
Besok siangnya Daffin berencana mengajak Devina ke kontrakan Elisa, dari semalam adiknya itu merengek ingin bertemu sahabatnya itu katanya. Daffin sengaja tidak menghubungi Elisa lebih dulu, biar kejutan.
"Pas Kak Elisa bilang dia mau ikut Kakak ke Jakarta, aku makin sedih karena gak ada temen main lagi," ucap Devina bercerita.
Daffin yang sedang menyetir menoleh sekilas, "Jangan lebay deh, kan temen sekolah kamu masih banyak," sahutnya.
"Iya sih, tapi temen deket yang bisa main sampai di rumah gitu maksudnya," kata Devina.
"Nanti kamu kuliah juga mau di Jakarta? Mungkin Kakak juga sudah tinggal menetap di sini dan kerja di perusahaan Papa," tanya Daffin membujuk.
"Terserah Mama sama Papa sih, aku nurut-nurut aja karena yakin mereka bakal ngasih yang terbaik buat masa depan aku," jawab Devina.
Daffin merasa bangga mendengar itu, Ia pun mengusap puncak kepala Devina sebentar dan setelahnya mereka fokus dengan pikiran masing-masing. Ia dan adiknya ini memang anak yang berbakti.
Sesampainya di kontrakan Elisa, keduanya langsung turun. Terlihat ada banyak orang di sana, apalagi para perempuan yang langsung melirik Daffin. Di sana kan kawasan kontrakan khusus perempuan saja.
"Permisi Kak apa tamu boleh masuk?" tanya Daffin meminta izin.
"Kalau boleh tahu mau ketemu siapa emangnya?" tanya perempuan itu dengan ramahnya.
"Elisa, dia di kamar lantai dua dan belum lama ngontrak di sini," jawab Daffin.
"Oh Elisa ya, iya boleh tapi kata bu kost gak bisa lama-lama kalau laki-laki," katanya.
"Makasih ya Kak."
Daffin pun langsung menggandeng tangan Devina dan keduanya masuk ke kontrakan itu menuju lantai dua. Sepertinya para tamu sedang di bebaskan datang, jadi Daffin pun bisa masuk.
Baru saja akan mengetuk pintu kamar Elisa, pintu sudah terbuka dari dalam. Tetapi senyuman di bibir Daffin langsung menghilang melihat ternyata di dalam juga ada Satria.
"Kak Elisa!" panggil Devina keras.
Elisa terlihat berbinar melihat kehadiran remaja itu, dan kedua perempuan itu pun saling berpelukan dengan riang dan hebohnya khas perempuan.
"Ya ampun Devina, kapan kamu kesini? Kok gak bilang-bikang sih mau ke Jakarta?" tanya Elisa sambil merangkum wajah Devina.
"Hehehe sengaja aku gak bilang siapa-siapa, biar kejutan," jawab Devina.
__ADS_1
"Ck kamu bisa aja, tapi Kakak suka kejutan nya. Kamu ke Jakarta pasti mau liburan ya? Berarti bakalan lama dong di sini," tanya Elisa lagi.
"Iya liburan mungkin beberapa hari di sini, aku kangen sama Kakak."
Elisa mengerucutkan bibirnya lalu kembali memeluk remaja itu dengan erat, Ia pun sama merindukan Devina yang sudah Ia anggap adik kandungnya. Hubungan mereka sangat dekat sekali.
"Kakak sudah cantik wangi gini mau kemana?" tanya Devina sambil meregangkan pelukan.
Perhatian gadis remaja itu teralih pada seorang lelaki di balik punggung Elisa, "Loh itu siapa Kak?" tanyanya baru sadar.
Elisa sempat menoleh menatap Satria, "Em ini teman kelas Kakak, Satria juga sekelas kok sama Daffin," jawabnya.
Seringai menggoda terukir di bibir Devina, Ia pun menunjuk wajah memerah Elisa, "Bohong, pasti bukan cuman temen, kan? Apa pacar baru Kakak?" tanyanya.
Elisa menggeleng sambil tersenyum malu-malu, "Ih bukan, sudah ah jangan godain Kakak terus. "
"Tuh kan kalau salah tingkah gitu pasti bener, cie-cie punya pacar baru." Devina terus menggoda layaknya adik sesungguhnya.
