Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Mencoba Berdamai


__ADS_3

Tok tok!


"Apa aku boleh bergabung?" tanya Livia di ambang pintu.


Rania langsung tersenyum lebar, "Silahkan masuk Kak," jawabnya.


Pandangan Livia langsung tertuju pada balita tampan di pangkuan Candra. Ia pun meminta ingin menggendong, Candra sempat bilang kalau Daffin akan menangis, tapi Livia tetap ingin menggendongnya.


"Hai anak ganteng, kamu kenapa ganteng banget sih? Lucu lagi, ini pipi kamu tembem banget," ucap Livia mengajak Daffin mengobrol.


Merasakan geli karena pipinya terus di usap-usap, membuat Daffin tertawa kecil membuat semua di sana pun merasa gemas. Livia ternyata dengan mudahnya bisa mendapatkan hati anak balita itu, seperti orang yang sudah berpengalaman juga.


"Ini tidak adil, kenapa Daffin tidak menangis pas digendong kamu?" tanya Candra pada sang istri, hatinya merasa cemburu.


Livia memeletkan lidahnya pada Candra, "Mungkin Daffin tahu kalau aku orang yang baik dan penyayang, makanya dia langsung suka sama aku," jawabnya sombong.


"Jadi maksud kamu aku orang jahat? Hiks tapi kan aku Papanya Daffin," ujar Candra pura-pura sedih.


Memang sih ada perasaan cemburu karena Daffin tidak bisa langsung nyaman bersamanya. Tetapi melihat Livia pun bisa sedekat itu dengan putranya, membuat Candra juga senang. Mereka sudah menantikan ini bertahun-tahun.


"Kalian malam ini mau menginap kan?" tanya Rania.


"Apa tidak merepotkan kamu Rania?" tanya Livia tidak enak.


"Tidak kok, ada satu kamar kosong, kalian bisa istirahat di sana. Jangan buru-buru pulang, nikmati waktu di sini dulu." Kata Rania sambil tersenyum.


Saat awal kedatangan mereka, Rania memang sempat khawatir mereka melakukan tindakan aneh-aneh. Tetapi setelah perbincangan tadi dengan Candra, perasaan Rania jadi lebih tenang dan yakin mereka juga tidak sejahat itu.


Rania lalu memutuskan keluar kamar, memberikan pasangan suami istri itu waktu sambil bermain dengan Daffin. Rania akan menghubungi Neneknya, memberitahu ada Candra dan Livia di rumahnya. Sepertinya Neneknya sudah tidur, jadi Rania hanya lewat pesan. Setelah itu Rania juga menelepon Yoga.


["Hm ada apa Rania?"] tanya Yoga di sebrang sana dengan suara seraknya.


"Maaf Mas aku pasti bangunin kamu ya?"


["Gak papa, emangnya ada apa? Kamu gak papa kan?"]

__ADS_1


Pria itu memang selalu khawatiran kepadanya, membuat Rania tersenyum tipis, "Aku gak papa kok, aku cuman mau ngasih tahu sesuatu. Mungkin sudah mau setengah jam Mas Candra dan Kak Livia ada di rumah."


["Apa? Kamu gak bohong, kan?"] Suara Yoga jadi agak tinggi, mungkin terkejut.


"Aku juga kaget pas mereka tiba-tiba datang malam begini. Sekarang mereka lagi main sama Daffin."


["Tunggu, aku kesana sekarang ya?"]


"Eh jangan Mas, sudah malam. Besok aja kesininya, Mas istirahat aja."


["Enggak-enggak, aku itu khawatir sama kamu dan Daffin. Gimana kalau Pak Candra bersikap aneh-aneh sama kamu?"]


"Aneh gimana?"


["Em misalnya bawa Daffin gitu?"] Juga mendekati Rania, Yoga kan jadi cemburu walau hanya membayangkan saja.


"Tadi aku sudah bicara panjang lebar dengan Mas Candra, dia bilang gak akan melakukan itu. Kedatangannya kesini selain mau ketemu Daffin, juga ngasih surat perceraian kita."


["Kamu serius?"]


["Jaga diri kamu baik-baik, pagi-pagi aku akan langsung ke sana."]


