Ternyata Aku Istri Keduanya

Ternyata Aku Istri Keduanya
Merasa Cukup


__ADS_3

Candra memutuskan akan beberapa hari lagi di kampung itu, sekalian juga mengecek pabrik miliknya, juga perkembangan bisnisnya yang ada perubahan atau tidak. Walau memang sekarang jadi terhambat karena kakinya yang tidak normal, tapi Candra tetap semangat bekerja.


"Sebenarnya aku ditawarin kontrak kerja untuk majalah bulan depan, tapi aku tolak," ujar Livia menceritakan.


Candra yang sedang menyeruput kopinya sampai menghentikan, "Kenapa? Bukannya kamu senang kalau bisa masuk sampul majalah ternama?"


"Karena aku ikut kamu kesini, jadi aku batalin kontrak," jawab Livia terlihat santai.


"Kenapa kamu gak bilang dari awal? Kalau tahu begitu aku mungkin akan nanti aja kesini nya."


"Aku gak tega lihat kamu yang udah gak bisa nahan rindu sama anak kamu. Aku tahu perasaan kamu, pasti besar banget harapan kamu pengen ketemu Daffin."


Tatapan Candra menjadi sendu, Ia pun menarik Livia dan memeluknya. Merasa senang dan terharu di waktu bersamaan karena istrinya ini sangat pengertian. Sifat Livia berubah menjadi lebih terbuka semenjak Ia sakit, sekarang Livia jadi lebih perhatian.


"Makasih ya, kamu sampai ngorbanin pekerjaan kamu cuman untuk nemenin aku kesini," ucap Candra dari dalam hati.


Candra tahu Livia itu tidak akan tega membiarkannya pergi sendirian, apalagi kondisi kakinya yang masih belum bisa berjalan normal. Istrinya itu memang selama ini yang mengurusnya. Sekarang Candra tahu, jika memiliki Livia saja sudah cukup.


"Memangnya kamu gak ada perasaan cemburu pas aku bilang akan kesini? Memang tujuan aku untuk ketemu Daffin, tapi pasti ketemu Rania juga," tanya Candra penasaran.


"Ada sih perasaan cemburu, tapi aku gak bisa egois dan harus tahu situasi. Lagi pula kamu udah mutusin akan pisah dengan dia kan?" tanya Livia balik.


Candra mengangguk pelan, "Iya aku sudah mutusin ini, kita bisa bahagia dengan pasangan masing-masing."


Candra punya Livia dan Rania memiliki Yoga, sepertinya jodoh mereka memang itu yang sudah di takdirkan Tuhan. Dulu rumah tangganya rumit sekali, Candra merasa sekarang lebih tenang semenjak Rania pergi.


Walau begitu bukan berarti Candra tidak ada perasaan sedih saat ditinggal Rania, apalagi perempuan itu membawa anaknya. Tetapi setelah Candra mengalami musibah buruk itu, Candra mulai berpikir dewasa dan bijak.


"Terus gimana sama Daffin? Kamu akan bawa dia ke Jakarta?" tanya Livia.


"Enggak akan, aku gak setega itu bawa Daffin dari Rania."

__ADS_1


"Bukannya dulu kamu yang buat kontrak begitu?" tanya Livia meledek, sebelah sudut bibirnya terangkat.


Memang dulu Candra membuat surat kontrak itu tanpa berpikir dulu, sekarang kalau diingat lagi dirinya sangat kejam jika sampai melakukannya. Menceraikan Rania lalu membawa anaknya. Tidak punya hati sekali.


"Aku sekarang sudah tobat," celetuk Candra yang mengundang tawa dari Livia.


***


Beralih pada Rania dan Yoga, sekarang mereka sedang jalan-jalan ke sebuah danau yang ada di dekat bukit. Sekarang sedang hari libur, jadi Yoga bisa ada waktu menghabiskan waktu dengan perempuan yang dicintainya itu. Tentu saja mereka juga mengajak Daffin.


"Katanya Pak Candra dan Bu Livia bakalan pulang besok ya?" tanya Yoga memulai obrolan.


"Iya katanya, mereka juga udah ngasih tahu aku sih," sahut Rania.


Keduanya sedang berjalan menuju danau itu, memang harus melewati dahulu hutan yang rimbun dengan pepohonan. Untung saja Yoga yang baik itu menggendong Daffin, jadi Rania tidak keberatan.