Daffin yang melihat tingkah adiknya hanya menggelengkan kepala, memang Devina itu selalu saja bersikap menggoda begitu baik padanya maupun Elisa.
"Mau kemana nih?" tanyanya.
"Kemarin Elisa bilang dia pengen lihat pementasan gitu di musium, katanya belum pernah dia ke tempat begitu," jawab Satria.
"Kamu ya yang ngajak dia kesana?"
Satria hanya tersenyum merasa bingung juga harus menjelaskan, karena pasti akan panjang. Bukan Ia yang menawarkan, malah Elisa yang mengkode.
Awalnya Satria mengirim stroy instagram di tempat itu, Elisa pun langsung mengirim pesan kepadanya dan Satria yang peka pun langsung mengajak. Ia juga kan sudah janji akan mengajak perempuan itu keliling Jakarta.
"Kayanya Kak Elisa mau nge date ya? Hm kayanya aku salah waktu kesini," kata Devina mengerti suasana ini.
"Em apa kamu mau ikut?" tawar Elisa pada Devina.
"Enggak ah, aku gak mau jadi kambing di sana dan malah nontonin orang pacaran," celetuk Devina sambil menyeringai.
"Ih gak papa kok," ucap Elisa sambil tersenyum tertahan, merasa salah tingkah dari tadi terus digoda.
__ADS_1
Tetapi Devina tetap menolak dan memilih pulang saja dengan Kakaknya. Daffin juga tidak mau ber lama-lama di sana, karena dua orang itu pasti akan berangkat sekarang.
"Kalian hati-hati ya, Elisa kamu jangan pulang terlalu malam," nasihat Daffin.
"Ck aku bukan anak kecil," gerutu Elisa sok imut.
Ingin sekali Daffin meminta pada Satria untuk menjaga Elisa dengan baik, tapi Ia percaya temannya itu lelaki yang bertanggung jawab. Mungkin mereka juga sedang tahap pdkt, jadi Elisa pasti akan baik-baik saja.
Daffin dan Devina pun kembali ke mobil mereka, lalu pergi dari sana. Untuk beberapa saat, suasana di mobil terasa hening. Sesekali Devina nelirik Kakaknya yang sedang menyetir.
"Kakak gak papa kan?" tanya Devina.
"Emangnya kenapa?" tanya Daffin balik.
"Kakak pasti sakit hati ya lihat Kak Elisa punya pacar lagi? Salah Kakak sendiri yang gak mau jujur, Kakak selalu mendam sendirian," celetuk Devina setengah meledek, tapi Ia tetap merasa kasihan.
Daffin hanya terkekeh kecil, "Kamu bicara apa sih? Dasar anak kecil. "
Devina hanya mengerucutkan bibirnya dikatai seperti itu, tapi Ia tahu Kakaknya itu hanya sedang menutupi perasaan sedihnya.
Devina memang peka dan merasa yakin jika Kakak laki-laki nya itu ada perasaan pada Kak Elisa. Tetapi Daffin itu terlalu malu mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya.
Sebenarnya Devina bisa saja langsung beritahu Elisa, tapi Devina malah takut image Kakaknya jadi tidak gentle karena malah lewat dirinya. Inginnya Daffin yang jujur.
"Gimana kalau kita juga jalan-jalan?" tanya Daffin sambil menatap Devina.
"Jalan-jalan kemana?" tanya Devina. Ia sih mau-mau saja, sekalian menemani Kakaknya yang sedang galau itu.
"Kemana aja, banyak tempat bagus di Jakarta. Tapi sebelum itu kita ke rumah seseorang dulu ya, ajak dia," kata Daffin yang terpikirkan untuk mengajak Cynthia.
"Rumah siapa? Kakak mau ajak siapa?"
"Temen sekolah, dia pasti seneng kita ajak jalan-jalan. Biar lebih ramai juga," jawab Daffin.
"Boleh deh."
Daffin juga merasa harus memperkenalkan Cynthia kepada adiknya ini, bisa saja mereka juga menjadi akrab.
__ADS_1