidak bisa menjalani pernikahan seperti ini.
"Ka-kamu gak bercanda kan nak?" tanya Amara terkejut, sampai gagap.
Rania menggeleng pelan, "Enggak Oma, aku minta maaf," geleng nya.
"Apa Candra tidak adil selama ini? Atau ada masalah antara kamu dengan Livia?"
"Bukan Oma, mereka berdua baik kok sama aku. Maaf aku gak bisa jelasin dengan detail, tapi yang pasti aku merasa bisa lebih bahagia sendirian," jawab Rania sambil tersenyum.
__ADS_1
Rania lalu terkejut melihat Oma Amara yang tiba-tiba menangis, membuatnya panik sendiri. Rania jadi salah tingkah tidak tahu harus bagaimana, Ia malah mengipas-ngipasi wajah Amara dengan tangannya.
"Oma jangan nangis dong, kenapa nangis?" tanya Rania konyol.
Amara menepuk pelan tangannya, "Hiks kamu ini pakai tanya lagi, tentu saja Oma sedih karena kamu bilang akan berpisah dengan Candra. Oma itu sudah sayang sama kamu, kamu juga sudah jadi cucu Oma!" isaknya.
"Maaf Oma, tapi aku sudah tidak bisa lagi bersama Mas Candra."
"Ya sudah berikan alasan yang tepat kenapa kamu memutuskan berpisah?" tanya Amara mendesak, merasa alasan tadi tidak tepat.
"Aku gak bisa jelasin ini, tapi Oma bisa tanyakan nanti pada Mas Candra ya?" Rania hanya takut salah bicara dan malah membuat masalah baru.
"Kamu ini, Candra kan sedang koma mana mungkin dia bisa bicara," kesal Amara sedikit merengek.
"Makanya nanti saja, aku yakin Mas Candra juga sebentar lagi akan sadar. Oma bisa tanyakan semua pada dia, dia juga pasti tahu alasan aku minta cerai."
Jujur saja sebenarnya Rania agak gugup mengatakan ini kepada Oma Amara. Rania sempat khawatir dimarahi atau di kata-katai, tapi ternyata reaksi Oma Amara membuatnya terharu. Wanita paruh baya itu seperti tidak rela kehilangan dirinya.
"Sampai kapanpun aku gak akan pernah lupain Oma, terima kasih sudah baik selama ini sama aku. Gak papa kan kalau semisal nanti aku masih manggil Oma?" tanya Rania.
Amara mengangguk pelan sambil menahan air matanya, "Iya sayang, kamu juga selamanya akan jadi cucu Oma. Jaga diri kamu baik-baik, Oma sayang banget sama kamu."
"Aku juga."
Dan mereka pun kembali berpelukan, terlihat sama-sama enggan mengikhlaskan perpisahan ini karena keduanya memiliki hubungan yang baik. Tetapi semuanya sudah takdir, Amara berpikir lagi mungkin Rania pun butuh kebahagiaan lain.
"Lalu bagaimana dengan anak kamu?" tanya Amara baru teringat.
"Sepertinya aku akan melahirkan di sana, aku akan kabari Oma. Apa Oma akan datang ke sana?"
__ADS_1
"Oma akan usahakan, tapi Oma pasti datang kok. Masa saja Oma tidak menengok cicit Oma. Semoga kamu melahirkan dengan lancar ya, Oma akan selalu berdoa untuk kalian."
"Terima kasih Oma," ucap Rania terharu.