"Iya Mas."


Sekarang perasaan Rania lebih lega setelah memberitahu Neneknya dan Yoga. Rania juga tidak merasakan rasa cemas itu lagi di rumah ini walau ada Livia dan Candra, lagi pula mereka bukan orang jahat dan Rania yakin tidak akan bertindak di luar batas.


"Rania, sepertinya Daffin ngantuk, dia merengek terus," ucap Livia memberitahu.


"Oh iya sebentar."


Saat Rania masuk ke kamarnya lagi, terlihat Candra yang sedang mengayun-ayun Daffin di gendongannya. Tetapi sayangnya tidak berhasil, karena anak itu masih merengek. Rania pun langsung mengambil alih, dan ternyata berhasil.


"Ayo keluar," ajak Livia sambil menepuk bahu suaminya.


"Iya."

__ADS_1


Entahlah apa hubungannya dengan Rania sampai sekarang masih berstatus suami istri atau bukan, tapi yang pasti mereka sudah tidak bertemu sangat lama dan berpisah jarak. Candra merasa sudah tidak punya berhak lagi kepada Rania, jadi harus menjaga batasan.


"Aku baru pertama kali ke pedesaan begini, ternyata bener ya kalau malam dingin banget," ucap Livia yang memeluk tubuhnya, padahal sudah pakai jaket.


"Aku juga baru lagi kesini, padahal dulu pernah tinggal sebulan dan mulai terbiasa sama cuacanya," sahut Candra.


"Kamu lebih nyaman tinggal dimana?"


"Sebenarnya kalau masalah lingkungan lebih enak di desa, soalnya masih asri dan alami. Tapi di sini serba ketinggalan, apa-apa susah jadi lebih pilih tinggal di kota," jawab Candra yang diangguki Livia.


Tidak lama Rania pun keluar dari kamarnya, memberitahu jika Daffin sudah tidur. Perempuan itu lalu mengajak pasangan suami istri itu ke salah satu kamar kosong, untungnya selalu dibersihkan jadi tidak kotor.


"Maaf ya kalau kamarnya sederhana," ucap Rania tidak enak, perempuan itu sedang merapihkan ranjang.


"Gak papa, malahan kita makasih sudah diijinin nginep," kata Livia.


Rania lalu menoleh ke belakang, "Kenapa gak istirahat di Villa saja?" tanyanya bingung.


"Sudah terlalu malam, lumayan takut di jalan. Mungkin besok kita akan ke Villa," jawab Candra sambil mengusap tengkuknya.


Selain itu kan Candra ingin berlama-lama menghabiskan waktu dengan Daffin, rasanya sekarang satu detik saja tidak mau terpisahkan. Candra inginnya anak itu bisa menempel padanya, agar tahu jika dirinya adalah Papa kandungnya.


"Nenek kebetulan lagi gak di sini, kayanya besok kesini," ujar Rania.


"Iya nanti kita akan ketemu Nek Ima dulu." Candra sedikit gugup, hubungannya dengan wanita paruh baya itu kan merenggang.


"Aku juga sudah kabari Mas Yoga," lanjut Rania.


Candra mengangguk pelan dengan perasaan campur aduk nya. Ingin sekali bertanya kenapa perempuan itu menelepon Yoga? Tetapi kedua orang itu kan katanya ada hubungan spesial, jadi sikap Rania itu wajar. Mungkin untuk berjaga-jaga juga.


"Ya sudah ini juga sudah larut malam, kalian juga pasti capek. Selamat malam," ucap Rania sambil tersenyum.


Setelah keluar dari kamar itu, Rania langsung menghela nafasnya lega. Ia memang sudah tidak secemas tadi, tapi tetap saja berdegup karena di rumahnya ada kedatangan tamu yang tidak terduga itu. Rania hanya harus bersikap tenang, jangan terlalu panik.


"Kira-kira Mas Candra dan Kak Livia mau berapa lama ya di sini?" tanya Rania seorang diri.

__ADS_1


Tidak mungkin pulang ke Jakarta dalam waktu cepat, apalagi Candra terlihat sangat berusaha keras mendekatkan diri dengan Daffin. Rania benar-benar harus menguatkan hati.


__ADS_2