"Kamu gak sedih bakalan jauhan lagi sama Pak Candra?" tanya Yoga.


Rania menoleh, "Kenapa aku sedih?" tanyanya balik.


"Enggak, lagian kan sekarang aku sama Mas Candra sudah bukan siapa-siapa lagi, dulu itu cuman kisah masa lalu. Bukannya sekarang harus fokus sama masa depan kita ya?"


Saat Rania menatapnya dalam dengan senyuman manis begitu, membuat Yoga tidak bisa menyembunyikan senyumannya lagi. Ia pun menggoyangan tautan tangan mereka, sanking tidak bisa menyembunyikan rasa senang.


Setelah perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka sampai juga di danau itu. Di sana memang sepi, tapi pemandangannya sangat indah. Keduanya lalu saling membantu menggelar tikar dan menata beberapa makanan yang dibekal.


"Daffin tidur dari tadi ya?" tanya Rania sambil melirik putranya di gendongan Yoga.


"Iya, dia ini memang kebluk. Tapi gak papa, Daffin pengertian karena biarin kita ada waktu buat pacaran," celetuk Yoga sambil terkekeh kecil.


"Dasar."

__ADS_1


Biasanya mereka memang sering jalan, walau tidak setiap pekan karena Yoga yang selalu sibuk. Kali ini mereka akan piknik di sini, Rania juga sudah membuat beberapa bekal di rumah. Kimbab, gimmari dan jus mangga.


"Kamu bisa juga ternyata buat makanan Korea begini, kelihatan enak," puji Yoga sambil mendudukan diri di sebelah Rania.


"Hehe iya, kebetulan beberapa hari lalu paketnya baru sampai. Aku coba aja masak, semoga suka."


"Apapun masakan kamu sudah pasti aku suka," sahit Yoga bersemangat.


Keduanya pun mulai menyantap makanan itu, walau terlihat sedikit tapi ternyata lumayan kenyang. Daffin sendiri di tidurkan di sebuah keranjang khusus, jadi tidak kepanasan dan bisa tidur dengan nyenyak.


"Kata Mas Candra sidang perceraian kita sedang di laksanakan, dia yang akan urus. Nanti aku akan terus di kabari dia gimana kelanjutan prosesnya," cerita Rania.


"Iya soalnya sidangnya di Jakarta kan?" tanya Yoga.


"Iya, aku gak bisa hadir jadi aku serahin semuanya ke Mas Candra aja," angguk Rania.


"Terus apa aja yang kamu dapat dari dia?"


"Maksudnya?" tanya Rania belum ngeh.


"Maksudnya kompensasi setelah kalian berpisah, pasti kamu akan dapat banyak dari Pak Candra. Dia kan pengusaha, gak pelit juga."


Rania mengangguk pelan baru mengerti sebenarnya Ia dan Candra pun sudah membicarakan ini beberapa hari lalu. Pria itu bilang setiap bulan akan mengirimkan uang senilai sepuluh juta kepadanya, juga beberapa asetnya di kampung ini seperti Villa dan perkebunan beberapa hektar.


Saat mendengar itu Rania tentu saja terkejut dan berpikir terlalu berlebihan sampai menolak. Tetapi Candra bilang lagi, kalau semua itu tidak ada bandingannya di banding Rania yang sudah merawat Daffin dengan baik. Juga sebagai tebusan permintaan maaf Candra atas sikapnya selama menjadi suami.


"Kamu memang berhak dapat itu Rania, untungnya lagi Pak Candra itu orang yang tahu diri," ucap Yoga.


"Aku bilang akan ngasih semua pemberian dia atas nama Daffin saja, apalagi perkebunan itu," sahut Rania.


"Ide bagus, mungkin aja nanti Daffin bisa lanjutin usahanya," angguk Yoga setuju.

__ADS_1


Pria itu menoleh saat tidak ada tanggapan apalagi dari Rania, terlihat perempuan itu seperti sedang melamun. Yoga tahu Rania sedang galau dengan hubungannya bersama Candra. Pasti lah ada rasa sedih, tapi Yoga akan selalu bersamanya dan menemaninya.


"Rania, aku punya sesuatu untuk kamu," kata Yoga membuat lamunan perempuan itu terhenti.


__ADS_2